Punya istri bisa dikatakan Alhamdulillah. Bersyukur karena masih banyak orang yang masih jomblo sampai sekarang. Entah, apakah kejombloannya nanti sampai Dajjal muncul, ya? Bukankah Dajjal jomblo juga?
Namun, bagaimana jika mempunyai istri yang cerewet? Istri yang setiap hari banyak omongnya. Istri rewel plus istri mudah marah. Klop, deh!
Kalau omongnya bagus-bagus, sih, suami bisa senang. Tapi, kalau yang dicerewetkan itu seputar masalah uang, pekerjaan suami, anak-anak yang dianggap nakal, konflik dengan mertua si istri, dan lain sebagainya, apa sudah siap?
Dan, menghadapi istri yang cerewet atau cara meredam istri marah ini sepertinya masalah yang terjadi di mana-mana.
Kalau mau diabsen, siapa saja suami yang punya istri cerewet, rasanya buku absen itu bakal tidak cukup, apalagi jika buku absennya memang kecil mungil. Tambah tidak cukup.
Tetap Bersyukur Menghadapi Istri yang Cerewet

Kenapa sih istri bisa cerewet? Apa penyebab istri cerewet? Ada sebuah jawaban yang menarik datang dari Ustaz Wijayanto.
Menurut ustaz yang berdomisili di Jogja ini, istri itu ‘kan kaum perempuan. Kaum Hawa. Mulutnya pasti mangap karena ada bunyi “wa” di situ.
Beda dengan kaum Adam. Semangap-mangapnya mulut, pastilah mingkem karena diakhiri dengan “dam”. Coba buktikan saja, deh! Bagus dibuktikan di pinggir jalan. Lah.
Selain itu, Ustaz Wijayanto atau yang pernah dipanggil dengan Gus Wi itu juga menyandarkan kenyataan bagi kaum istri atau perempuan itu, yaitu: bibirnya dua.
Yap, benar bukan? Bibir mereka ada dua. Bibir yang atas dan bibir yang bawah. Tidak perlu ditampilkan di sini, lah. Bagi yang sudah menikah pastilah tahu yang dimaksud ini.
Nah, kalau memang kenyataannya seperti itu, wajar memang istri jadi cerewet. Ditambah dengan pernyataan biasanya istri itu mengeluarkan sampai 20.000 kata per hari.
Jadi, ketika suaminya pulang, stok kata-katanya masih sangat banyak. Dan, akhirnya ditumpahkan semuanya ke suami. Nyahok deh lu!
Baca Juga: Ternyata, Mengobrol Bukan Sekadar Mengeluarkan 20.000 Kata, Ini Kata Ayu Momalula, Founder Muslimah Bangkit
Namun, meskipun sebagian orang menganggap itu hal yang negatif, ada hal-hal yang harus disyukuri tatkala menghadapi istri yang cerewet. Apa saja itu?
Saya merangkumnya menjadi 3 saja tanda syukur. Mari kita simak satu per tiga. Maksudnya, dari satu menjadi tiga.
1. Bersyukur Karena Kamu Masih Memiliki Telinga

Ini tanda syukur yang pertama, yaitu: kamu masih mempunyai telinga. Masih bisa mendengar dengan jelas kecerewetan istrimu itu.
Coba kamu jadi budak, eh, maksudnya jadi budek. Maka, kamu tidak bisa mendengar apa-apa.
Kalau sudah begitu, kamu butuh alat bantu dengar. Kan ini lebih merepotkan dan tentunya biaya pula.
Hanya karena ingin mendengar suara istrimu yang cerewet, kamu pakai bayar lagi ke dokter THT.
Jadi, selama telinga kamu normal, maka syukurilah nikmat tersebut. Bila istrimu terus cerewet, anggap saja seperti radio rusak. Oke?
2. Bersyukur Karena Kamu Masih Hidup

Tadi yang pertama adalah bersyukur karena kamu masih punya kuping, masih punya telinga yang bisa mendengar suara istri yang sedang ngomel. Merdu bukan?
Kalau kamu dengarkan lebih jauh, mungkin dia cerewet karena bau badannya seperti kerbau yang tidak pernah mandi setahun lebih. Waduh, mungkin kamu bisa ngasih si kerbau itu, eh, maksudnya istri kamu itu pakai yang satu ini.
Sekarang, yang kedua adalah bersyukur lebih jauh dan dalam lagi karena kamu masih hidup. Kamu masih bisa membaca tulisanku ini, Alhamdulillah.
Coba kalau kamu sudah mati atau meninggal dunia, mana mungkin kamu akan dengar suara istrimu?
Mana mungkin kamu bisa berhadapan langsung dengannya, meskipun kamu bingung mau ngapain saat istrimu cerewet dan ngomel tanpa rem itu.
Baca Juga: Mewujudkan Visi Misi Keluarga Bersama Dewi Nur Aisyah, Doktor Muda yang Selalu Haus Ilmu
Bersyukur, Allah masih memberikan kamu kehidupan di dunia yang indah ini. Mungkin Allah menghendaki agar kamu terus saja mendengar cerewetnya istrimu sebagai penggugur dosa buatmu.
Bisa jadi bukan?
3. Bersyukur Karena Istri Kamu Masih Hidup

Tadi kamu, sekarang istrimu. Tetap bersyukur dia masih hidup dan masih mendampingi kamu meskipun cerewetnya minta ampun. Minta uang juga, sih.
Kamu mungkin benci dengan istrimu yang super bawel itu. Namun, bayangkan jika dia tidak ada. Mungkin kamu berharap dia cepat mati saja daripada hidup hanya untuk cerewet.
Seandainya, dia benar-benar sudah mati, apakah kamu benar-benar sudah siap? Coba berkaca ke dalam dirimu, betulan ikhlas dan rela ditinggal mati istrimu?
Mungkin dalam hatimu berkata begini, jangankan ditinggal mati, ditinggal pergi ke pasar sebentar saja, sudah dicari. Begitu ‘kan?
Jadi, jangan sok deh berharap siap ditinggal istri. Berat, lho! Apalagi kamu sudah bertahun-tahun hidup dengan dia.
Sudah semuanya kamu lalui bersamanya. Saat dia pergi untuk selama-lamanya, separuh hidupmu ikut lenyap bersamanya, lho!
Jalani Saja, Toh Kamu yang Pilih Dia
Yap, takdir sudah ditentukan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, jauh banget sebelum kamu dan istri kamu tercipta di muka bumi ini.
Dan, yang namanya takdir itu pasti baik, karena berasal dari Dzat yang Maha Baik.
Tentu, di balik takdir itu, ada juga peran kamu dalam memilih istrimu yang sekarang. Dari milyaran perempuan di dunia ini, kok hanya dia yang mau sama kamu, ya?
Berpikirlah positif bahwa cerewetnya istrimu itu pasti mengandung kebaikan.
Mungkin jelek di kamu, tetapi baik buat dia bukan? Baik karena dia berhasil menumpahkan kekesalannya kepada kamu.
Seperti tadi yang sudah kutulis, anggap saja kamu menghadapi istri yang cerewet ini seperti kamu menghadapi radio rusak.
Dinikmati saja yang ada, karena untuk beli radio baru, cukup mahal. Apalagi beli dengan studionya plus penyiar-penyiar ceweknya.
Jangan-jangan dia bisa dianggap radio rusak, karena dari covernya saja terlihat rusak, keriput, dan kusut. Wah, kamu mesti coba yang ini biar istrimu lebih sehat dan tentunya lebih cerewet lagi, dong!
Istri yang cerewet itu pada dasarnya sayang untuk kamu. Lebih tepatnya adalah sayang untuk kamu lewatkan! Haha…





Alhamdulillah, memang mau bagaimana pun kondisinya, kalau sudah menikah harus disyukuri. kalaupun salah, tugas suami yang membenarkan maksudnya dididik supaya tidak berbuat salah lagi
seharusnya kalau mau nyesal ya jangan dinikahi, ya kan?
karena itu istri pilihan mau bagaimana pun kondisinya tentu Judah jadi risiko
hehehe…
Sebagai perempuan aku harus mengakui kalau kita ini emang gak bisa diem hahaha. Kalau mulutnya diem, otaknya riuh. Jadi daripada mendem sendiri jadi penyakit enaknya ya dikeluarkan aja. Lagian kalau perempuan sesepi itu, dunia juga ngebosenin. Siapa yg bakal ngajarin anak bicara, nyanyi, dan mengembangkan kemampuan verbalnya coba?
Tapi suka bicara bukan berarti cewek ga bisa ngerem juga sih. Peratiin deh kalau cewek udah stop bicara, brati ada apa-apa. Nah kalau udah gitu suami-suami juga kan yg repot?
Intinya ya sama-sama memahami dan menerima takdit aja deh. Yang penting rumah tangga aman nyaman tentram. Peace!!
Saya tambahkan ya:
4. Tandanya di hati istrimu selalu ada kamu, suaminya. Coba gak dicerewetin, dianggap orang lain deh, hehe…
5. Istri masih peduli padamu, karena cerewet itu tandanya perhatian, beda dg judes atau usil.
6. Selamat! Kamu telah berhasil jadi tempatnya utk selalu kembali, jadi orang satu²nya tempat curhat yg no filter², wkwk.
anyway, thanks for sharing, Pak. Menarik topiknya.
(dari salah seorg penggemar Ust Wijayanto)
Apapun karakter istri, ya disyukuri saja. Aku engga kebayang sih kalau aku sebagai istri = cerewet. Haha…soalnya banyak yg bilang aku pendiem. Pendiem bukan berarti engga ngobrol sama suami loh…Ngobrol, gibah seru ya ke suami, apalagi bahas update-an medsos…hehe…