Sudah tahu berita yang bikin dada sesak? Tentang anak membakar rumah orang tuanya sendiri? Kejadian ini tepatnya di Desa Sumberagung, Kabupaten Pati, Jawa Tengah pada Rabu (4/2/2026).
Tersangka berinisial K. Tidak perlu kamu tahu nama panjangnya. Apakah Korek atau Kebakaran? Yang jelas anak ini tidak tiba-tiba jadi api.
Alasan Anak Membakar Rumah Orang Tuanya

Tentu, anak tersebut membakar bukan karena iseng, bukan mengira itu seperti membakar kembang api, petasan, maupun obat nyamuk.
Hewan seperti nyamuk saja pasti tidak pernah berpikir untuk membakar sarang orang tuanya. Ya ‘kan?
Kalau sampai ada anak membakar rumah orang tuanya, berarti sudah ada yang terlebih dahulu terbakar di dalam.
Dan, rupanya, memang benar. Api emosi telah tersulut sempurna dengan K yang marah besar dengan ayahnya.
Kondisi yang ada, ayah dan ibu kandungnya ternyata sudah pisah ranjang selama 2 tahun. Dan kita tidak perlu tahu, apa merek ranjangnya.
Ketika kejadian, adik dari tersangka yang berinisial S sedang cekcok atau terlibat konflik, mungkin semacam adu mulut begitu dengan bapaknya bernama Sapin (63).
Alasannya karena hadir perempuan lain di dalam rumah yang dibawa ayahnya.
Nah, sebagai adik yang baik, katakanlah begitu, S kemudian bercerita kepada kakaknya, K. Cerita tersebut membuat K yang merupakan pria berusia 43 tahun itu naik pitam. Entahlah, si pitam ini naiknya memanjat apa.
Tidak cukup sampai di situ, K membawa pertalite ke rumah bapaknya. Bahan bakar itu kemudian disiramkan ke rumahnya. Tersulutlah kebakaran.
Si jago merah melahap dua unit rumah sekaligus sehingga betul-betul ludes terbakar. Kerugian mencapai sekitar 250 juta rupiah.
5 Pelajaran Keayahan dari Masalah Ini
Kasus di atas memang bisa mendatangkan 5 hal yang bisa dipahami bagi para ayah. Mungkin ini pelajaran pahit, sepahit sirup.
Lho, kok sirup pahit, Mas? Ya, bisa jadi pahit kalau kamu sedang sakit demam tinggi. Lidah terasa pahit bukan?
Oke, kita masuk ke pelajaran yang pertama. “Tolong hadirin yang masih berada di dalam, silakan masuk ke dalam dan yang di dalam, silakan ke luar!” Eh, ini MC-nya dari mana?
1. Anak Itu Sebenarnya Tidak Cuma Marah, Tapi Sedang Minta Ayahnya “Kembali”

Kalau dalam berita di atas itu, pelakunya sudah berumur banyak, 43 tahun. Namun, hal ini juga bisa terjadi pada anak yang usianya lebih kecil.
Ada kalanya, anak itu memang tidak tahu untuk mengungkapkan kecewanya. Anak, apalagi yang masih kecil, susah untuk bilang, “Ayah, aku ikut hancur lihat Ayah kayak gini.”
Kondisi begitu, yang ke luar bukan kata-kata, melainkan sebuah tindakan ekstrim. Ini tidak ada kaitannya dengan ekstrim, makanan yang biasanya tersaji dingin itu.
Dalam kasus anak membakar rumah orang tuanya, seperti sebuah simbol yang berkata begini, “Kalau Ayah menghancurkan rumahku, ibu, dan adik-adikku, biar aku sekalian menghancurkan semuanya.”
Memang terdengar sadis, bukan janda, eh, itu mah gadis. Memang terdengar ngeri. Namun, itulah cara anak yang sudah kehabisan bahasa, kehabisan kata-kata.
2. Masalah Perselingkuhan Tidak Cuma Dosa Pasangan, Tapi Juga Dosa Sosial dalam Keluarga
Bagi pelaku perselingkuhan, misalnya si ayah, bisa jadi pikirannya, “Ini ‘kan cuma urusan saya dengan istri saya.”
Oleh karena merasa bahwa dosanya hanya kepada pasangannya yang sah, maka perselingkuhan tetap lanjut, bahkan ketika sudah ketahuan.
Akan tetapi, anak di rumah itu bukanlah penonton pasif. Anak itu juga menjadi anggota keluarga, penghuni rumah dan dia bisa menjadi saksi hidup.
Saat ada ayah yang selingkuh, anak bisa merasa begini:
- Rumah jadi tidak aman.
- Ibu jadi tersakiti, awalnya batin, tetapi bisa juga sampai fisik.
- Ayah jadi kehilangan wibawa, citranya sebagai kepala keluarga menjadi tercoreng.
- Hukum dunia pun jadi kehilangan aturan.
Ayah selain pemimpin rumah memang menjadi semacam “pagar”. Kalau pagarnya runtuh dan roboh, anak akan menjadi liar.
3. Terbukti Bahwa Ayah adalah Pusat Gravitasi Rumah

Grativitasi adalah gaya tarik bumi. Namun, dalam konteks rumah, ayah menjadi pusat gravitasinya.
Jika ayah bertindak benar, maka rumah akan stabil.
Sebaliknya, jika ayah goyah, rumah, eh, jadi ikut goyah.
Kalau ibu sudah capek menahan rumah sendirian, mungkin anak masih bisa bertahan.
Akan tetapi, jika ayah yang rusak, maka anak bisa kehilangan pegangan hidupnya secara total.
Jadi, berita tentang ayah membawa perempuan lain ke dalam rumah, sementara belum resmi bercerai dengan istri sahnya, itu jelas membuat malu.
Anak bisa melakukan tindakan brutal karena rasa malu itu, lalu dalam hatinya dia akan merasa, “Kalau ayahku tidak malu, biar aku yang kasih malu dia sekalian!”
4. Anak Menghukum Ayahnya dengan Cara yang Paling Primitif
Dalam persepsi masyarakat kita, masih kental budaya anak harus menghormati orang tua. Anak jika sampai melawan orang tua, apalagi sampai melakukan tindakan fisik, jelas akan disebut anak durhaka.
Namun, dalam kasus ini, anak tidak punya akses untuk menghukum ayahnya secara sosial. Jadi, anak membakar rumah orang tuanya, demi mengatakan sebuah teriakan, “Ayah, lihat! Ini sakitnya aku!”
5. Ayah Mungkin Sering Lupa Bahwa Anak Tidak Harus Punya Ayah Sempurna, Cukup Ayah yang Konsisten

Menjadi sempurna itu memang perlu. Namun, apakah anak selalu butuh dan mengharapkan ayahnya selalu sempurna?
Sebenarnya tidak. Sebab, anak itu memahami kok bahwa ayah tidak harus kaya raya.
Tidak harus selalu ada tiap detik, menit, jam, selama 24 jam, bahkan 26 jam kalau memang ada waktu seperti itu.
Ayah harus mengerti bahwa anak butuh ayah yang konsisten. Lho, konsisten sebagai apa?
Apalagi kalau bukan konsisten menjadi pelindung. Bayangkan, jika ayah bukan sebagai pelindung, melainkan malah jadi sumber luka.
Bisa-bisa, anak berubah jadi sumber bencana bagi keluarga.
Ambil Keputusan Tegas
Anak juga mengharapkan ayahnya punya sikap yang tegas, lugas, dan sering beli tabung gas. Oh, bukan, maksudnya tegas, lugas, dan tandas.
Ayah yang ragu-ragu dalam bersikap akan membuat anak jadi bingung. Anak jadi kehilangan teladan.
Padahal ayah dianggap sosok laki-laki memegang prinsip kuat, tidak mencla-mencle, tidak plintat-plintut, tidak hari ini A, besok B. Ini ‘kan bukan pelajaran huruf di TK.
Kalau memang dalam sebuah keluarga, antara ayah dan ibu sudah tidak memiliki ketertarikan atau bersama dalam cinta, bercerai memang lebih baik.
Soalnya, hubungan yang mengambang membuat perasaan anak jadi gamang, meskipun ayahnya sering dipanggil Pak Bambang. Anak butuh kejelasan, apakah akan terus bertahan atau sampai di sini saja?
Apakah akan lanjut terus, memilih yang di saku kanan atau tirai nomor 3? Eh, malah nyelonong kuis Super Deal 2 Miliar!
Jika ayah tidak menentukan sikap dari sekarang, maka anak yang akan mengambil alih. Ya, kalau ambil alih menjadi sikap yang positif. Bagaimana jika negatif?
Artinya, kalau negatif jelas tidak positif. Ayah sendiri yang akan rugi. Ayah sendiri yang akan menanggung akibatnya dari sikapnya yang plin-plan dan plan-plin.




