Tahun 2026 memang sudah berlalu lebih dari satu bulan. Apakah istri kamu sudah terlambat bulan? Lho, malah tanya yang ini.
Biasanya, dari tahun ke tahun, berlalunya tahun memang tidak terasa. Baru merasa di awal tahun, eh, kok sudah di pertengahan tahun. Malah tiba-tiba sudah di akhir tahun saja dan mau tahun baru lagi.
Mungkin juga tahun ini akan begitu. Pola yang sama dan terus terulang. Namun, apakah kamu sebagai seorang ayah akan membiarkan hal itu sama seperti tahun lalu?
Apakah tahun 2026 ini akan kamu jadikan sama seperti tahun 1906 waktu kamu belum lahir? Wuih, perbandingannya jauh banget, ya!
Sebelum kamu merasa bahwa tahun 2026 ini cepat berlalu, kamu perlu melakukan sesuatu di bawah ini secara diam-diam.
Namanya diam-diam, tidak perlu kamu sampaikan ke Presiden Prabowo, terus nanti dia pidato lagi, deh! Tidak perlu seperti itu, cukup kamu sendiri yang tahu dan tentu saja Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Mari coba kita lihat, apa yang bisa dilakukan secara diam-diam di tahun 2026 ini?
5 Hal Tanpa Harus Diketahui Orang Lain
Khawatirnya begini, kalau kamu ungkapkan rencana-rencanamu, nanti jadinya malah gagal. Soalnya, omongan orang ‘kan memang susah dijaga.
Apalagi bau mulutnya, bisa lebih tidak terjaga lagi. Menyikat gigi pakai sikat gigi saja jarang, apalagi pakai sikat WC, lebih tidak pernah lagi. Ya ‘kan?
1. Perbaiki Hubungan dengan Allah

Ini yang pertama bisa kamu lakukan di tahun 2026 ini, terlebih mulai di awal tahun. Memperbaiki hubungan dengan Allah adalah hal yang krusial karena menyangkut kehidupanmu, begitu pula istri-istri dan anakmu, eh, terbalik, istri dan anak-anakmu.
Kamu bisa mulai dengan rajin sholat 5 waktu berjamaah di masjid. Selama ini kamu mungkin sholatnya bolong-bolong, bahkan dengan sarung bolong. Eh, kalau sarungnya tidak bolong, tidak bisa dipakai tuh!
Standar kehidupan seorang muslim sekarang memang turun drastis. Orang yang rajin sholat 5 waktu ke masjid dianggap alim. Padahal, ‘kan itu sudah kewajiban, ya!
Sholat adalah tiang agama, lah kalau rumah tidak ada tiangnya, berarti itu ‘kan rumah tanpa tiang. Eh, ini berarti rumah itu akan mudah roboh, meskipun dulunya si bapak suka sama film Robohcop.
Ibadah sholat dulu diperbaiki, baru ke yang lainnya. Soalnya, sholat ini pada dasarnya tidak perlu biaya besar, bahkan gratis.
Kecuali, ya, kalau kamu ingin sholat berjamaah 5 waktu bolak-balik ke Masjidil Haram, sementara kamu ada di Indonesia. Itu lebih menguras biaya, plus tenaga.
2. Kurangi Distraksi

Era media sosial memang mendatangkan distraksi yang luar biasa. Centang-centung, bunyi notifikasi HP yang seakan-akan tidak mau berhenti, layaknya MBG, Lho, eh.
Baru bangun tidur saja, sudah langsung ngecek HP. Mau sholat, cek dulu. Sudah sholat, cek lagi. Tangan ini seakan-akan memang ada magnetnya ke barang pipih gepeng itu.
Tentu saja, ini sangat mengganggu kehidupan kamu sebagai seorang ayah. Waktu kamu sedang ingin mendengarkan cerita anak, eh, ada notifikasi dari bosmu, “Cepetan ke kantor sekarang!”
Anakmu pun harus menelan ludah karena cerita serunya tadi pagi di sekolah menjadi dipendam sendiri. Kalau panggilan dari bos, sih, memang bisa saja muncul tiba-tiba.
Namun, yang sebenarnya rutin adalah notifikasi dari berbagai macam grup WA yang kamu ikuti. Hampir semuanya mendatangkan pemberitahuan, tanpa pakai pemberitempean.
Begitu juga dengan di Telegram, Facebook, TikTok, Instagram, ah, pokoknya banyak, deh. Itu seakan-akan membuat kamu jadi sayang sekali untuk dilewatkan.
Kamu harus buka satu persatu dan pada akhirnya waktumu terbuang, habis untuk membuka semua itu.
Mulai sekarang, coba kurangi distraksi itu. Pilih waktu yang benar-benar bebas distraksi HP. Buka HP hanya di jam-jam tertentu.
Atau tunggu nanti saja buka HP-nya. Misalnya, ketika Dajjal muncul. Wah, kelamaan juga, ya!
3. Telan Hal-hal yang Membuat Diri Kamu Naik
Dari berbagai notifikasi HP, seberapa banyak yang penting, sih? Apakah semuanya penting? Saya rasa, tidaklah. Malah sebagian besar tidak berguna.
Waktu yang seharusnya bisa kamu pakai untuk meningkatkan kualitas diri jadi makin berkurang dan jadi makin sempit. Padahal, justru ilmu-ilmu baru lebih kamu butuhkan.
Apalagi kamu sebagai seorang ayah, mesti mulai berpikir untuk menambah penghasilan keluarga misalnya, atau mengupgrade diri karena permasalahan keluarga bisa makin kompleks ke depannya, meskipun kamu tinggal di kompleks perumahan.
Hal-hal baru perlu kamu masukkan, perlu kamu telan agar pikiran, hati, dan jiwa kamu makin dewasa, matang, dan positif. Bisa kamu pelajari psikologi keluarga, parenting, bisnis online, maupun hal-hal lain yang lebih bermanfaat.
Rugi dong kalau kamu makin tambah usia, pengetahuan kamu tidak tambah meningkat. Malah lemak perut yang meningkat. Perut buncit, itu membuat istri kamu jadi lebih rajin mencubit.
4. Kerjakan yang Menjadi Tujuan Hidup Kamu

Apakah hidup kamu selama ini bagaikan air sungai yang mengalir? Ya, bisa saja, sih, seperti air sungai yang mengalir. Namun, sayangnya tahi juga ikut mengalir di air sungai itu, he.
Mungkin ketika kamu masih remaja, tujuan hidup itu sebatas dapat nilai ulangan bagus, lulus ujian, naik kelas, tidak dimarahi orang tua, dan kalau bisa, dapat hadiah dari guru karena masuk 3 besar.
Namun, sekarang ketika kamu sudah menjadi seorang ayah, tujuan hidup itu lebih luas lagi. Sudah ada istri dan anak-anak, itu masuk menjadi tujuan hidupmu juga.
Apakah anak-anak kamu akan dibiarkan begitu saja? Apakah kamu sebagai ayah mereka tidak mau berpikir tentang kehidupan mereka? Semoga saja tidak, ya, sebab anak-anak kamu memang menjadi bagian dari tanggung jawabmu.
Tujuan hidup ingin anak-anak lebih pintar dengan memasukkan ke sekolah terbaik, pastilah butuh modal. Pastilah butuh biaya. Nah, darimana biaya itu?
Sulit memang kita minta ke Menteri Purbaya, “Bagi uangnya dong, Om!”
Makanya, kamu lebih bagus berharap ke diri kamu sendiri, setelah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Soalnya, tidak banyak orang yang akan menolong kamu. Mereka ‘kan sudah punya urusan sendiri-sendiri dan mereka juga sibuk dengan hidup mereka.
Kerjakan tujuan hidupmu, biarkan orang lain tidak perlu tahu, sampai mereka melihat hasilnya. Oke ‘kan?
5. Lebih Sayang ke Diri Sendiri
Siapa yang akan lebih sayang ke dirimu sendiri, melebihi kamu sendiri? Kamu yang selama ini membawa tubuhmu ke mana-mana, tidak pernah ditinggal di rumah, sementara kamu ke kantor bukan?
Nah, diri yang kamu bawa terus itu butuh untuk disayang. Butuh juga untuk dirawat dengan baik. Butuh untuk diperhatikan.
Jika kamu sudah melakukan semua itu, tubuh kamu juga akan membalas dengan baik, kok. Bila kamu istirahat dengan teratur, tidur 7-8 jam setiap malam, maka tubuh kamu tidak akan mengeluh sakit.
Begitu juga bila kamu menjaga pikiran, tidak selalu overthinking, maka jiwa kamu akan lebih tenang.
Jaga makanan juga. Makan secukupnya, kalau tiga sendok nasi yang dikatakan dokter, itu juga bisa. Asal, sendoknya adalah sendok makan, bukan yang seperti sendok semen itu. Nasi kok disamakan dengan semen, ya?
Bikin Bingung

Lho, subjudulnya kok begini? Eh, ini maksudnya, yang harus dibikin bingung itu adalah orang lain, termasuk juga keluargamu.
Lakukan hal-hal di atas secara diam-diam, tidak perlu kamu beritahukan ke mereka baik langsung maupun secara digital, dan lihat saja hasilnya.
Kamu akan mendapatkan kekagetan dari mereka bahwa ternyata kamu memang bertumbuh dengan baik. Kamu ternyata bisa mencapai yang selama ini kamu idam-idamkan.
Wah, kalau sudah begitu, selamat, ya! Pencapaianmu memang luar biasa dan semoga jadi lebih baik lagi di masa yang akan datang!




