Seharian Penuh dengan Literasi

Seharian Penuh dengan Literasi

Jika Dirasa Tulisan Ini Bermanfaat, Share Ya!

Alhamdulillah, selesai sudah dua kegiatan yang isinya adalah literasi semua. Satunya menjadi juri lomba bertutur anak SD/MI se-Kabupaten Bombana. Satunya lagi webinar Digital Literasi dari Kemenkominfo.

Acara yang pertama adalah juri. Nah, ini baru pertama kali menilai bakat-bakat terpendam dari anak-anak Bombana. Tempatnya di Gedung Dinas Perpustakaan. Mulai dari jam 08.00 sebenarnya di undangan, tapi baru mulai jam 10.00 WITA.

Sedangkan acara setelahnya, itu bentuk online. Full online. Lewat media zoom. Rencana awalnya, saya di rumah saja, pakai paket data pribadi. Tapi, kok rasa-rasanya sinyalnya nanti akan kurang ya?

Terus, akan terganggu dengan dua anak saya. Jadi, saya pilih di kantor saja. Pakai laptop kantor sekalian. Pakai WiFi kantor sekalian.

Menyiapkan Materi

Acara webinar dengan tema “Aman dan Nyaman dalam Bermedia Sosial” yang diselenggarakan Kominfo, baru jadi bannernya sehari sebelumnya. Hari Ahad. Waduh, mepet banget! Saya tanya kontak personnya, “Apakah ini nggak terlalu mepet?”

Dia bilang, “Nggak.”

“Oh, ya, sudah.”

Tapi sebelumnya, saya lihat bannernya salah. Seperti di bawah ini:

Nah, di situ dicantumkan nama saya Risky Kurniawan. Ini ‘kan tidak sesuai dengan nama yang diberikan bapakku. Ketika banner ini saya share di grup keluarga, ada pamanku yang protes, “Kok udah ganti nama?”

Saya bilang, itu salah tulis. Om saya bilang lagi, “Hati-hati, jangan sampai tidak diakui anak oleh bapakku!”

Hahaha, saya sih ketawa saja. Untuk hal ini, saya bilang ke Kak Doni dari katadata.id, bahwa ada kesalahan. Dia menjawab akan memperbaikinya. Cukup lama, sekitar tujuh jam, baru jadi yang benarnya. Seperti ini:

Nah, Alhamdulillah, sudah benar! Berarti siap tempur nih untuk acara tersebut!

Untuk materinya adalah “Kenali dan Pahami Rekam Jejak di Era Digital”. Wuih, ini seru! Agar bisa mendapatkan referensi, maka saya buka Google saja dengan kata kunci “jejak digital”. Ketemulah situs cermati.com.

Nah, saya berusaha tidak copas. Awalnya, saya copas dulu isi website tersebut, lalu saya pindahkan di Powerpoint. Bikin desain Powerpoint kosongan saja dulu, meskipun saya punya banyak sekali desain software yang satu ini.

Terus, kalimat-kalimatnya saya ubah, yang panjang dipendekkan, yang pendek dipanjangkan. Eh, bukan! Pokoknya dibuat lebih sederhana, lah. Pada hari Senin pagi, materi itu jadi. Saya kirimkan saja ke Kak Dodi.

Memang sih, persepsi pertama tentang jejak digital ini, cenderungnya selalu negatif. Betapa banyak orang yang terjerat kasus hukum di internet gara-gara jejak digital.

Saya melihat pembicaranya ada juga yang tidak menutup aurat alias tidak pakai jilbab. Wah, itu bisa jadi bahan untuk jejak digital juga! Tapi, tidak etis, lah, kalau saya singgung di situ. Makanya, saya mengambil contoh jejak digital yang meninggalkan dosa jariyah itu adalah debat tidak berguna. Menggunakan dalil-dalil yang tidak shohih, lemah, dan sebagainya. Itu kalau sampai dishare, ‘kan menjadi dosa jariyah juga.

Lomba Bertutur Anak-anak

Sebagai salah satu juri, tentunya saya diberikan bahan-bahan penilaian lomba bertutur anak-anak di Bombana ini. Dari seorang pejabat di Dinas Perpustakaan, ibu-ibu, saya diberikan materinya itu sudah malam, sekitar jam setengah sepuluh malam.

Beliau sibuk sekali di kantor. Luar biasa! Katanya, akan menyerahkan bahan itu ke rumah saya. Namun, pas sudah tiba, merasa takut untuk ke luar malam. Jadinya, menggunakan jasa ojek online. Kururio Bombana. Mirip gojek atau grab, lah.

Materi-materi yang ada tentang cerita-cerita rakyat. Bentuknya fotokopian. Selain itu, ada juga kriteria penilaian. Antara penampilan, pembawaan materi, itu berbeda. Oke, saya pahami aturannya.

Malam Senin, saya belum sempat baca semua ceritanya. Sudah capek dan mau istirahat karena besok harus bangun pagi.

Senin Padat

Alhamdulillah, bisa bangun pagi jam 04.00. Mulailah rutinitas saya. Istri dan anak-anak sedang bermalam di rumah tantenya. Jadi, saya siapkan semuanya sendiri.

Mobil dinas saya keluarkan. Dalam pikiran saya, harus pakai mobil karena cuaca sangat tidak menentu. Bisa jadi tiba-tiba panas, bisa jadi juga tiba-tiba hujan. Apalagi jarak antara kantor saya yang akan dipakai untuk webinar dengan Dinas Perpustakaan memang lumayan jauh.

Repotnya atau sibuknya di Senin pagi itu membuat saya tidak sempat sarapan. Makan kue juga tidak ada sama sekali. Kelaparan cukup luar biasa. Mengikuti apel pagi di kantor. Alhamdulillah, tidak sampai pingsan.

Saya baru bisa makan roti pada jam 09.00. Beli dua di Indomaret dekat kantor bupati Bombana. Alhamdulillah, perut jadi lebih terisi. Agak buru-buru sih makannya, jangan sampai saya dicari-cari di sana.

Pas datang, eh, belum dimulai. Kata Bu Zulfiah, pejabat Dinas Perpustakaan yang menyerahkan bahan-bahan lomba tadi malam, masih banyak peserta yang belum datang. Ohh, gitu toh!

Seru Juga

Untuk lomba bertutur ini, para peserta anak-anak menggunakan kostum-kostum khusus, meskipun tidak semua juga, sih, ada yang pakai baju seragam sekolahnya. Penampilan itu menjadi bagian dari nilai juga lho! Apalagi jika ditambah dengan properti.

Saya sebagai juri II, duduknya di paling kiri dari panggung. Berarti, paling kanan dari bangku penonton. Di meja saya sudah disediakan makanan. Wuih, puding yang tampaknya lezat!

Puding lezat bin manis banget

Tentu ini membuat saya semakin betah jadi juri dong! Apalagi menyaksikan penampilan-penampilan yang cukup menarik. Ini contoh-contohnya:

Hanya sedikit yang bisa saya ambil fotonya. Soalnya, pada jam satu siang, saya berencana mau cabut dari kantor itu, setelah jam makan siang. Saya bilang ke Bu Zulfiah, bisa ke luar, karena sudah ada gantinya, yaitu: Pak Anton Ferdinan. Beliau ini saya kenal waktu pembukaan perpustakaan daerah yang menghadirkan juga Bupati Bombana serta Kepala Perpusnas, serta pejabat Dinas Perpustakaan Provinsi Sulawesi Tenggara.

Jam satu lebih, saya berhasil ke luar. Belum sholat Dzuhur, karena tadi makan siang di ruangan Kadis Perpustakaan. Sholat Dzuhur awalnya di Masjid Assulaimaniyah. Di situ juga ada TK-nya. Namun, saya lihat kok ada orang stres bertubuh tinggi besar dan rambutnya gondrong? Hii, cukup mengerikan! Saya pilih saja masjid di kompleks kantor DPRD Bombana deh.

Dan, Webinar Pun Dimulai

Sebelum jam dua siang, saya diharuskan untuk hadir di Zoom. Mengecek suara dan video saya. Beres dan oke, karena yang saya pakai laptop kantor yang spesifikasinya lumayan banget.

Waktu itu, saya pikir-pikir, kira-kira mau pakai songkok hitam atau tidak? Seperti waktu penjurian di Dinas Perpustakaan. Sebenarnya songkok hitam itu untuk menutupi botak saya lho! Hehe… Keputusan telah dibuat, saya pakai songkok hitam saja! Sip!

Pada rundown acara, saya mendapatkan giliran berbicara ketiga. Pertama adalah Ibnu Dwi Cahyo, Peneliti Lembaga Riset Keamanan Siber CISS Rec. Kedua adalah Prof. Aris Badara, Guru Besar Bidang Bahasa dan Media Universitas Halu Oleo, Kendari. Ketiga saya, dan keempat adalah yang paling cantik – ya jelas karena yang lain laki-laki – adalah Siti Nur Aulia Qalbi, influencer plus selebgram, semacam itulah.

Ketika giliran saya, selain dari materi slide, saya juga mengungkapkan hal lain. Contohnya tentang orang yang terkena jejak digital kaitannya dengan politik. Dia harusnya netral, tetapi karena pernah berfoto dengan orang yang sekarang maju jadi calon, maka itu dianggap bermasalah. Padahal, foto tersebut sudah terjadi beberapa tahun yang lalu. Kejadian ini pernah terjadi lho di Bombana. Ujungnya hingga sidang MK. Wah, kalau sudah sidang seperti itu, pastilah menguras tenaga dan waktu.

Saya juga mengambil contoh dari teman saya di Facebook. Dia seorang istri yang mengeluh suaminya perokok. Padahal, sebelumnya dia sudah tahu akan bersuamikan seorang perokok. Eh, kok sekarang mengeluhnya? Saya bilang, ya, salahnya sendiri punya suami seorang perokok. Kan gitu logikanya. Ya ‘kan?

Ada juga teman Facebook saya yang lain. Dia sering mengkritik pemerintah. Ujung-ujungnya akun Facebooknya dibanned alias tidak dipakai lagi. Saya bilang bahwa mengkritik pemerintah itu percuma saja. Tidak akan ada gunanya.

Contoh tentang jejak digital yang tidak disengaja adalah waktu berfoto dengan mengacungkan dua jari. Biasanya ini cewek-cewek yang mengalami. Tanpa sadar, posisi sidik jarinya itu menghadap ke kamera. Kalau ada hacker berpengalaman, bisa saja itu dijadikan sasaran tembak untuk berbuat kejahatan. Sidik jari ‘kan tidak ada yang persis sama. Sejak zaman Nabi Adam sampai manusia terakhir di hari kiamat, sidik jari tetaplah berbeda masing-masing orang.

Oh, ya, ini yang bikin saya heran, waktu pembicara lain ada kesempatan tampil, headsetku jelas sekali mendengar. Tapi, pas saya bicara, kok tidak kedengaran di laptop ya? Terdengarnya di sini, di luar laptop. Awalnya saya merasa ini ada kesalahan. Rupanya, tetap masuk suaranya. Dan, dari situ, saya mengulang pembukaan. Mengucapkan Bismillah dan salam. Waduh!

Tiba Sesi Pertanyaan

Pembicara pertama mendapatkan tiga pertanyaan. Pembicara kedua, dua pertanyaan. Pas saya, tiga pertanyaan lagi. Adapun tiga-tiganya adalah:

  1. Adityo: Bagaimana tips dan trik media sosial aman dan nyaman?
  2. Ardika Safitri: Adakah cara untuk memproteksi fitur-fitur yang bermanfaat di media sosial?
  3. Riski: Ketika memasukkan data dan email di suatu website, bagaimana cara kita agar tetap merasa aman dan nyaman?

Wah, pertanyaan yang awalnya terlihat sulit! Tapi, saya mencoba untuk menjawabnya.

Pertama, saya menjawab bahwa untuk menggunakan media sosial, harus diawali dari niat, untuk apa dulu nih? Kalau memang memakainya untuk yang baik-baik, maka tidak akan memakai media sosial untuk yang buruk. Kalau yang buruk ini, ya, pengaruhnya memang tidak aman dan nyaman.

Selain itu, perlu berkaca juga dari kasus-kasus atau berita terkait jejak digital. Kita cermati seperti apa kronologisnya? Bagaimana kejadian yang sebenarnya? Dari situ, kita bisa belajar untuk tidak mengulanginya lagi.

Kedua, saya jawab dengan memakai software atau aplikasi-aplikasi khusus. Namun, saya sendiri justru kurang tahu apa saja software atau aplikasi itu? Nah, iki piye toh?

Saya terus menjawab dengan jangan juga terlalu banyak memakai media sosial. Fokuslah di satu atau dua saja media, apalagi jika tujuannya misal untuk jualan online. Sebab, kalau terlalu banyak media, maka peluang untuk meninggalkan jejak digital yang buruk bisa terjadi. Terlebih jika kita teledor. Mungkin dengan komen yang aneh-aneh, maka itu bisa menimbulkan bahaya pada diri kita. Kalimat terakhir ini saya tambahi di sini, bukan ucapan pas acara webinar kemarin.

Bisa kok kita mengurangi fitur-fitur yang tidak bermanfaat di media sosial. Buka Facebook misalnya, kita klik saja tidak tertarik pada iklan-iklan yang ada. Atau manfaatkan saja fitur-fitur yang kita butuhkan. Soalnya, buka Facebook, pastilah banyak aplikasi atau fitur-fitur yang memang seabrek-abrek.

Contoh juga di video TikTok. Yang lewat adalah video-video joget-joget cewek. Maka, bisa kita hilangkan dengan mengklik lama video tersebut, lalu akan muncul tulisan “Tidak Tertarik”. Nah, TikTok tidak akan menampilkan video semacam itu lagi atau mirip dengan begitu lagi.

Ketiga, memasukkan data pribadi kita ke website aman-aman saja kok, tapi website apa dulu nih? Jika marketplace semacam Bukalapak, Tokopedia, dan Shopee saya rasa masih aman. Selain itu, jika ada internet marketer meminta kita memasukkan data dengan iming-iming ebook, video tutorial, atau yang lainnya, maka lihat juga track recordnya. Apakah termasuk pemain lama atau baru saja muncul? Bila sudah lama, maka itu lebih aman.

Puas Banget

Acara berakhir tepat jam lima sore. Wuih, capek! Dan, kepala saya pusing karena memakai songkok hitam terus. Tapi, saya puas banget mengikuti acara itu. Bisa berbagi ilmu dan satu meja online dengan pembicara-pembicara hebat lainnya.

Nah, ini yang kurang. Baru saya sadar, saya kurang mempromosikan blog saya. Mestinya saya mengatakan bahwa alternatif untuk menggunakan media sosial itu adalah membuat blog. Pada dasarnya, pakai media sosial itu ‘kan menumpang punya orang. Seperti sewa begitu, meskipun ya, gratis sih.

Jika itu punya orang, maka kita harus ikuti aturan yang ada lewat algoritma namanya. Bisa jadi, kita membuat status atau postingan, tiba-tiba terhapus. Tiba-tiba hilang, baik itu postingan kita, atau justru akun kita.

Sedangkan di blog tidak, terlebih jika blog berbayar seperti punyaku. Ini tidak akan bisa dihapus oleh Facebook. Linknya bisa hilang di media tersebut, tetapi isinya masih ada di blog kita.

Duh, kenapa ini tidak saya jelaskan ya? Apa karena saya kurang konsep? Jadi, berbicara saja dari otak, langsung disampaikan? Seandainya saya sampaikan ini, mungkin ada trafik baru ke website saya. Meskipun pesertanya hanya sekitar 60-70 orang, tetapi ‘kan lumayan juga, bisa promosi gratis.

Saya memang tidak mencantumkan link blog ke bagian cover slide. Saya berpikir awalnya nanti dikira promosi berlebihan. Nyatanya, tidak juga ya?

Selain itu, saya kurang sekali menscreenshot layar waktu saya tampil. Aduh, ini juga bagaimana sih? Apa yang saya pikirkan waktu acara itu? Terlalu fokus pada yang disampaikan pembicara lain, akhirnya lupa untuk dokumentasi pribadi.

Tapi, ya, sudahlah. Semoga ke depan ada kesempatan bicara lagi, tampil lagi di depan orang, baik offline maupun online. Nah, kapan ya?

Jika Dirasa Tulisan Ini Bermanfaat, Share Ya!

Silakan tinggalkan komentar

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi dengan benar.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.