Cara Enak Menjelaskan Virus Corona ke Anak

Cara Enak Menjelaskan Virus Corona ke Anak

Share This:

Subhanallah. Menurut Juru Bicara Pemerintah RI untuk COVID-19 Achmad Yurianto, tercatat ada lagi tambahan 35 pasien yang positif terjangkiti corona, dua di antaranya adalah balita, Jum’at (13/03). Wah, ada balita rupanya! Kalau begitu, bagaimana cara menjelaskan virus corona ke anak?

Menurut Achmad, dua balita tersebut tertular virus Corona dari orang tuanya yang memang sudah sakit. Buah memang tidak jauh jatuh dari pohonnya. Orang tua sakit, anaknya ikut terkena. Waduh, mengerikan juga! Apakah berita ini sampai juga ke anak-anak kita? Kalau ada di antara mereka yang tahu, jangan sampai juga timbul kepanikan.

Menjelaskan virus Corona ke anak memang membutuhkan seni tersendiri. Sebab, yang dihadapi adalah anak-anak, berbeda dengan orang dewasa. Jangan disamakan bahwa anak-anak itu adalah orang dewasa mini. Atau malah dianggap orang dewasa itu adalah anak-anak maksi. Sama sekali berbeda.

Terlebih bila ada pengumuman tentang sekolah diliburkan selama 14 hari. Jangan-jangan anak-anak malah senang luar biasa! Padahal, ada hal yang perlu diterangkan lebih lanjut tentang diliburkan selama 14 hari tersebut.

Baik, kita masuk saja di inti dari tulisan ini, bagaimana cara menjelaskan virus Corona ke anak-anak kita?

1. Arahkan Untuk Tertuju Kepada Allah Ta’ala

Pada dasarnya, munculnya virus Corona ini karena memang takdir dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Jelas bahwa Allah Ta’ala sudah mencatatkan takdir 50.ooo tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Nah, jadi sebenarnya tidak perlu terlalu merasa khawatir, baik untuk orang tua maupun anak-anaknya. Semuanya masih berada dalam takdir Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Pasti terjadi karena izin Allah.

Namun, ya, jangan langsung menyerah begitu saja pada takdir. Tetap harus ada usaha atau ikhtiar dari manusia untuk bisa mencegah lajunya virus tersebut atau sembuh apabila terkena. Arahkan anak-anak untuk berdoa dan meminta pertolongan kepada Allah, sebelum meminta kepada yang lainnya. Setuju?

2. Perlu Ada Suasana Aman, Nyaman dan Tenang

Mungkin saja anak-anak kita melihat dari HP sendiri (hah, mereka dikasih HP sendiri?) atau dari HP saudara atau temannya tentang munculnya virus Corona tersebut. Mereka mungkin juga tahu bahwa virus Corona itu diberi nama Covid-19. Ini saya juga baru tahu tadi lho! Hehe…

Covid-19 berasal dari kata Corona Virus Disease 2019. Awalnya ‘kan memang dari tahun 2019. Dan, Covid-19 ini tidak ada kaitannya sama sekali dengan Dewa 19. Nah, yang generasi tuir pasti tahu itu.

Sebelum menjelaskan virus Corona ke anak, pastikan anak memang sudah tenang, tapi bukan tidur lho! Bicaralah saat kondisi mereka sudah siap. Ya, siap melihat, siap mendengarkan, siap memperhatikan. Sebab, jika tidak tenang, percuma saja, karena orang tuanya yang akan capek dalam menjelaskan. Malah yang ada bisa jadi marah-marah, orang tua ngomong berbusa-busa, si anak malah lari sana-sini. Atau malah main HP. Kan parah itu!

3. Update Berita

Agar anak-anak lebih paham, ceritakan dengan jujur kondisi terkini kepada mereka. Usahakan agar orang tua lebih duluan tahu daripada anak-anak. Bukankah orang tua juga selalu membawa HP ke mana-mana? Nah, manfaatkan situs-situs berita yang ada untuk memperoleh informasi terbaru tentang virus Corona.

Baca Juga: 10 Perkataan yang Merusak dan Meruntuhkan Dunia Anak

Kalau orang tuanya up to date, maka anak-anak yang bertanya akan memperoleh jawaban memuaskan. Dan, juga perlu diingat, bahwa usia anak memang berbeda-beda. Menjelaskan virus ini pada anak usia 7 tahun dengan 12 tahun, berbeda sekali. Orang tua mesti paham bahasa kepada anak disesuaikan dengan usianya. Akan terlihat lucu, apabila untuk anak usia enam tahun, orang tua menggunakan istilah kedokteran, kebijakan pemerintah dan istilah lain kaitannya dengan virus ini.

4. Fokuslah Pada Mereka

Ketika menjelaskan virus Corona ke anak, selain orang tua meminta perhatian dari mereka, juga harus fokus ke anak ketika mereka bertanya tentang virus ini. Saat orang tua di rumah, anak-anak datang, padahal si orang tua sedang kerja atau main HP (PUBG misalnya), maka lebih baik alihkan dulu perhatian orang tua kepada anak tersebut.

Bila hal tersebut tidak didapatkan oleh anak, maka mereka akan mencari informasi sendiri, jalan tersendiri. Ya, kalau benar, tapi kalau salah? Lebih bagus memang langsung ke orang tuanya, lah!

5. Hindari Foto atau Gambar yang Mengerikan

Ini juga menjadi sikap terbaik menjelaskan virus Corona ke anak-anak kita. Beberapa waktu yang lalu, ada video tentang virus ini, orang-orang yang tiba-tiba berjatuhan ke lantai. Ini ‘kan cukup mengerikan bagi anak-anak. Mereka bisa teringat dalam waktu lama melihat tontotan seperti itu.

Cobalah untuk memilih atau menyeleksi gambar atau video yang pas sesuai usia anak dan tidak tampak mengerikan. Misalnya, tentang petugas kesehatan yang menggunakan baju pelindung. Itu tidak terlihat mengerikan, tetapi berkesan bagi anak, jika orang tua menjelaskan bahwa itulah perjuangan keras dari para tenaga kesehatan.

6. Tetap Beraktivitas

Duduk, diam, tidur, jelas tidak produktif. Meskipun ada wabah virus Corona, anak-anak tetap diupayakan menjalani aktivitas sehari-harinya. Kalau ada pengumuman dari pemerintah bahwa sekolah diliburkan sementara, ya, ditaati saja. Tapi, itu ‘kan arahan untuk anak-anak agar tetap di rumah. Jangan dipakai buat liburan! Berkumpul dengan banyak orang yang mungkin saja ada yang terjangkiti virus Corona. Kalau itu mah cari penyakit namanya.

Aktivitas anak seperti bermain, belajar, makan, minum, sholat (fase belajar atau bagi yang sudah diwajibkan di atas 10 tahun), mandi dan tidur, tetap dijalankan setiap hari. Mungkin ada sedikit variasi jika kondisinya tidak seperti biasanya.

Adanya rutinitas bagi anak-anak agar hidup mereka tetap dijalankan dengan tertib dan rapi. Selain itu, juga menghindari kecemasan yang berlebihan pada diri mereka.

7. Hindari Menyalahkan Siapapun

Awalnya bisa jadi virus ini muncul dari kota Wuhan, Tiongkok, karena penduduknya di sana sebagian suka makan daging kelelawar. Hewan kelelawar yang hidupnya saja jauh dari manusia, kok malah dikonsumsi? Persepsi seperti itu bisa pada diri orang tua yang menyalahkan penyebab virus ini muncul. Sebenarnya, tidak usah disalahkan, karena toh sudah muncul. Tugas kita selanjutnya adalah mencegah virus ini agar tidak semakin meluas dan mengobati orang-orang yang terkena.

Baca Juga: Menciptakan Masjid Ramah Anak: Dua Kisah Nyata

Jika orang tuanya terlihat menyalahkan, bahkan memaki-maki ke orang Tiongkok misalnya, maka anak-anak jelas akan mencontoh. Pada akhirnya, hal itu akan terekam dengan jelas di pikiran mereka bahwa virus Corona ini bukan tanggung jawab bersama. Masa mau disalahkan kelelawarnya? Bukankah kelelawar itu adalah simbol salah satu pahlawan pembela kebenaran. Halah, malah bahas tokoh kartun lagi!

8. Tumbuhkan Kebiasaan Baru

Adanya virus Corona ini sebenarnya ada hikmah juga lho! Apalagi kalau bukan kesadaran terhadap kebersihan yang makin meningkat. Awalnya, anak-anak kita dari luar rumah, bisa jadi tanpa cuci tangan, langsung pegang makanan. Nah, sekarang mesti dibiasakan untuk cuci tangan minimal selama 20 detik dengan sabun dan air yang mengalir.

Begitu juga dengan tidak sembarangan berkumpul dengan banyak orang, apabila memang tidak diperlukan. Atau kebiasaan salaman sambil cium tangan kepada orang yang lebih tua, lebih bagus tidak dilakukan dulu.

Hindari langsung menyentuh wajah sebelum cuci tangan yang benar. Hati-hati terhadap orang yang flu atau bersin-bersin terus. Semua kebiasaan yang mungkin baru bagi anak tersebut akan mudah ditiru apabila orang tuanya juga melakukan.

Oh, ya, kebiasaan baru ini juga berlaku pada bayi. Biasanya, orang tua atau anggota keluarga yang lain saking gemasnya pada anak bayi, begitu tiba, langsung diciumi. Memang sih menyenangkan mencium kulit yang masih sangat mulus itu, tapi apakah ada jaminan bahwa mulut si pencium itu bersih? Belum tentu bukan? Makanya itu, hindari dulu urusan cium-mencium ini.

9. Bersabar dan Terus Bersabar

Kata sebagian orang, sabar itu ada batasnya. Wah, kalau memang sabar itu ada batasnya, namanya bukan sabar lagi dong! Sebab, yang benar itu semestinya sabar itu memang tidak terbatas. Kalau masih mengaku sabar, tetapi dianggap ada batas akhirnya, maka itu belum jadi sabar yang benar. Ya nggak?

Sabar ini juga mesti diterapkan apabila sampai orang tua plus anaknya terkena Corona dan harus menjalani karantina. Selama kurang lebih 14 hari, jika ada indikasi terkena Corona, maka anak-anak juga perlu diberikan pemahaman tentang kesabaran, terutama dari orang tuanya sendiri.

Kesimpulan

Berpikir dan berharap positif bahwa virus Corona ini akan segera berlalu, sebagaimana penyakit-penyakit akut lainnya yang pernah terjadi. Alhamdulillah, dunia masih terus berjalan sampai sekarang, belum juga muncul kiamat besar.

Mari jaga diri, jaga orang tua kita, jaga anak-anak kita dari wabah Corona. Yakinlah bahwa Allah pasti telah menyiapkan solusi atas permasalahan ini. Persoalannya, sudah seberapa besar tawakkal kita kepada Allah? Tanamkan tawakkal hanya kepada Allah juga disampaikan untuk anak-anak kita tercinta. Semoga mereka makin mengerti bahwa mereka punya Rabb yang senantiasa dekat dan akan selalu menolong mereka.

Share This:
error: Content is protected !!