Selamat dan Sukses: Pelantikan Anggota DPR RI dan DPD RI 2019-2024

Selamat dan Sukses: Pelantikan Anggota DPR RI dan DPD RI 2019-2024

Share This:

Hari ini, tanggal 1 Oktober 2019, selain tanggal gajian bagi para pegawai instansi pusat, daerah mungkin sebagian, juga diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Selain itu, tanggal pelantikan anggota DPR RI dan DPD RI periode tahun 2019-2024.

Tentu, ucapan Selamat dan Sukses mengiringi pelantikan mereka sebagai wakil rakyat. Tercatat ada 575 orang wakil rakyat yang dilantik di Ruang Sidang Paripurna 1, Kompleks Parlemen. Oh, ya, untuk anggota DPD RI sebanyak 136 orang. Tiap provinsi diwakili oleh empat orang, berarti provinsi kita saat ini ada 34. Tolong dicatat ya! Siapa tahu lupa. Lumayan banyak dan semoga amanah untuk tempat memperjuangkan kepentingan rakyat Indonesia.

Pelantikan Anggota DPR RI dan DPD RI: Amanah Berat

Amanah itu memang sesuatu yang berat, bahkan sangat berat. Kadang, punya Aminah saja juga berat, apalagi kalau Aminah itu termasuk istri yang cerewet, mudah ngomel, jarang ngepel, suka main TikTok, tapi malah sering lupa tugas pokok. Waduh, siapa itu yang punya istri macam begitu?

Hal yang membuat amanah itu berat tentu karena harus dipertanggungjawabkan. Jika cuma berhenti di dunia sih, mungkin masih agak mending. Masalahnya adalah, pertanggungjawaban itu sampai juga di akhirat. Nah, sampai di akhirat, urusannya bisa panjang nih. Apalagi jika tidak cuma satu, dua, tapi banyak rakyat yang menuntut pertanggungjawaban terhadap anggota DPR RI dan DPD RI itu.

Saat pelantikan anggota DPR RI dan DPD RI itu terlihat hadir semua. Gedung jadi terlihat penuh. Mereka datang dengan penampilan terbaiknya. Bagi yang laki-laki memakai setelan jas, sedangkan yang perempuan anggun dengan kebayanya. Apakah nanti ketika sidang-sidang mereka juga akan penuh seperti itu? Bagaimana kalau mereka banyak yang membolos?

Ah, solusinya gampang! Mereka sudah menyiapkan diri untuk menerima amanah, pakai sumpah lagi pakai kitab suci sesuai agama mereka. Tentu, itu juga sumpah kepada Allah. Kiranya, mesti dijalankan sumpah itu, jangan malah akhirnya jadi sampah, karena menyia-nyiakan amanah.

Dibandingkan anggota DPR, DPD dan juga termasuk di sini MPR, yang lebih berat lagi adalah seorang presiden. Bagaimana dia memimpin 269 juta jiwa penduduk Indonesia? Bagaimana membuat negara ini makin maju, adil, makmur dan tentu juga diberkahi oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala? Membayangkannya saja sudah berat luar biasa, tapi toh tetap harus ada yang menjalaninya bukan? Masa jabatan itu dibiarkan kosong? Tidak mungkin, lah. Jabatan Presiden dan Wakil Presiden RI haruslah definitif, tidak boleh pakai Plt alias pelaksana tugas.

Baca Juga: Temukan 5 Manfaat Ketika Berhasil Menemukan Kepribadian Anda

Masih banyak orang yang sangat gembira karena punya jabatan baru. Ini manusiawi dan wajar. Sebab, strata sosial di masyarakat kita, masih menghargai orang yang punya jabatan. Apalagi untuk bisa terpilih menjadi anggota dewan tentu membutuhkan perjuangan yang tidak ringan.

Saya mau ambil contoh. Ada seorang caleg yang sudah menghamburkan uang satu setengah milyar lebih. Memberikan ke masyarakat dalam bentuk money politics, dengan harapan agar terpilih.

Nah, salahnya orang itu, tidak pakai konsultan politik, asal hambur uang saja. Nyatanya, malah tidak terpilih. Entah bagaimana nasibnya sekarang? Meskipun dia punya usaha sarang burung walet, tapi kegagalannya bisa jadi akan terus melengket.

Tentang jabatan, saya juga ambil contoh lain. Ada sebuah kompleks perumahan di Kota Kendari, Sulawesi Tengah. Halah, malah salah lagi. Kendari itu ada di Sulawesi Tenggara bagi kamu yang belum tahu. Hehehe…

Pada kompleks itu, ada satu rumah yang lantainya tiga, terlihat paling mewah dan megah. Nah, yang menarik adalah penghuni di situ punya jabatan penting sebagai pegawai di lingkup provinsi. Pangkatnya paling tinggi di antara tetangganya yang juga pegawai. Beberapa kali ganti jabatan, tetapi tetaplah paling tinggi. Makanya, beliau dihormati oleh tetangga atau warga kompleksnya, meskipun bukan sebagai ketua RT, RW, lingkungan atau semacam itu.

Namun, yang sempat dikhawatirkan rupanya terjadi juga. Kita mungkin tahu, bahwa PNS daerah itu kadang dilema ketika dihadapkan dengan kontestasi pemilihan kepala daerah secara langsung. Siapa yang akan mereka dukung? Padahal kan jelas harus ada netralitas ASN dalam pemilihan.

Ketika ada kepala daerah yang terpilih, maka bisa jadi kena imbas bagi ASN di daerah tersebut. Salah satunya adalah nonjob, dimutasi dari jabatan sebelumnya. Jika jabatan barunya setara atau minimal masih ada jabatannya, maka masih mendingan. Tapi, tidak sedikit juga yang betul-betul jadi tanpa jabatan. Padahal dari pangkatnya itu, semestinya memang harus punya jabatan.

Lucunya, jika yang menggantikan punya pangkat lebih rendah daripada yang digantikan. Seperti di kompleks perumahan itu, yang ganti satu tingkat di bawahnya. Kok bisa? Itu dia pertanyaannya. Selama birokrasi masih belum pakai merit system, maka fenomena itu masih akan terjadi. Oh, ya, merit system itu bukan sistem menikah ya? Beda jauh itu!

Jadi, pada akhirnya, kemegahan rumah itu pun terasa hampa karena yang menghuni jadi berbeda dengan tetangganya lagi. Dulu lebih tinggi, sekarang lebih rendah. Hem, begitulah kehidupan ini. Filosofinya adalah seperti roda pedati: kadang di atas, kadang di bawah, kadang pula menginjak kotoran! Dan, prinsip selanjutnya adalah: kalau sudah enak di atas, jangan lupa sama yang di bawah! Sip, setuju?

Ada yang Unik

Lora Fadil, Anggota DPR RI dari Partai Nasdem dengan Tiga Istri yang Masih Muda

Apa yang unik dari pelantikan anggota DPR RI kali ini? Seorang anggota bernama Lora Fadil dari Partai Nasdem. Beliau membawa ketiga istrinya saat pelantikan. Berarti beliau adalah seorang praktisi poligami. Menjadi praktisi memang jauh lebih baik dan nyata daripada mereka yang selalu bicara poligami, tapi tidak pernah jadi.

Orang yang cuma teori tok tanpa praktek itu diibaratkan oleh Ustadz Firanda sebagai petir terus tapi tidak hujan-hujan. Malah jadinya nanti PHP, lho! Dikira mau hujan, nyatanya cuma guntur. Terdengar kencang, tapi untuk hasilnya: nol besar! Siapakah itu? Sepertinya banyak yang begitu ya? Haha…

Susunan Pimpinan DPR RI dan DPD RI

Tiap lembaga pastilah ada pimpinannya. Ada kepalanya. Ada orangnya yang punya kedudukan lebih tinggi. Ada ketua, pastilah ada anggotanya.

Pada hari ini pula, sekitar jam 19.30 WIB, ditetapkan lima pimpinan DPR RI dalam rapat paripurna perdana DPR. Rapat tersebut dipimpin oleh Abdul Wahab Dalimunthe dari Fraksi Demokrat. Yang terpilih sebagai pimpinan DPR RI adalah: Puan Maharani dari PDIP sebagai ketua, Azis Syamsuddin dari Golkar, Sufmi Dasco dari Gerindra, Rachmat Gobel dari NasDem dan A. Muhaimin Iskandar, masing-masing sebagai wakil ketua.

Tercatat selama sejarah negeri ini, baru kali ini ada Ketua DPR RI perempuan. Tentu ini menjadi sejarah baru bagi bangsa ini dan langsung dikomentari. Biasanya, setiap orang itu akan punya komentar yang bermacam-macam. Bahkan, ada yang malah nyinyir. Jelas orang nyinyir, maka bisa jadi akan bau anyir.

Nyinyiran yang menurut saya paling lucu dan menggelitik itu adanya di Twitter. Media sosial yang satu ini memang unik. Katanya sih isinya orang-orang menengah ke bawah. Makanya, ketika Atta Halilintar masuk ke Twitter, eh, malah diusir ramai-ramai! Coba deh kamu main ke sana, kamu akan temukan dunia yang berbeda dengan Facebook dan Instagram.

Nah, mereka berlima ini yang lebih harus diucapkan selamat dan sukses karena jabatannya lebih tinggi. Dan, untuk selanjutnya, kita lihat kiprah mereka di periode 2019-2024, semestinya sih lebih baik. Hati-hati, mahasiswa dicampur dengan anak STM masih bisa ada kesempatan buat turun ke jalan lagi.

Sedangkan untuk DPD RI, terbagi ke dalam empat ketua, masing-masing sebagai berikut: Sultan Baktiar telah terpilih menjadi Ketua Subwilayah Barat I, La Nyalla Ketua Subwilayah Barat II. Sedangkan Nono Sampono menjadi Ketua Subwilayah Timur I dan Mahyudin Ketua Subwilayah Timur II.

Lho, kok bisa empat orang Bos? Rupanya hal itu berdasarkan Peraturan DPD Nomor 2 Tahun 2019 tentang Tata Tertib (Tatib). Disebutkan bahwa pimpinan DPD RI terdiri atas empat orang, merupakan ketua dari tiap subwilayah. Ohh gitu… Jadi jelas ya…

Pada akhirnya, berikan kesempatan kepada para anggota DPR RI dan DPD RI, begitu pula anggota DPRD Provinsi dan Kabupaten/Kota yang juga dilantik hari ini di seluruh Indonesia untuk bertugas karena baru juga sehari, sudah minta ditagih kinerjanya saja. Termasuk juga janji-janji politiknya lho! Katanya, janji politik itu ibarat janji pernikahan. Awalnya terdengar manis, setelah itu lupa segalanya. Hem…

Hal yang harus selalu diingat adalah jabatan itu berasal dari rakyat. Bila yang mengembannya tidak amanah, maka rakyat yang akan mengambilnya kembali. Telan ludah. Ngeri!

Baca Juga: Mencari Recehan Dunia, Aduhai Asyiknya!

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
2
Share This:
error: Content is protected !!