Bagaikan Menyajikan Makanan dengan Penampilan yang Menarik

Bagaikan Menyajikan Makanan dengan Penampilan yang Menarik

Share This:

Siapa di sini yang belum pernah makan di restoran? Tempat tersebut memang menyajikan makanan dengan penampilan yang menarik. Kalau belum pernah makan di restoran, lewat di depannya pernah?

Begitulah, restoran atau warung makan begitu menjamur di negeri kita. Aneka sajian sampai dengan harga yang bermacam-macam. Ada yang sekali makan bisa sampai ratusan ribu hingga jutaan, ada pula yang cuma puluhan atau kurang daripada itu.

Kesan Pertama

menyajikan-makanan-dengan-penampilan-yang-menarik-2
Kokinya mau bikin masakan apa ini ya?

Apakah restoran yang ramai itu selalu enak? Apakah warung makan yang penuh parkirannya itu makanannya selalu yahud? Ternyata, tidak juga! Sebab, makanan dikatakan enak itu memang beda persepsi.

Ya, meskipun ada yang menyajikan makanan dengan penampilan yang menarik, tetapi rasa dan kesukaan memanglah tidak sama. Roti bakar coklat bagi si Udin dan Lutfi tidak dinilai satu rasa. Meski sama roti bakar, tetapi yang untuk Udin, hangat-hangat, sedangkan untuk Lutfi sudah sebulan yang lalu. Ini tentu tambah berbeda.

Namun, untuk bisa memancing selera penyantap, memang sangat perlu menyajikan makanan yang menggiurkan. Ini tidak hanya berlaku untuk orang tua atau orang dewasa seperti kita, tetapi juga anak-anak.

Bagi anak-anak, telur dadar, jika diberikan hiasan mata, hidung dan mulut, pastilah akan membuat anak-anak makin berselera untuk makan. Kita juga lihat, aneka perlombaan memasak, termasuk kriteria penilaian adalah sajian yang aduhai.

Enak, itu nanti dulu. Sedap, itu urusan belakangan. Yang penting, sajian makanan memanjakan mata, maka itu sudah jadi poin plus. Ngomong-ngomong, poin plus ini adalah nama percetakan di daerah Jakarta lho! Terus, kenapa itu ya?

Ini Juga Sama

menyajikan-makanan-dengan-penampilan-yang-menarik-3
Salah satu mesin cetak

Kalau tadi kita bicara tentang makanan, yang notabene santapan secara fisik. Mengenyangkan perut, menghilangkan rasa lapar, dan bisa jadi, hem, membuat gemuk, seperti yang kamu alami itu.

Apakah makanan untuk manusia itu selalu berwujud yang saya ceritakan baru saja? Oh, tidak harus, Margareta. Ada juga makanan yang bermanfaat untuk otak. Sebut saja buku. Ya, namanya adalah buku.

Benda yang satu ini sudah dikenal sejak cicak kakinya tiga – ini anekdot untuk zaman yang sudah sangat lama – sebagai sumber pengetahuan. Sumber ilmu. Sumber keterampilan. Walaupun pada era medsos, jelas artinya media sosial, bukan media sosis, yang katanya serba digital itu, buku tetaplah dibutuhkan orang.

Baca Juga: Awalnya Sakit Berlubang, Rupanya Malah Nyawa Melayang

Nah, seperti santapan di mulut dengan cara menyajikan makanan dengan penampilan yang menarik, buku juga mesti menarik perhatian untuk pertama kalinya. Bayangkan saja, ratusan jenis buku di toko semacam Gramedia, pastilah mereka saling bersaing untuk merebut hati konsumen.

Dari faktor ini, sangat dibutuhkan peran penerbit. Selain dari nama yang tugasnya memang menerbitkan buku, penerbit juga punya kemampuan khusus untuk membuat buku jadi lebih menarik.

Bisa dengan kaver yang eye chatting, halah, salah tulis, maksudnya eye catching, font yang lebar dan tidak kaku, serta warna yang membuat berhenti bernapas saking bagusnya. Asal jangan terlalu lama berhenti ya!

Setiap penulis pastilah bekerja sama dengan penerbit, itu jamak terjadi. Penulis butuh penerbit, penerbit butuh penulis, sedangkan aku butuh kamu. Wuidih!

Kerja sama antara penulis dan penerbit bagaikan simbiosis mutualisme. Maaf yang dahulu pelajaran Biologi mungkin membolos, saya jelaskan bahwa simbiosis ini memang saling menguntungkan.

Seperti kupu-kupu dengan bunga. Kupu-kupu dapat nektar, sedangkan bunga diuntungkan dalam proses penyerbukannya.

Kalau ada anak mencontek di kelas, jelas itu bukan simbiosis mutualisme. Bahasa Jawanya yang lebih cocok malah simbiosis ora mutu! Hehe…

Kali Ini

Meskipun subjudulnya pakai kali, tetapi ini bukan berarti sungai. Sebab, sekarang sungai sudah sulit untuk menjadi tempat berenang. Sudah banyak limbah. Kalau tidak bisa berenang dan bermain-main di sungai dunia ini, semoga nanti kita dapat sungai di surga ya?! Aamiin..

Untuk pelatihan atau belajar menulis bersama Om Jay seperti yang sudah atau sering saya buat, pada hari Senin (02/11), narasumbernya adalah dari penerbit Andi. Bahkan beliau adalah direkturnya. Nama beliau adalah Joko Irawan Mumpuni.

Dipandu oleh moderator, seorang ibu bernama Aam Nurhasanah. Untuk menegaskan resume ini, berikut bannernya:

menyajikan-makanan-dengan-penampilan-yang-menarik-1

Pemberian materi dari Joko Irawan Mumpuni memang agak berbeda daripada biasanya. Bukan karena beliau adalah bos penerbit terkemuka di negeri ini, tetapi tidak disampaikan melalui kolom chat di WA.

Apa alasan beliau melakukan itu? Apakah karena tidak suka mengetik lewat aplikasi hijau itu? Oh, ternyata bukan karena alasan tersebut. Jawaban benarnya adalah agar tidak dicopas oleh peserta, lalu dipindahkan ke blog mereka.

Meskipun dengan emoticon senyum, tetapi sebenarnya itu sangat menohok, dan tidak ada kaitannya dengan Ahok. Intinya, menusuk ke sumsum tulang kaki, halah, agar jangan copas ya.

Disalin dari perkataan narasumber, lalu dipindahkan begitu saja di blog. Pada akhirnya, banyak yang mirip.

Tentang pemberian materi lewat suara ini memang lebih hemat sebenarnya bagi sang narasumber. Sebab, misalkan bicara sampai lima menit saja lewat voice note, sudah berapa kata itu jika ditulis? Ya ‘kan? Oleh karena itu, bagi narasumber lebih bagus pakai voice note, asal peserta jangan ikut-ikutan ya! Nanti jadinya vlog bukan blog.

Jenis Buku yang Diterbitkan

menyajikan-makanan-dengan-penampilan-yang-menarik-4
Pilihan beragam dari buku yang ada

Ketika kita datang ke toko buku, baik cuma mau lihat-lihat maupun tidak membelinya, biasanya begitu, jelas beraneka macam buku ada. Rata-rata sih dalam kondisi diberi plastik. Jadi, kita hanya membaca kaver atau halaman belakang saja.

Saat saya masih di Jogja, Gramedia membuka tempat duduk bagi pengunjung untuk membaca buku. Yah, semacam panggung kecil begitu, lah.

Hal yang tidak saya sangka, ibu saya kena tegur waktu duduk di situ. Katanya, itu untuk anak-anak. Padahal ibu saya ‘kan termasuk orang tua, lebih kuat anak-anak ‘kan? Semestinya anak-anak tidak perlu duduk segala.

Namun, ya, begitulah, toh bukan saya yang punya toko buku. Panggung kecil tersebut untuk anak-anak baca buku mereka sebelum membeli. Yah, kalau ada uangnya sih. Haha…

Tentang Buku Teks

Menurut Joko Irawan, buku di dunia ini ada dua, yaitu: buku teks dan nonteks. Lho, Mas, bukannya semua buku itu ada teksnya? Ya, memang benar! Maksudnya di sini adalah pembagian jenis atau fungsinya.

Buku teks menyangkut buku-buku pelajaran di sekolah, sedangkan buku nonteks di luar itu, untuk pembaca umum. Tahu tidak, buku teks juga terbagi menjadi dua lho? Mas, Mas, maksudnya bukunya dibelah dua begitu ya? Rusak dong?! Aduh, tepuk jidat dulu!

Jenis buku teks yang saya sebutkan tadi untuk pelajaran biasanya disesuaikan dengan konsumennya. Buku teks untuk tingkat PAUD, TK, SD, SMP, SMA sampai SMK. Buku teks perguruan tinggi ya jelas untuk mereka yang masih kuliah.

Baca Juga: Menjadi Mahasiswa Sempurna dalam Versi Lain

Ternyata, terbagi lagi lho! Buku perguruan tinggi itu ada eksak dan noneksak. Pembagian eksakta dan noneksakta kiranya sudah diketahui bersama-sama. Pendidikan di perguruan tinggi memang lebih banyak daripada sekolah biasa. Makanya, yang menjalaninya dinamakan mahasiswa. Sedangkan kekasihnya bernama mahasiswi. Wah!

Tentang Buku Nonteks

Bagi yang sudah tidak lagi sekolah, baik DO maupun lulus, semestinya membaca buku-buku nonteks. Kamu bisa baca buku fiksi. Yang ini sih kaitannya dengan cerita-cerita fiktif, ya, novel, ya, cerpen, ya, novelet, ya, cerita anak. Kisah-kisah yang ada kadang membuat kita merenung. Selain jalan ceritanya, merenung juga karena harganya yang masih lumayan tinggi. Hem…

Ada lagi buku nonfiksi. Salah satu buku nonfiksi yang terbaik adalah buku-buku agama Islam. Misalnya: tentang tafsir Al-Qur’an, hadits Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, adab, tauhid, ibadah, fiqih, muamalah dan sebagainya.

Berikutnya buku nonfiksi yang penting juga adalah buku motivasi alias pengembangan diri. Maaf, berkembang di sini bukan berarti perutnya yang berkembang ke depan. Itu namanya bucin, eh, buncit. Kalau bucin sih biasa dialami anak jaman now, kepanjangannya budak cinta.

Membaca buku-buku motivasi itu memang kita akan mendapatkan semangat. Terasa segar kembali setelah mungkin kita dilanda masalah bertubi-tubi. Terasa galau dan butuh sekali penyegaran. Nah, di situlah buku-buku positif berperan.

Meskipun yah, bukan jaminan kita membaca buku-buku motivasi atau tentang kesuksesan, terus jadi sukses seketika, jadi kaya mendadak. Sebab, sudah lumayan banyak yang bertanya seperti itu. Tetaplah, dari dalam diri sendiri yang paling berperan.

Apa gunanya baca buku banyak-banyak kalau akhirnya jadi malas-malasan? Ya ‘kan? Apalagi tambah tidak baca buku, lebih malas lagi! Tepuk jidat kucing, deh!

Para Pelakunya

menyajikan-makanan-dengan-penampilan-yang-menarik-5
Mas, Mas, difoto kok tidak senyum sama sekali sih? Sombong ya?

Terbitnya sebuah buku memang diawali dari seorang penulis. Dia menyiapkan ide, mencari bahan atau referensi, mulai menulis, merevisi, edit sana-sini, lalu mengirimkannya ke penerbit.

Tim yang ada di penerbit berusaha melahirkan buku yang bagus. Bagaikan menyajikan makanan dengan penampilan yang menarik.

Mungkin ada yang bertanya-tanya, apakah sebuah buku itu mesti ditulis oleh satu orang saja? Oh, jawabannya tidak harus! Maksudnya, jawabannya tidak harus satu orang, bukan berarti tidak harus orang lho ya! Masa jin bisa menulis buku? Hadeh…

Mau satu penulis, dua orang, satu tim, bahkan kerja sama antarlembaga itu bolah-boleh saja. Terserah. Buku saya sebelumnya adalah kumpulan cerpen. Namun, isinya terdiri dari lima puluh orang penulis. Hasil lomba yang telah berlangsung selama sepuluh tahun dijadikan satu.

Lumayan tebal sampai 500 halaman. Sampai sekarang, saya juga belum membacanya sampai selesai. Bahkan belum dihafalkan juga. Hah, dihafalkan?

Buku yang mungkin belum banyak orang tahu, ada yang namanya konsorsium penulis. Beberapa penulis tergabung menjadi satu buku. Biasanya ini pada tingkat universitas. Mengumpulkan dosen maupun guru besar dan menulis satu bab-satu bab.

Baca Juga: KKN, Dari Kormanit Menjadi Kormanut

Sistem konsorsium atau mungkin bisa dianggap sistem keroyokan akan membuat satu sama lain termotivasi. Misalnya, si A sudah selesai, si D malah belum. Jadi, baku cepat dalam menyelesaikan.

Tentu, harus diperhatikan juga kuantitasnya ya! Jangan karena buru-buru, meninggalkan mutu.

Motivasi Untuk Penulis

Masih banyak orang yang mengaku tidak bisa menulis. Mungkin saya ambil contoh emak-emak. Kalangan ini memang termasuk kaum yang tidak bisa dikalahkan. Bisa sesuka-suka mereka.

Yah, contoh mudahnya sih ada sebuah video saat seorang emak pakai motor, malah menerobos kendaraan lain alias melawan arus. Eh, malah kendaraan lain yang dimarahi! Dia sendiri yang merasa paling benar. Lho, piye toh iki?

Contoh lain, yang mungkin masih kita ingat, seorang emak pasang lampu sein ke kanan, malah beloknya ke kiri. Sudah cukup banyak contoh seperti ini di jalanan, melalui video-video viral. Lama-kelamaan, malah dimaklumi saja. Makanya, kita harus hati-hati di jalan dan lebih berhati-hati lagi apabila di belakang emak-emak pakai kendaraan!

Kembali ke masalah tulisan tadi. Emak-emak mengaku tidak bisa menulis sama sekali. Akan tetapi, ketika ada masalah rumah tangga, eh, tulisannya mengalir lancar di medsos.

Dia cerita tentang kelakuan suaminya, anak-anaknya, repotnya saat mengurus mereka, masalah dengan mertua, maupun nafkah yang kurang! Walah..

Tulisan tersebut bisa panjang sekali dalam satu kali status. Saya pernah menemukan seperti itu. Teman kantor saya, istrinya juga teman saya. Dia mengeluhkan suaminya yang rutin sekali merokok. Perokok berat? Maksudnya, rokoknya punya berat lima kilogram? Olala!

Dalam hati saya, istri yang mengeluh suaminya perokok, jadi timbul pertanyaan: “Lha, dulu kenapa mau nikah sama dia? Bukankah sudah tahu sebelum menikah bahwa dia perokok? Kok baru mengeluh sekarang?”

Ya ‘kan? Bagaimana menurut kamu sendiri? Sifat dan karakter suami paling tidak tercermin sebelum menikah. Calon pasangannya mesti tahu yang begitu. Oleh karena itu, harus dengan nadzor kalau dalam syariat Islam. Melihat calon pasangan.

Jika ingin menikahi seorang perempuan bercadar, maka cadarnya harus dibuka waktu melamar. Harus tahu wajahnya. Ini agar tidak seperti membeli kucing dalam karung. Mungkin peribahasa itu muncul saat lihat kucing ikut lomba balap karung ya?

Ternyata Bisa dan Dilema

Dari status yang panjang di media sosial tersebut, sebenarnya setiap orang bisa menulis kok. Dan, memang kaidahnya begitu ‘kan? Seperti narasumber di tulisan ini, diajarkan menulis oleh guru SD-nya. Kita juga sama, diajarkan oleh para guru.

Jadi, tidak ada kata tidak bisa menulis. Namun, untuk diterbitkan itu perkara lain. Memang tidak semua penulis bisa muncul karyanya di penerbit mayor, seperti penerbit Andi ini. Sebab, lolos maupun tidaknya ke penerbit itu memang ada faktor keberuntungan juga sih.

Baca Juga: 7 Manfaat Apel Pagi

Perlu kita ingat, bahwa sejatinya penerbit adalah pengusaha juga. Mereka akan berusaha agar hasil terbitan mereka bisa diserap pasar. Oleh karena itu, wajar tidak sembarang naskah diterima. Bayangkan saja, kerugian yang dialami penerbit jika bukunya tidak banyak yang laku. Akhirnya cuma menumpuk di gudang.

Tidak cuma itu. Penerbit juga dihadapkan dengan minat baca yang kurang dari masyarakat.  Tapi tunggu dulu! Mengenai minat baca yang kurang ini, saya membuka sebuah data yang dikutip dari Tribunnews.

Portal diskon CupoNation dalam laporan penelitiannya, ternyata Indonesia menempati urutan keempat pengguna media sosial terbesar di dunia. Penggunanya mencapai 120 juta atau 44,94 % dari total populasi. Ini data tahun 2019.

Mengherankan! Sebab, media sosial itu ‘kan notabene berisi banyak tulisan. Bahkan, lebih banyak tulisan daripada gambar atau video, tetapi justru penggunanya termasuk sangat banyak di Indonesia.

Berarti, bagaimana ya menjelaskan fenomena ini? Dikatakan minat baca kurang, tetapi rajin membaca di media sosial. Saya kembalikan ke kamu saja deh.

Siapa Mau Jadi Penulis?

Menurut Joko Mumpuni, menjadi seorang penulis itu membentangkan rezeki bagi orang lain. Misalnya: naskahnya sudah diterima oleh penerbit. Nah, dari situ, editor, layouter, desainer kaver, distributor sampai penjual buku bisa terciprat rezeki. Oleh karena itu, beliau mengatakan, penulis amalnya akan banyak di surga.

Namun, kalau menurut saya, ini khusus untuk penulis yang karyanya bermanfaat. Sedangkan, karya atau tulisan yang tidak bermanfaat atau membuat pembacanya berbuat dosa, jelas belum tentu dong!

Menjadi tantangan memang bagi penulis. Sebab, seperti yang pernah saya katakan dalam blog ini, bahwa hidup ini seperti pelajaran anak TK. Kalau kita tidak mewarnai, kitalah yang akan diwarnai.

Sejatinya, menghasilkan buku yang bermanfaat memang bagaikan menyajikan makanan dengan penampilan yang menarik. Diulang lagi di sini deh. Buku sebagai makanan pikiran dan jiwa, apakah akan jadi makanan yang bergizi atau beracun? Itulah pertanyaannya.

Jadi, tulislah karya yang berguna untuk orang lain. Ditambah juga yang bisa mendekatkan mereka ke jalan Allah. Dengan demikian, penulis tidak hanya beramal untuk dunia, tetapi sampai ke akhirat kelak.

Baca Juga: Menciptakan Masjid Ramah Anak: Dua Kisah Nyata

Share This:

6 Comments

Silakan tinggalkan komentar ya!

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi ya!

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!