Terlihat Lucu Juga, Kebiasaan Baru Karena Virus Corona

Terlihat Lucu Juga, Kebiasaan Baru Karena Virus Corona

Share This:

Munculnya pandemi yang sampai sekarang masih terus terjadi, ternyata memunculkan kebiasaan baru karena virus Corona atau virus dari China tersebut. Seperti apa sih?

Orang Indonesia memang termasuk orang-orang yang unik, lucu dan kadang menggemaskan kaitannya dengan virus Corona ini. Dulu, akhir tahun, saya termasuk jutaan orang Indonesia yang masih santai dengan munculnya virus Corona di Wuhan, China.

Waktu itu, di Youtube, karena TV saya sudah lama tidak menyala, tampak beberapa orang tiba-tiba jatuh di jalan karena virus Corona. Wah, waktu itu, saya tidak terlalu berpikir bahwa virus tersebut akan sampai ke Indonesia! Cukuplah orang-orang China yang merasakan dahsyatnya virus itu.

Bahkan dalam pikiran saya juga, mungkin itu adalah adzab bagi mereka. Bukankah kamu atau banyak orang lain juga begitu. Iya apa ya?

Ngeri juga sih, ada orang tiba-tiba jatuh begitu saja, terus ditolong seseorang yang memakai baju pelindung lengkap, mirip astronot. Sebegitu mengerikannya kah Corona sampai yang menolong pun harus baju khusus?

Ternyata, tidak hanya rakyatnya yang santai lho! Para pemimpin kita juga begitu. Katanya, virus Corona susah masuk ke Indonesia karena susah izinnya, makan nasi kucing saja bisa terhindar, perbanyak doa dan dzikir saja, malah membuka pula peluang pariwisata ke Indonesia, ketika negara lain menutup diri.

Kalau dipikir-pikir sambil garuk kepala, iki piye toh? Apakah kita semua waktu itu belum menyadari bahwa virus ini akan makin mengganas? Yah, meskipun data sekarang menunjukkan penderita virus ini makin bertambah, tetapi toh masih banyak orang kita yang cuek.

Data-data yang ada itu mungkin tidak akurat lho! Karena ada yang bilang bahwa penderita sebenarnya jauh lebih besar. Ah, entahlah, mana yang benar?

Mengenal Cuci Tangan

Nah, kebiasaan baru karena virus Corona di antaranya adalah cuci tangan. Saya yakin, kamu atau teman-teman kamu dulu ketika belum ada virus, masih enak saja makan sembarang tanpa cuci tangan.

Baca Juga: Narsis dan Eksistensi Kita

Saya dulu pernah punya atasan. Ketika ada sajian gorengan di kantor, saat itu saya belum cuci tangan, jadi ya saya pakai kantong plastik bersih saja untuk memegang sang gorengan.

Rupanya, atasan saya tersebut malah menyindir dengan memakai kantong plastik hitam untuk mengambil gorengan. Teman saya yang perempuan tertawa, mungkin sambil memukul lengan si bapak itu.

“Jangan gitu banget, lah, Pak!” Begitu kira-kira kata teman perempuan saya.

Banyak memang ditemukan, ketika ada makanan, langsung was-wes saja, serobot dan serbu. Entah tangannya habis cebok, pegang HP, pegang meja atau malah pegang yang bukan mahrom, pokoknya langsung sikat saja.

Sekarang, masih mau begitu? Mungkin tidak sampai terjadi yang separah dulu. Bawa handsanitizer, bawa sabun sendiri, mungkin kalau perlu bawa sampo sama handuk sekalian. Lho, mau numpang mandi di kantor ya, Bro?

Atau, dalam keadaan lain, makan di warung pinggir jalan. Sari laut kalau istilah di Sulawesi. Cuma semangkuk air bening dengan ukuran yang kecil. Entah, air itu benar-benar bersih betul atau tidak?

Kita tinggal mencelupkan tangan ke air itu. Jelas tidak terlalu higienis, lah, karena termasuk air yang tidak mengalir. Mungkin kalau persepsinya begini, harus cuci tangan di bawah air terjun ya?! Bukannya air terjun termasuk air yang mengalir juga?

Begitu selesai makan, cuci tangannya di situ juga. Walah, kan tadi sudah bercampur air itu dengan kotoran kita?! Berarti, kotorannya menempel lagi dong?! Yah, begitulah.

Pakai Masker

Ketika pertama datang di Kendari, tahun 2008, saya sebenarnya sudah tertarik untuk berbisnis masker kain. Saya mau ambil barang dari Jogja, yang dulu harganya lima ribu per buah. Motifnya menarik dan cantik-cantik, warna-warni, pokoknya bagus dipakai buat melindungi muka dari debu atau asap kendaraan.

Ternyata, kata sepupu saya yang sudah lebih dulu tinggal di Kendari, orang Kendari rata-rata tidak mau seperti itu. Muka harus terlihat saat naik motor. Terasa gengsi naik motor kok mukanya ditutup. Ohh, ya, sudah, saya tidak jadi berbisnis.

Sekarang, kebiasaan baru karena virus Corona, tidak cuma naik motor, ke dalam ruangan pun pakai masker. Memangnya ada juga debu sama asap kendaraan di dalam ruangan? Jelas bukan, ya, itu tadi, gara-gara virus Corona. Bahkan, masker menjadi barang yang cepat habis, kayak makanan ringan saja nih!

Bukan waktunya sekarang buat gaya-gayaan muka, bila tidak ingin kena resiko kena Corona. Wajah cantik, ganteng, atau jelek sekalipun, ditutup pakai masker saja. Selain untuk melindungi dari virus, juga untuk melindungi dari syahwat bukan?

Jangan dikira yang mukanya kelihatan jelek, itu tidak membuat nafsu lho! Karena persepsi laki-laki terhadap seorang perempuan pastilah begitu. Tidak jauh-jauh dari urusan fisik. Ya ‘kan? Ya ‘kan?

Lock Down Paling Menggelikan

Untuk subbagian yang ini, tadi malam saya baca sebuah artikel yang berbahasa Jawa. Tentang lockdown yang seakan-akan menjadi “trend” dalam beberapa hari ini.

Lockdown diartikan menutup akses ke sebuah kampung dari orang luar, demi mencegah virus Corona, katanya. Padahal, yang terjadi tidak selalu harus seperti itu.

Baca Juga: Mendidik Versi Kurikulum Para Binatang

Okelah, akses jalan ditutup. Entah itu dengan kayu, batu, kursi, palang, besi atau apapun, terus dijaga oleh beberapa orang.

Hal yang terlihat lucu adalah ketika membuat palang pintu atau menerapkan lockdown itu, mereka bekerja bakti. Bersama-sama dalam satu kesatuan. Gotong royong sesuai dengan yang diajarkan dalam pelajaran PMP maupun PPKn.

Padahal, saya sendiri pernah ikut kerja bakti di kampung saya, di Jogja, bahwa memang tidak semua orang mau kerja bakti lho! Ada yang pasang bendera plastik yang nantinya digantung dari tembok-tembok atau atap-atap rumah secara melintang, biasanya ini memang menjelang tujuh belasan. Jangan tanya tujuh belasan itu hari apa ya, Mas?!

Ada juga yang menyapu jalan, membersihkan sampah. Jelas jalan kampung cuma bisa disapu, tidak mungkin lah sampai dipel segala!

Kenyataan yang ada, antara yang kerja dengan yang tidak, kebanyakan mana hayo? Ini tidak cuma di kampung lho! Termasuk di lingkungan kantor-kantor, yang kerja itu adalah staf PNS yang tidak ada jabatannya, atau pegawai honorer yang honornya belum tentu rutin.

Orang yang ada jabatannya cuma berdiri, ngobrol, petentang-petentang, main HP, duduk-duduk saja, sambil main perintah sana-sini. Yah, namanya juga bos, justru kalau bos ikut kerja menyapu, akan terlihat aneh. Malah, sapu yang dipakai bos itu akan direbut oleh staf sambil berkata, “Jangan Bapak yang kerja, biarlah saya saja!”

Begitu pula di kampung tadi. Yang kerja paling anak-anak mudanya atau anak-anak yang notabene pengusaha alias pengangguran saban hari. Daripada tidak ada kerja di rumah, namanya juga pengangguran, ikut kerja bakti saja. Apalagi disuruh orang tua karena terus mengkritik anaknya, “Kamu di rumah kerjanya cuma tidur terus!”

Terus, hal paling menarik dari kerja bakti itu apa sih? Saya masih ingat sekarang, bahwa menariknya kerja bakti adalah sajian makanannya. Biasanya dari ibu-ibu atau gadis-gadis muda kampung yang nongol. Walah… Dosa lagi, dosa lagi!

Sajian makanan tersebut akan terasa lebih nikmat katanya justru ketika kita lagi kotor-kotornya. Memangnya ada ya orang kerja bakti, badan sama pakaiannya masih bersih? Kalau masih ada, dia kerja apa tidak sih?! Perlu dipertanyakan deh kekerjabaktiannya!

Kalau dipahami bahwa makan pas kerja bakti itu saat lagi kotor-kotornya, maka kemungkinan besar, bahkan besar sekali, bahwa mereka makan itu tidak pakai cuci tangan dulu. Seperti saya sebutkan di atas, main serobot saja. Sikat saja. Padahal kue yang ada tidak terbungkus lho, bisa jadi ada lalat juga yang ikut nangkring.

Lho, katanya tadi disuruh cuci tangan, lha kok ini malah tidak? Begitulah yang dipahami oleh sebagian penduduk kampung, meski Corona masih terus menghantui. Mau menerapkan lockdown wilayah atau kampung itu demi mencegah Corona, tapi malah lupa cuci tangan sendiri.

Dan, sebenarnya kunci dari pencegahan virus ini adalah kebiasaan-kebiasaan baik. Misalnya, sering cuci tangan, tidak sembarang pegang wajah pakai tangan, apalagi wajah orang lain, yang bukan mahrom lagi. Halah..

Jangan suka keluyuran, di malam hari, lebih-lebih di siang hari! Eh, keluyuran itu lebih sering malam hari ya? Haha… Kamu sendiri lebih sering yang mananya?

Terakhir, sebelum ganti subjudul berikutnya, lockdown tutup kampung itu bisa jadi sama dengan ketika ada acara kondangan saja. Tutup jalan, macam di sini, orang tidak bisa lewat karena satu tenda pesta besar menutup jalan. Mau lewat jalan itu yang sudah jelek, akhirnya lewat jalan lain yang lebih jelek lagi! Aduh!

Sering-sering Mandi

Ini adalah saran untuk mencegah muncul Si Corona masuk ke badan. Yaitu, dengan sering-sering mandi. Memang, awalnya adalah kita diminta untuk sering berada di rumah, jangan ke luar rumah kalau tidak ada urusan yang penting. Tapi, kalau terpaksa?

Nah, hal ini sebenarnya cukup merepotkan, apalagi bagi banyak orang yang punya sifat malas bin mules kalau disuruh rajin. Persoalan mandi bukan hal yang sepele. Terbukti, masih banyak ditemukan di bawah kolong langit ini, manusia-manusia yang menganggap mandi laksana hal yang sangat berbahaya.

Ada saja alasannya untuk tidak mandi, dulu lho! Misalnya, bosan dengan gerakannya yang itu-itu saja. Airnya seperti dendam dengan kita, karena dia diam saja. Sudah berapa kali pula alasan diungkapkan dinginnya air itu, padahal dia tidak sedang berada di kutub utara, kutub selatan, kutub barat maupun kutub timur. Halah, mana ada sih kutub barat dan timur?!

Saya dulu pernah punya teman SMA, waktu kelas dua. Dia mengaku sebagai anak Punk. Meski rambutnya tidak jabrik laksana sikat WC itu, tetapi katanya jiwa kepunknya lumayan besar. Terbukti, dia kalau di rumah malas mandi. Jaketnya sudah berminggu-minggu tidak dicuci juga.

Keadaan seperti itu, justru membuat dia bangga. Beda halnya kalau di sekolah, pastilah dia mandi pagi. Namun, kalau libur, hem, jangan harap dia akan seperti itu!

Sekarang, dengan adanya virus Corona, membuat orang jadi sering mandi. Seperti tadi, habis dari luar rumah, entah itu untuk urusan kantor atau urusan rumah tangga, mesti mandi setelah sampai di rumah. Khawatirnya ada virus Corona yang nebeng menempel di baju yang dia pakai.

Repot, oh, jelas, bagi yang tidak terbiasa. Dulu mandi cuma pagi sama sore, sekarang siang pun dilakukan. Ya, itu tadi, pulang sebelum adzan Dzuhur, mesti mandi, ganti baju, langsung dicuci.

Dianggap repot dan berat, tetapi ini demi kebaikannya sendiri ‘kan? Daripada kena virus Corona, hayo, lebih pilih yang mana?

Oh, ya, lupa, bagi pasangan suami istri, terlebih yang baru-baru ini atau belum lama menikah, godaan untuk sering-sering mandi juga besar. Hem, kalau hal itu, ada atau tidak ada virus Corona, tetap akan banyak mandi deh! Cek saja bagi yang merasa.

Ini yang Lebih Mengerikan

Okelah, masyarakat kita semoga makin peduli untuk terus mencegah makin meluasnya virus Corona atau Covid-19 ini. Jangan sampai ada yang ubah namanya ya! Karena sekarang tahun 2020, maka diganti jadi Corona-20. Malah, kayak thriller judul film trilogi saja.

Hal yang ditakutkan dari masyarakat kita adalah mencontoh yang di luar sono, terus diterapkan di sini. Masih ingat nggak video aparat keamanan India, kalau tidak salah, yang memukul jamaah masjid itu lho!

Jamaah itu buru-buru ke luar dari masjid, padahal habis sholat berjamaah. Polisi memukuli mereka dengan kayu sekena-kenanya. Begitu pula di jalan-jalan, orang naik motor, langsung disikat kakinya pakai kayu juga.

Hal yang dikhawatirkan adalah jangan sampai orang-orang kita menirunya. Jika ada orang yang mau masuk menerobos kampung atau ngeyel tidak sesuai prosedur mereka, langsung main pukul saja!

Apakah itu bisa terjadi? Ya, kalau jawabannya sih, bisa-bisa saja. Bukankah masyarakat kita termasuk peniru yang baik dari negeri lain di luar sono?

Kita tentu berharap jangan sampai terjadi deh, meski cuma sekali! Sebab kalau pakai alasan kekerasan oleh sebagian masyarakat ke anggota masyarakat lainnya, maka virus yang ada itu lebih mengerikan daripada Corona, yaitu; virus kekerasan dan ketegasan yang tidak pada tempatnya.

Kita akan lihat juga, dari berbagai kebiasaan baru karena virus Corona di atas, setelah wabah berakhir, apakah akan dipertahankan atau kembali seperti semula? Kamu mau jawab yang mana? Hem…?

Baca Juga: 5 Tips Ampuh Menghilangkan Malas

Share This:
error: Content is protected !!