Rasanya, Kemesraan Ini Janganlah Cepat Berlalu!

Rasanya, Kemesraan Ini Janganlah Cepat Berlalu!

Share This:

Waktu kelas 3 SMA, di suatu pelajaran kosong dan memang sering kosong karena kelas IPS, teman-teman saya menyanyikan lagu “Kemesraan ini janganlah cepat berlalu.”

Kalau tidak salah, yang pertama kali menyanyikan lagu itu adalah Iwan Males, ya? Eh, kok Iwan Males, Iwan Fals maksudnya. Namanya pakai fals, padahal suaranya tidak fals.

Teman-teman yang campur laki-laki dan perempuan itu duduk di bangku dari semen dan ditegel di depan kelas. Ada yang bawa gitar. Saya sendiri agak jauh di situ, tidak mau dekat-dekat. Buat apa juga?

Mereka menyanyikan dengan penuh penghayatan sepertinya. Merasakan betul bahwa sebentar lagi akan berpisah. Tidak lagi menjadi murid kelas 3 SMA, bahkan sudah bukan lagi anak SMA.

Biasanya akan meneruskan ke jenjang perguruan tinggi yang lantainya tinggi itu. Mungkin juga ada yang mau langsung bekerja. Tapi, kalau lulusan anak SMA itu mau kerja apa ya? Keterampilan kurang, beda dengan anak SMK.

Kenangan

Banyak yang mengatakan bahwa masa SMA adalah yang paling indah. Kalau SMP, masih dianggap anak kecil. Sedangkan kalau SMA, mulai dianggap dewasa, tetapi tanggung jawabnya masih belum sebesar anak kuliahan.

Cerita-cerita cinta juga berkutat anak SMA. Macam Ada apa dengan Cinta, Eiffel I’m in Love, sampai dengan Dilan. Jika melihat itu, ujungnya ya pacaran.

Termasuk sinetron-sinetron remaja di TV. Anak SMA tapi sudah menampilkan gaya hidup glamor. Ya, wajar sih karena orang tuanya sudah kaya duluan. Namun, realitasnya kurang cocok dibandingkan sebagian besar masyarakat kita yang masih berpikir: Ada makanan apa tidak ya untuk besok?

Baca Juga: Kaum Rebahan Tetap Butuh Perubahan?

Kemesraan tentu dilandasi oleh cinta. Teman-teman saya itu mereka saling mencintai. Ada yang pacaran, ada juga yang tidak. Lebih bagus memang yang tidak, karena waktunya tidak habis untuk hal yang tidak produktif.

Ingin Seperti Itu Terus

Lagu “Kemesraan Ini Janganlah Cepat Berlalu” sudah jelas agar kemesraan itu janganlah cepat berlalu. Lho, kok begitu kalimatku ya?

Seandainya bisa, mungkin teman-teman saya yang menyanyi lagu itu inginnya SMA terus. Inginnya jadi pelajar terus. Muda terus. Hem, apakah bisa begitu? Bisa saja, tapi nanti di surga, akan muda terus dalam usia 33 tahun. Hidup abadi pula.

Ketika di dunia, tidak akan mungkin ‘kan kita muda terus. Hembusan napas kita saja semakin membuat kita tua kok. Coba, ada orang yang belajar ilmu beladiri. Kuat luar biasa. Fisiknya berotot, macho, bukan mantan chopet lho. Adu panco pun menang. Bahkan tidak cuma adu panco, tetapi juga adu poco-poco. Wah, dua hal yang jauh berbeda!

Mungkin dia bisa mengangkat ban besar, ban truk seperti dalam perlombaan-perlombaan manusia kuat itu. Berlari sambil membawa mobil. Hem, kalau cuma membawa mobil, seorang gadis juga bisa. Pas ditanya temannya, “Bawa mobil hari ini?” Jawabannya, ‘Tentu dong!” Nah, berarti gadis yang kuat juga ‘kan? Bisa membawa mobil.

Okelah, orang-orang itu kuat. Berbadan besar dan berotot, tapi apakah dia mampu menahan satu helai uban saja tumbuh? Jika tumbuh uban, lalu disemir, maka semua orang bisa.

Namun, menahan agar uban tidak tumbuh, sudah pasti tidak bisa. Sebab itu sudah ketentuan Allah. Siapa sih yang bisa menahan ketentuan Allah Subhanahu Wa Ta’ala?

Teman-teman saya yang maunya muda terus itu, apakah tidak terpikir untuk bekerja, memiliki pasangan yang halal dan legal, serta memiliki anak-anak yang lucu? Punya keluarga kecil yang harmonis, itu juga suatu kemesraan tersendiri.

Memangnya mesra itu cuma sama suami maupun istri. Oh, salah besar. Dengan bayi kita, anak kita yang tumbuh besar, juga bisa mesra. Menyaksikan tingkah polah mereka yang menggemaskan, itu menyenangkan.

Bagaimana dengan yang Satu Ini?

Kemesraan janganlah cepat berlalu, juga berlaku untuk momen saat ini. Kita tahu sekarang masih bulan puasa Ramadhan. Kemesraan juga jangan dilewatkan begitu saja.

Pertama, kemesraan dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Puasa adalah ibadah yang sangat disukai oleh Allah. Mengapa? Alasannya karena ibadah ini bisa menuju kepada keikhlasan yang besar. Bentuk ibadahnya pun terhindar dari riya.

Sholat, kelihatan, adzan, kelihatan dan terdengar, zakat juga jelas, terlebih ibadah haji dan umrah. Namun, puasa, siapa yang bisa memastikan seseorang itu puasa apa tidak selain dia dan Allah sendiri?

Apakah tanda orang puasa itu selalu lemas? Yang baru jalan dua langkah, langsung ambruk? Yang saking lemasnya, sampai untuk napas saja sulit. Itu karena puasa atau sedang asma?

Orang yang berpuasa tetaplah bisa terlihat kuat. Bahkan, dalam kondisi puasa, kita dilarang untuk menghabiskan waktu dengan bermalas-malasan. Dengan tidur-tiduran, dengan rebahan. Kondisi begitu membuat kita jadi tidak nyaman berpuasa. Tubuh jadi makin berat. Tidak hanya itu, waktu pun jadi terasa lama sekali.

Baca Juga: Bagaikan Menyajikan Makanan dengan Penampilan yang Menarik

Memanfaatkan waktu puasa dengan aktivitas ibadah maupun kerja yang positif, maka puasa jadi makin bermakna. Menjadi makin bernilai.

Nah, kemesraan kita dengan Allah terasa dalam ibadah puasa ini. Buktinya, bisa saja, kita masuk kamar, lalu makan dan minum sepuasnya. Apakah itu kita lakukan? Ternyata juga tidak. Kita tahu Allah sedang mengawasi. Allah sedang melihat. Makanya, kita mampu merasakan kehadiran Allah. Itulah bukti kemesraan antara seorang hamba dengan Tuhannya.

Kemesraan dengan Allah bertambah lagi dengan sholat malam. Okelah, sudah sholat Tarawih habis Isya, tetapi apa salahnya menambah di waktu sahur, ya ‘kan? Pada hari biasa saja, itu sudah termasuk ibadah yang agung, apalagi di bulan Ramadhan ini yang segala ibadah dilipatgandakan pahalanya.

Bentuk lain kemesraan dengan Allah adalah dengan membaca Al-Qur’an. Ibaratnya ini seperti berdialog dengan Allah. Para nabi dan rasul mampu berdialog dengan Allah melalui perantaraan wahyu. Nabi Musa alaihissalam bisa berbicara langsung dengan Allah. Begitu pula dengan nabi kita, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Tapi, kita manusia biasa, bagaimana cara berdialognya? Lewat doa dan membaca Al-Qur’an. Keduanya dapat kita manfaatkan untuk semakin dekat dengan Allah. Semakin mesra dengan Sang Pencipta.

Ditambah Ini Juga

Penjabaran kemesraan kedua adalah dengan sesama kaum muslimin. Kita mampu merasakan, bahwa hubungan antarsesama muslim semakin dekat sekarang. Bisa lewat sholat tarawih. Mungkin kita sudah dekat dengan mereka waktu sholat berjamaah di masjid, tetapi di bulan ini ditambah lagi dengan sholat sebanyak 11 maupun 23 rakaat. Apalagi ada ceramah di antara Isya dengan sholat tarawih.

Selain itu, momen buka puasa bersama atau ifthar jama’i juga wujud dari kemesraan. Berkumpul untuk bersama-sama menikmati hidangan ala kadarnya. Yah, meskipun ala kadarnya, tetapi ada juga kolak pisang, kue, gorengan, pisang ijo, kurma, es buah, es campur, nasi bungkus, nasi campur, agar-agar, puding, lemper, resoles, pisang goreng, tahu goreng, ubi goreng. Hey, tadi gorengan sudah disebutkan, kok sekarang ada pisang, tahu, sama ubi goreng? Yah, biar kelihatan tambah banyak saja!

Itulah menu-menu yang ala kadarnya. Datang dari para pemberi buka puasa untuk kaum muslimin yang berpuasa. Indahnya memberi sedekah buka puasa ini adalah kita akan mendapatkan pahala juga seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa. Masya Allah.

Kesimpulan

Begitu banyak ibadah dan kenikmatan yang diberikan Allah di bulan puasa ini semestinya membuat kita berharap, kemesraan ini janganlah cepat berlalu. Meskipun tanpa terasa, sekarang sudah tanggal 6 Ramadhan lho! Hayo, kemarin-kemarin kita ngapain aja?

Tanpa terasa lagi sudah hampir satu pekan, nanti dua pekan, tiga pekan, hingga bulan puasa ini selesai. Begitu berpisah dengan bulan Ramadhan, kita pun berharap, kapan lagi akan ketemu ya? Apakah tahun depan masih diberikan kesempatan untuk bermesraan lagi di bulan suci tersebut?

Solusi yang boleh ditempuh adalah dengan banyak berdoa kepada Allah, memohon agar waktu-waktu yang kita habiskan di bulan ini bernilai ibadah dan berbuah berkah. Sebab, kalau tidak, menyanyikan “Kemesraan ini janganlah cepat berlalu”, hanya dalam konteks cinta-cintaan, yang notabene konteksnya adalah pacaran. Namun, kemesraan dengan Allah dan sesama muslim lainnya, dibiarkan cepat berlalu. Lho, iki piye toh?

Baca Juga: Mempercantik Bahasa dan Membahasakan Kecantikan

kemesraan-ini-janganlah-cepat-berlalu-1

Share This:

25 Comments

  1. Setuju sekali bahwa kemesraan dengan Sang Maha Pencipta jangan cepat berlalu. Bulan Ramadhan yg selalu di rindukan. Semoga ibadah kita selama bulan Ramadhan di terima oleh -Nya. Semoga kita diberi umur panjang agar bisa merasakan kembali indahnya Ramadhan tahun depan.

  2. kemesraan itu dapat kita pertahankan dengan meraih lailatul qadar. Aamiin, semoga kita bisa meraihnya…

  3. Semoga kemesraan dengan Sang Pencipta bukan hanya di bulan Ramadhan ini saja, terus sampai bulan sesudahnya, seterus…terus….seterusnya, sehingga kemesraan tak pernah berlalu

  4. Setuju. Mari kita nikmati kemesraan di bulan Ramdahan ini. Karena kalau Ramadhan sudah berlalu harus nahan kangen satu tahun lagi..

  5. Merajut kemesraan dengan sang khalik adalah senikmatx kemesraan, harapan jangan hanya mesra saat Ramadhan, sedangkan 11 bulan lainnya hanya sekedar say hello , sekedar menggugurkan kewajiban terhadap Allah, hubungan 11 bulan ke depan hendaknya terjalin semakin mesra ya bu cantik… Selamat menjalankan ibadah puasa

  6. Betul ,kemesraan bulan Ramdhan tahun ini mudah mudahan tetap berulang ,he tapi apatu artinya Iki piye toh?? 🤔

  7. Semoga bisa menikmati keindahan bersama Ramadhan dengan menggunakan waktu semaksimal mungkin untuk meraih predikat takwa.

  8. Keren… Master Rizki, share tulisannya. Betul sekali masa remaja, masa yg paling indah. Tetapi lebih indah kalau kita bertemu di bulan Ramadan .Bisa lebih mesra dg Allah Subhanawataala, Aamiin…

  9. Sejatinya kemesraan bermakna luas lebih dari sekadar hal-hal terkait keduniawian saja. Lebih dari itu juga terhadap hal-hal baik untuk kehidupan akhirat.

Silakan tinggalkan komentar

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi dengan benar.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.