[Perlu Dicek Lebih Dalam] Alasan Kamu Untuk Menikah Karena 5 Hal Ini?

[Perlu Dicek Lebih Dalam] Alasan Kamu Untuk Menikah Karena 5 Hal Ini?

Share This:

Menikah, ya, lagi-lagi tentang menikah. Apa sih alasan kamu untuk menikah? Biasanya sih karena ingin punya pasangan secara halal dan legal. Namun, hati-hati jika karena 5 hal ini yang jadi alasan kamu untuk menikah.

Menjadi jomblo itu memang tidak enak, Bro. Sendirian terus, sementara yang lain sudah punya pasangan masing-masing. Namun, menikah memang tidak cuma untuk satu atau dua hari. Mungkin alasan kamu menikah ada di bawah ini?

1. Lelah Bekerja

Pulang ke rumah, menemukan pasangan kita dalam keadaan yang berseri-seri, harum, senyum manis dan menyambut kita dengan romantis, itu yang bagus dan top! Namun, apakah seperti itu terus keadaannya? Belum tentu juga ‘kan?

Pasangan kita yang di rumah juga sudah sibuk dengan pekerjaannya. Mungkin istri kamu menyapu, mengepel, membersihkan perabotan rumah tangga, membersihkan genteng (hah) dan lain sebagainya. Melelahkan. Menguras tenaga. Mungkin kamu yang di kantor merasa enak-enak saja, kebanyakan duduk di depan laptop, tetapi tetap merasa lelah. Yang lelah itu badanmu atau perasaanmu.

Ketika kamu merasa lelah, terus pulang ke rumah mendambakan pasangan selalu ramah menyambutmu, memang tidak mudah. Memang tidak gampang. Perlu kamu didik pasanganmu bahwa menyambut pasangan dari luar mencari nafkah itu sesuatu yang menjadi pahala berlimpah. Diberitahu seperti itu, belum tentu dia langsung ngeh, lho! Perlu kesabaran.

Baca Juga: Sepeda Cinta [Terinspirasi Dari Kisah Nyata]

Ada kalanya, justru kamu jadi lebih lelah setelah kerja di kantor. Rumahmu tampak berantakan, anak-anak mengacak barang-barang di sana-sini, sementara istri kamu malah enak-enak tidur. Mungkin dia betul-betul kecapekan menghadapi anak-anakmu. Di situlah kedewasaanmu sebagai seorang suami.

Usia dewasa tidak menjamin sikap dan kepribadian dewasa bukan? Nah, yuk, biasakan diri kita menjadi lebih dewasa. Lelah bekerja boleh, tapi semangat untuk menjadi luar biasa, jangan ikut lelah ya…

2. Usia yang Jadi Alasan Kamu Untuk Menikah? Takut Ketuaan?

Saya punya ipar yang dulunya belum menikah. Dia mengatakan kepada Saya bahwa dia memang sudah perlu untuk menikah karena usianya sudah 25 tahun. Dia merasa ketuaan jika terlalu lama belum menikah, apalagi dia seorang perempuan.

Lain lagi dengan teman Saya. Baru umur di bawah 25 tahun, sudah merasa agak ketuaan untuk menikah. Sementara jodohnya memang belum datang-datang, makanya belum menikah. Ya, iyalah!

Sebenarnya usia tua itu berapa sih? Ukurannya juga ambigu ‘kan? Umur 50 tahun belum tentu dikatakan tua lho, kalau untuk menduduki jabatan publik di pemerintahan misalnya. Usia itu cuma angka, kok! Ketika menjalani di usia itu, belum tentu pemikirannya pas dengan usianya.

Mau bukti? Misalnya, ada kasus kakek memperkosa cucunya. Ini contoh saja ya? Tidak perlu disebutkan link beritanya, karena malah mengumbar aib secara langsung. Hehe…

Seorang kakek itu jelas bisa dikatakan sudah tua. Namun, kok bisa ya, sampai memperkosa cucunya sendiri? Sementara itu adalah darah daging dari darah daging-darah dagingnya sendiri. Bukankah seharusnya seorang kakek itu sangat menyayangi cucunya, bahkan ada kalanya melebihi orang tuanya sendiri. Kalau sampai diperkosa, maka kakek itu jelas tidak bisa berpikiran dewasa. Dia tidak memikirkan akibat jangka panjangnya. Dunia dan akhirat.

Ada pula seorang anak kecil yang merawat orang tuanya. Kalau dari segi usia, masih anak-anak, tapi kok pemikirannya dewasa? Ini dewasa yang positif lho ya. Ada pula anak kecil yang pemikirannya terlalu dewasa, akhirnya malah pacaran. Aduh…

Jangan sampai kamu beranggapan karena usia yang sudah masuk tua, pada akhirnya siapa saja deh diterima lamarannya. Wah, itu repot juga! Mungkin ada pula seorang akhwat yang berpandangan, ah, yang penting berjenggot dan bercelana cingkrang. Rupanya, pemahamannya sufi. Rupanya, dia cikal bakal teroris karena pemahamannya Khawarij, suka mengkafirkan pelaku dosa besar. Atau jangan-jangan, dia beraliran Syiah. Hem, ngeri…!

Yuk, jangan jadikan menikah itu seperti buru-buru atau dikejar waktu, karena cinta di hati memang tidak bisa dipaksakan, Bro. Kamu kelihatan baik-baik saja di luarnya, tapi orang lain justru akan cuek bebek ketika hidupmu berjalan tidak semestinya. Orang boleh berkomentar, tetapi pengambilan keputusan ada di tanganmu sendiri.

Prinsipnya, boleh berpandangan menikah sekali saja. Ya, boleh-boleh saja sih, tapi ingat, bahwa kamu dulu menikah ketika masih jomblo. Lho, lho, sekarang…? Kalau kamu sudah punya pasangan, eng, ing, eng…. Hehe…

3. Menikah Demi Ingin Dapat Rasa Bahagia Saja

Adakah jaminan bahwa setelah menikah, akan bahagia terus…? Hem, siapa yang bisa menjamin, Bro? Tidak seterusnya lho menikah itu akan bikin kamu bakal bahagia terus. Kadang kamu akan merasa sedih, kadang pula kamu akan sendu. Lho, bedanya sedih sama sendu apa ya?

Berpikir bahwa kita mesti dibahagiakan oleh pasangan kita, maka ini yang perlu diluruskan. Jika alasan kamu untuk menikah karena pasangan punya kewajiban untuk bahagiakan kita, lha, terus kita sendiri bagaimana? Apakah sudah ada usaha kita untuk membahagiakan pasangan juga?

Baca Juga: Aku Bukanlah Pelakor [Diangkat Dari Kisah Nyata]

Dalam pernikahan, rasa kebahagiaan itu mesti dibagi, antara kita dengan pasangan. Bahagiakan diri kamu sendiri, baru pasangan kamu. Sebab, kalau kamu sendiri tidak merasa bahagia, logikanya bagaimana juga mau bikin dia bahagia?

4. Menikah Langsung Banyak Harta

Ada yang bilang sih, kalau kita menikah sama anak orang kaya, maka kita akan jadi kaya. Bahkan, menikahlah dengan anak perempuan yang orang tuanya sudah tua sekali dan terlihat sudah mau mati. Dengan begitu, diharapkan apa? Ya, apalagi kalau bukan warisan?!

Padahal, romantisme pernikahan itu adalah dimulai dari angka nol. Kayak Pertamina memang, apalagi dengar-dengar Ahok mau jadi pejabatnya di sana ya? Hehe…

Ketika kamu dan pasangan awalnya tidak punya apa-apa, dengan kerja keras, usaha, tambah dengan doa dan ibadah, maka Insya Allah hasilnya juga akan oke. Tapi, ini tidak selalu instan ya? Perlu kesabaran. Jadi, bukan makdendunduk, mak jegagik, ujug-ujug, setelah menikah, kita langsung punya harta banyak. Kalau seperti itu keadaannya, pastilah pernikahan itu terasa kurang ada manis-manisnya gitu. Ya, manis dalam perjuangan dalam hidup dilandasi oleh rasa cinta yang tulus dan suci. Weeh…

5. Menikah Untuk Mengejar Dapat Momongan

Seorang teman saya memperluas makna jomblo. Katanya, jomblo itu tidak selalu orang yang belum punya pasangan. Seperti kamu, ya ‘kan? Haha…

Rupanya, jomblo bisa dimaknai pula pasangan suami istri yang belum punya anak! Hah, yang bener ini?! Iya, begitu kata teman saya. Kalau tidak percaya, coba tanya saja sama dia!

Memang, harapan setiap pasangan suami istri adalah memiliki anak atau keturunan yang lucu, imut dan menggemaskan. Anak-anak itu bisa menjadi penerus perjuangan kita. Bisa menjadi amal jariyah kita. Bahkan, kalau anak kita banyak, bisa membanggakan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam di depan para nabi.

Tapi, tetap mesti diingat bahwa anak itu adalah pemberian dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Allah akan memberikan anak bagi pasangan suami istri yang memang siap untuk menerima anak. Ada kalanya, setelah setahun, seperti saya dan istri, lima tahun, bahkan lebih dari sepuluh tahun. Kakak saya sendiri belum punya anak, padahal menikah dari tahun 2007.

Kita tidak akan pernah tahu, kapan akan memiliki anak atau keturunan tersebut? Tetap berusaha dan berprasangka baik kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala ya…?

Kesimpulan

Sampai di sini, apa alasan kamu untuk menikah yang paling bagus? Pertanyaan ini, jawabannya adalah bisa karena merupakan ibadah kepada Allah. Tuntunan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Menyempurnakan separuh agama. Kita ingin hidup di dunia ini dengan pasangan kita demi menggapai surga. Bukankah setiap manusia itu diciptakan berpasang-pasangan? Kalau Allah sudah mengatur begitu, terus kamu masih belum punya pasangan halal, jangan-jangan kamu yang susah diatur? Hehe…

Pernikahan memang tidak mudah untuk dijalani. Tapi, menjadi jomblo, juga lebih-lebih tidak gampang untuk dialami. So, menikahlah, Bro, menikahlah!

Baca Juga: 9 Alasan Tanpa Pakai Adat Pernikahan

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share This:
error: Content is protected !!