Pembunuhan Balita, Karena Pengaruh Film Terhadap Remaja?

Pembunuhan Balita, Karena Pengaruh Film Terhadap Remaja?

Share This:

Jaman now, rasa-rasanya kok makin ngeri saja ya! Baru saja kita dengar ada pembunuhan balita yang dilakukan oleh remaja usia 15 tahun. Katanya sih, hal itu terinspirasi dari film. Wah, berarti karena pengaruh film terhadap remaja dong sampai muncul kasus begini?

Jika ada orang tua yang membelikan anaknya HP, smartphone, gadget, gawai atau apapun namanya itu, mestinya memang diimbangi dengan kewaspadaan yang tinggi sekali. Sebab, bisa jadi dan sepertinya begitu, bahwa orang tua banyak yang tidak tahu, apa sih yang dikonsumsi si anak? Tentu bukan mengonsumsi HP-nya lho! Tapi, isinya. Tayangan apa yang muncul di layar?

Menonton Film

Anak-anak sukanya memang film kartun. Tayangannya yang terlihat lucu, tokoh-tokohnya menggemaskan, ceritanya bikin ketawa dan gerakannya pun bebas sekali. Berbeda sekali dengan kehidupan nyata. Makanya, dunia imajinasi anak bisa terpuaskan dengan film-film tersebut.

Baca Juga: Kaum Rebahan Tetap Butuh Perubahan?

Namun, seiring usia anak hingga tumbuh remaja, film kartun tergantikan oleh film yang lebih serius. Canda-candaan mulai berganti dengan cinta-cintaan. Ada satu film yang bisa mengubah sikap para remaja. Film itu adalah horor atau thriller.

Memang sih, dalam film tersebut yang dijual adalah ketegangan. Mengagetkan. Bikin terkejut. Bahkan bikin berteriak. Ada lho orang-orang yang hobi sekali dengan film yang satu ini. Salah satu film yang disebutkan di sini adalah Chucky. Kamu tahu? Masih ingat? Ini bukan merek coklat lho! Wah, kalau itu Choky-choky! Hehe..

Remaja Pada Balita

Bagaimana sih beritanya kok bisa sampai viral begitu? Remaja membunuh balita. Ceritanya begini, tersangka NF (15) membunuh APA (5) di rumah NF di daerah Sawah Besar, Jakarta Pusat, Kamis (5/3/2020) lalu. Dugaan APA dibunuh NF saat berkunjung ke rumahnya. Korban dibunuh dengan ditenggelamkan ke bak mandi selama lima menit. Tidak cukup dengan itu, korban dicekik di lehernya. Ya, iyalah, di mana lagi selain di leher? Jenazah APA disembunyikan di dalam lemari oleh NF.

Keesokannya, tersangka beraktivitas seperti biasa. Tanpa merasa bersalah sedikitpun. Saat perjalanan menuju sekolah, tersangka berganti pakaian dan menyerahkan diri saja ke kantor polisi. Kasus dugaan pembunuhan tersebut masih diselidiki oleh Polsek Sawah Besar. Polisi akan memeriksa kondisi kejiwaan tersangka. Sebab si tersangka sendiri justru malah tidak menyesal. Dia malah puas. Lho, piye toh iki?

Kalau pengaruhnya karena film, maka bisa jadi. Sebab, ketika orang menonton film, maka dia fokus betul. Bahkan, untuk film-film sedih, bisa bikin mewek penontonnya. Katanya, film Korea juga begitu ya?

Kita mungkin masih ingat, tentang pengaruh film Joker. Musuh Batman yang merupakan orang psikopat, membunuh juga demi kesenangan. Atau film Saw, yang membunuh orang dengan perangkap-perangkap berbahaya. Contohnya saja orang yang diikat dengan besi di seluruh tubuhnya. Pada kepalanya, ada semacam capit yang siap menghancurkan. Capit itu bisa dibuka dengan sebuah kunci yang diselipkan di matanya. Ya, di matanya! Dia harus mengambil tindakan, mau mengambil kunci itu di dalam biji matanya atau membiarkan kepalanya pecah.

Ketika membunuh bagi banyak orang dianggap perbuatan dosa, tabu dan jelas efeknya buruk luar biasa, tetapi dalam film, disajikan dengan cukup gamblang. Dan, mudah sekali dicontoh karena film tersebut ‘kan ditayangkan di bioskop, tempat umum. Memang sih ada peringatan pada umur penontonnya, tapi apakah bisa dijamin semua bioskop menerapkan aturan itu?

Atau kalau tidak lewat bioskop, lewat streaming internet. Dari laptop atau HP, bisa banget. Anak-anak yang beranjak remaja sudah diberikan HP dan menonton dengan bebas di dalam kamarnya. Orang tua jelas tidak tahu, apa saja yang dibuka anak tersebut? Hem, pokoknya mengerikan deh jika sampai terjadi kasus seperti ini karena pengaruh film pada remaja.

Saran dari KPAI

Bagi para orang tua, hendaknya memang perlu diingat saran dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Semestinya para orangtua terus memantau kehidupan sosial anak, termasuk mewaspadai pengaruh film terhadap remaja atau anak-anak.

Hal ini disampaikan Komisioner KPAI Ai Maryati menanggapi pembunuhan remaja usia 15 tahun terhadap anak lima tahun di Sawah Besar, Jakarta Pusat. “Orangtua harus tahu pergerakan anak, dengan siapa dia bergaul. Dia sudah makan, belajar, tidur di rumah, tapi dalam ranah sosial? Jangan-jangan kita tidak tahu apa-apa,” kata Ai kepada Kompas.com, Sabtu (7/3/2020).

Kata Ai lagi, pada usia yang menginjak usia belasan tahun atau masuk usia remaja, sang anak bisa terdorong untuk melakukan hal-hal baru yang sebelumnya tidak diketahui. Apalagi, anak-anak jelas bisa disebut sebagai peniru ulung terhadap semua yang dia lihat atau saksikan.

“Anak-anak yang awalnya tidak penasaran jadi penasaran, yang awalnya tidak mau melakukan jadi melakukan, oleh sebab itu peran orangtua itu sangat urgent,” ujar Ai.

Kesimpulan

Pengaruh film terhadap remaja memang akan selalu ada. Dan, itu menjadi suatu tantangan tersendiri bagi orang tua jaman now. Di tengah kesibukan kerja dan tuntutannya yang makin menggila, orang tua juga dituntut untuk mengawasi anaknya, apalagi yang beranjak menjadi remaja.

Bagaimana cara terbaiknya? Paling utama dan pertama dilakukan adalah berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Orang tua mungkin banyak yang berdoa untuk peningkatan kariernya di kantor, meningkatkan penghasilannya dan tujuan-tujuan dunia yang lain. Tapi, berdoa untuk anak sendiri? Hanya orang tua sendiri yang bisa menjawabnya.

Baca Juga: 9 Alasan Tanpa Pakai Adat Pernikahan

Sumber: Kompas.com

Share This:
error: Content is protected !!