Wartawan: Antara Menjadi Pahlawan Atau Mirip Penjual Bakwan

Wartawan: Antara Menjadi Pahlawan Atau Mirip Penjual Bakwan

Share This:

Sebuah media, seperti massa maupun online, kehadiran wartawan sangatlah penting. Namun, untuk bisa menjadi wartawan yang berjiwa pahlawan atau termasuk wartawan profesional, tentu ditempuh dengan usaha yang bukan abal-abal.

Generasi 90-an mungkin masih ingat dengan tayangan anak-anak berjudul Krucil alias Kru Cilik. Anak-anak yang menyiarkan suatu kegiatan atau peristiwa yang dialami oleh anak-anak.

Presenter di studio juga anak-anak. Dengan kepolosan dan kelucuannya, mereka bisa jadi wartawan yang baik di kemudian hari. Sayangnya, acara semacam itu sudah tidak ada lagi.

Belajar Langsung dari Ahlinya

antara-menjadi-pahlawan

Mungkin kita merasa bahwa menjadi wartawan yang baik itu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang tertentu. Ya, mereka yang menjadi bagian dari perusahaan media.

Salah satu mantan tetangga saya adalah seorang wartawan koran lokal. Saya pernah mengirim tulisan ke dia untuk dimuat di korannya. Alhamdulillah, berhasil dimuat juga.

Namun, karena koran tersebut tidak terlalu terkenal, kualitas kertasnya juga sangat jelek, saya tidak respek mau dimuat atau tidak. Yang jelas, dia bilang dimuat, ya, saya percaya saja.

Baca Juga: Narsis dan Eksistensi Kita

Menjadi wartawan itu memang butuh skill. Dan, itu sudah jamak kita ketahui. Kemampuan menggunakan kamera, alat perekam, meramu pertanyaan untuk narasumber, dan tidak kalah pentingnya adalah menulis berita.

Kemampuan terakhir inilah yang dibahas dalam pelatihan atau belajar menulis bersama Om Jay untuk kali ke-18. Saya akan mencoba mengulas hasil dari materi tersebut yang disiarkan dari grup WA pada Jumat (13/11).

Seperti biasa, bannernya perlu ditampilkan di sini:

menjadi-wartawan-yang-baik-1

Biografi narasumber yang satu ini sebagai berikut:

Lahir pada tanggal 10 Agustus 1960. Nama asli Nur Aliem Halvaima, SH, MH. Memakai Nur Terbit sebagai nama pena dan di media sosial.

Menyelesaikan pendidikan di Universitas Islam Jakarta. Tesisnya “Pola Pemberian Upah Untuk Kesejahteraan Wartawan Media Cetak di Provinsi DKI Jakarta”. S1 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sedangkan Sarjana Muda di IAIN Alauddin Makassar.

Memulai wartawan daerah sejak kuliah di Makassar. Ikut menjadi koresponden Harian Terbit (Pos Kota Grup) di Sulawesi Selatan.

Tahun 1984 ke Jakarta, menjadi reporter, lalu redaktur. Tahun 2014, Nur pensiun dini. Sekarang menjadi redaktur media online possore.com.

Pengalaman bapak yang satu ini sebagai pemegang kartu Wartawan Utama dari Dewan Pers-PWI Pusat ini, sebagai berikut:

  1. Wartawan/editor Surat Kabar Harian Terbit (Pos Kota Grup) 1980-2014.
  2. Pemred Vonis Tipikor versi majalah dan online 2014-2017.
  3. Pemred Corong versi majalah dan online 2019-2020.
  4. Pemred Telescope versi majalah dan online 2020.
  5. Redaktur Eksekutif Possore.com 2015 s/d sekarang.
  6. Redaktur/admin tamu sejumlah media online, majalah, tabloid 2014 s/d sekarang.

Oleh karena memang sudah menjadi penulis profesional, maka beliau berhasil dalam banyak lomba menulis. Beberapa di antaranya: juara lomba menulis artikel bertema pramuka antarwartawan dan umum tingkat nasional tahun 2011 dan 2013.

Juara lomba menulis pengalaman mudik asyik Republika Online. Melalui blognya, nurterbit.com, beliau menjuarai lomba blog, yaitu: online shop Kudo, lomba blog Teacher Writing Camp IGI Bekasi, smartphone Oppo, Dompet Duafa, Asuransi Raksa Online dan lain sebagainya.

Tidak hanya di blog pribadi, Nur Terbit juga menulis di Kompasiana, Kumparan, Viva, PepNews, Tokoh Populer, Suara Konsumen, dan media lainnya.

Menulis buku dengan judul “Wartawan Bangkotan” yang menjadi karya kedua Nur tentang dunia pers. Yang lalu, kumpulan tulisannya “Lika-Liku Kisah Wartawan” diterbitkan PWI Pusat memperingati Hari Pers Nasional (HPN) 2020.

Nah, sudah lengkap dan mantap cuplikan biografi narasumber ini. Yuk, kita simak inti materinya.

Jangan Dicampur

Sebagai wartawan atau sudah akrab dengan dunia media, menulis untuk berita itu memang berbeda. Hal yang tidak boleh dilakukan itu adalah ikut campurnya tanggapan wartawan terhadap berita tersebut.

Contohnya begini:

Bupati Bombana mengadakan pesta ulang tahunnya di kantor bupati pada Sabtu (14/11). Dihadiri undangan sebanyak 100 orang. Acara dibuka oleh Bupati Bombana sendiri dan dihibur oleh artis-artis ibukota. Semestinya, acara tersebut tidak diadakan karena masih pandemi. Selain itu, ada sorotan bagi Bupati Bombana dari KPK yang masih santer sampai sekarang.

Baca Juga: Balada Sebuah Koran

Nah, pada dua kalimat yang terakhir itu tidak sepatutnya muncul dalam penyajian berita. Karena intinya jelas adalah pendapat pribadi si wartawan. Tulis saja apa adanya sesuai fakta. Mau disorot atau tidak, itu lain persoalan. Memangnya layar tancap, pakai disorot? Atau malah senter ketika mati lampu?

Jika ingin begitu, ada tempatnya sendiri. Namanya rubrik opini. Jangan lupa sebut nama ya! Plus jabatan atau pekerjaan juga boleh. Tidak perlu dicantumkan alamat rumah, jumlah istri, nama anak sampai nomor sepatu. Memangnya, mau beli sepatu di mall?

Mau yang Mana?

antara-menjadi-pahlawan-2

Nur Terbit mengungkapkan ada dua jenis media yang dipakai untuk menulis. Kita yang orang awam ini bisa kok menjadi seperti wartawan. Istilahnya citizen journalism.

Menurut yang saya tangkap dari materi pada Jumat (13/11), untuk di media online, bisa dilihat peminat dari tulisan kita. Berapa yang like, komen, dan share? Itu semua ada datanya.

Melihat data yang ada, bisa kita perkirakan, apakah tulisan yang kita buat cukup diminati orang ataukah tidak? Jika yang berinteraksi banyak, oh, tentu saja, pembaca kita suka.

Beda halnya dengan koran yang dicetak fisik. Kita yang menulis di media tersebut tidak tahu, apakah diminati atau tidak? Orang yang membeli koran cetak, ya, beli semua tulisan yang ada. Susah dipantau tiap-tiap jenis tulisan yang muncul.

Tadi, disebutkan citizen journalism. Nah, hanya dengan kemampuan menulis dan boleh juga disertai bukti berita semacam foto atau video, kita bisa menjadi wartawan jenis citizen journalism. Untuk ini, kita akan bahas nanti di bawah. Tetap stay tune di tulisan ini ya!

Tips Menulis 

Setiap narasumber yang hadir di pelatihan menulis bersama Om Jay dan PB PGRI sering menghadirkan kiat-kiat menulis. Nah, bagaimana dengan Nur Terbit sendiri?

Ada lima istilah yang dikemukakannya:

  1. Menulis dengan kunci 3D. Ini bukan sejenis gambar atau film, pakai 3D segala. Maksudnya adalah tulis yang Dialami, Disukai, maupun Dikuasai.
  2. PDLS: Peka Dengan Lingkungan Sekitar. Istilah lainnya yang keren adalah kepo.
  3. TBTO: Terus Belajar atau Baca (dari) Tulisan Orang.
  4. TLMM = Terus Latihan Menulis di Media (Medsos).
  5. TILM = Terus Ikut Lomba Menulis.

Wartawan Awam

Pada subjudul ini, saya mencoba untuk membahas citizen journalism sesuai pemahaman sendiri.

Kita tahu, bahwa setiap kejadian bisa dijadikan berita asalkan isinya menarik. Kejadian itu bisa jadi berasal dari sekitar kita. Oleh karena itu, memang butuh kejelian yang cukup luar biasa.

Setiap orang bisa menjadi wartawan citizen journalism tersebut. Siapa sih di sini yang ke mana-mana tidak bawa HP? Ketinggalan dompet mungkin tidak sepanik ketinggalan HP.

Ada sebuah video lucu-lucuan di TikTok. Seorang suami yang naik motor, ketinggalan dompet dia tidak pusing.

Waktu ketinggalan HP, dia merasa panik luar biasa! Langsung, dia balik ke rumah, padahal sementara dalam perjalanan ke luar.

Mungkin dia takut istrinya membuka HP itu. Atau melihat-lihat isinya. Atau apalah. Yang jelas, dari video itu, suami tampak ketakutan sekali. Hehe…

Saya sendiri beberapa kali ke Indomaret juga tidak bawa dompet, tidak bawa uang saku. Memakai aplikasi uang digital yang bisa diisi saldonya, langsung bisa dipakai belanja. Lebih praktis dan tidak ribet sih. Maaf, bukan promosi ya!

Ketajaman Intuisi

antara-menjadi-pahlawan-3

Beberapa hasil liputan dari warganet dari video di kamera HP. Hasilnya pun tidak secerah kamera televisi yang cukup berat diangkat itu.

Video-video yang ada, pernah saya tonton, kejadian kecelakaan lalu lintas. Pengendaranya babak belur “dicium” pengendara lain, sementara ada warganet yang sibuk memvideokan. Membuat berita. Malah lupa menolong korban.

Ada juga yang membuat video pendek tentang penggerebekan dua orang yang bukan suami istri main indehoy alias wik-wik di dalam mobil. Memang sih, muka mereka diblur, tetapi kok sepertinya jadi menghakimi begitu ya? Alhasil, yang laki-laki buru-buru kabur dari mobil diparkir itu.

Baca Juga: Ada yang Namanya Pak Edi Siregar, Tapi Jarang yang Bernama Pak Ide Segar

Warganet yang melihat video tersebut berkomentar, “Kenapa tidak di dalam hotel saja, Bro?” Wah, sarannya kok bukan suruh menghentikan saja? Malah cari yang bebas dari penglihatan orang itu ya! Tepuk jidat dulu deh.

Untuk bisa menghasilkan video berita khas citizen journalism, memang tidak bisa sembarangan. Harus juga ada etika-etikanya yang perlu dijaga.

Mesti ada pula kebenaran dari isi berita tersebut. Jangan sampai malah hoax yang disebarkan! Atau bahkan, video prank alias bohong-bohongan itu.

Ada yang Masih Kurang

Okelah, setiap orang bisa menjadi citizen journalism. Namun, itu baru sebatas memvideokan atau foto sana-sini. Ada satu kekurangan dari wartawan yang semestinya juga melekat, yaitu; kemampuan menulis.

Apa mungkin ini karena banyak warganet kita yang lebih tertarik dengan gambar bergerak daripada tulisan ya? Hem, bisa jadi.

Kalau hal itu yang terjadi, maka sekali lagi, perlu hati-hati. Belum tentu yang dibagikan itu video benar.

Beda halnya dengan menulis, apalagi menampilkannya ke dalam tulisan opini yang ciamik. Hal tersebut tidak bisa dilakukan oleh semua orang.

Mendapatkan sesuatu yang menarik, biasa problemnya adalah bingung meramu ide tersebut menjadi karya yang bisa dibaca. Bisa jadi, masalah ini berakar pada diri orang tersebut yang ingin langsung tampil sempurna. Ingin tulisannya menjadi super menarik.

Padahal, hukum alam, tidak cuma dalam urusan tulis-menulis. Dalam segala hal, semuanya butuh proses.

Apalagi bagi penulis pemula, masa mau menjadikan tulisannya langsung seperti misalnya Emha Ainun Najib atau Dahlan Iskan? Ngaca dulu woy!

Oleh karena itu, memang berbeda antara menjadi wartawan yang baik dengan penjual bakwan di pinggir jalan. Apa bedanya?

Untuk menjadi wartawan, itu butuh kemampuan khusus, apalagi menjadi wartawan yang baik. Sementara penjual bakwan, apakah punya kemampuan khusus juga? Bisa saja, tetapi pastilah kemampuan tersebut tidak sekompleks menjadi wartawan.

Kita butuh tulisan dari citizen journalism yang bagus. Artinya, berisi hal-hal fakta, sesuai dengan kebenaran, kalaupun awalnya mengambang, langsung dikroscek dengan sumber utamanya.

Selain itu, menghindari adanya hoax. Tersebarnya hoax, tidak cuma akan merugikan di dunia, tetapi juga di akhirat.

Oh, ya, mungkin masih ada yang belum jelas, mengapa wartawan dibandingkan dengan penjual bakwan?

Wartawan yang tidak baik, misalnya sampai melakukan pemerasan terhadap seseorang, itu bisa diibaratkan penjual bakwan. Meskipun bukan berarti penjual bakwan itu suka memeras juga, kecuali memeras adonan terigu ya? Halah..

Jika ada wartawan yang buruk, itu harganya murah, sama dengan bakwan. Sangat murah dan berada di pinggir jalan. Terkena debu jalanan dan polusi lainnya.

Tulisan dari wartawan buruk hanya akan buruk dilihat. Akhirnya menjadi tulisan sampah. Kita membaca atau tidak, sama saja. Tidak ada manfaat yang diperoleh dari tulisan tersebut.

Sama juga dengan warganet yang berlagak seperti wartawan dengan dalih citizen journalism tersebut. Apabila hanya kejadian receh yang banyak mudhorotnya, untuk apa? Hanya demi mendapatkan konten di media sosial, jelas tidak mencerminkan kaidah berita yang benar.

Bakwan memang enak dimakan, untuk awalnya. Namun, jika terlalu banyak dan disantap, maka efek buruk bagi kesehatan. Sama dengan tulisan dari wartawan buruk yang seperti bakwan itu, mungkin terlihat enak, tetapi bisa mempengaruhi kesehatan pikiran.

Betapa banyak kita saksikan adanya judul-judul berita yang click bait. Judunya bombastis, setelah dibaca, bikin meringis plus menangis. Bukan karena beritanya menyedihkan, melainkan karena kita kecewa sudah masuk ke dalamnya.

Kesimpulan

Setiap kita bisa menjadi wartawan yang baik. Modal HP sudah cukup untuk meliput sebuah berita.

Namun, tidak boleh berhenti di situ. Akan jauh lebih baik jika ditulis. Apakah sudah cukup dengan ditulis juga? Oh, tidak dong! Kaidah kepenulisan perlu juga dipahami.

Intinya, semuanya memang tidak mudah. Butuh proses, makanya janganlah protes.

Ketika sudah berhasil, maka citizen journalism kita bisa bermanfaat untuk orang lain. Misalnya, ada berita tentang kejadian A yang berhasil diliput media besar. Orang-orang pun percaya dengan isi berita tersebut dan seakan-akan menjadi konsumsi publik.

Akan tetapi, kita punya fakta lain. Bukan begitu jalan ceritanya. Tidak seperti itu kenyataannya.

Nah, sodorkan saja berita dengan opini kita. Hal itu akan bisa menjadi sisi lain dari sebuah kejadian, sehingga nanti kebenaran akan makin menyeruak ke permukaan.

Mungkin ada yang bertanya, tadi ‘kan media besar sudah memberitakan, sekarang kita menulis dalam kapasitas sebagai penulis kecil, apakah bisa melawannya?

Oh, jangan remehkan kekuatan dari medsos. Betapa banyak akun medsos yang kecil bisa berefek luas karena diviralkan oleh warganet lainnya.

Jadi, tidak perlu takut dan khawatir. Kebenaran akan menemukan muaranya sendiri.

Dan, wartawan tetap bisa dikatakan sebagai pahlawan karena jasanya yang besar. Contoh, ketika meliput dan menyiarkan berita Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Selain itu, menyajikan berita-berita yang membangun optimisme di negeri ini. Menyuntikkan semangat dan antusiasme dengan berita-berita prestasi anak bangsa.

Atau bisa juga dengan membantah fitnah-fitnah negatif yang terlanjur menyebar. Menjadi wartawan memang berat, apalagi ditambah dengan penyuara kebenaran.

Kalau tidak mau begitu, ya, jadi wartawan yang mirip penjual bakwan. Keliling ke sana ke mari menyajikan dagangan yang belum tentu bagus dan cocok untuk semua orang.

Dalam tulisan ini, bukan bermaksud untuk merendahkan penjual bakwan. Selama itu halal, it’s oke.

Yang ditekankan di sini adalah, wartawan, ya, wartawan, penjual bakwan, ya, penjual bakwan. Jadilah wartawan sekaligus pahlawan. Ikut membangun motivasi berprestasi dan berita positif untuk negeri.

Baca Juga: Pertanyaan Penting: Yang Gaji Kamu Siapa?

Share This:

4 Comments

  1. bang nur memang wartawan di segala zaman dan selalu update dengan perkembangan erkiri. Beliau mampu beradaptasidengan kondisi apapun. Salut dengan bang Nur Terbit.

Silakan tinggalkan komentar ya!

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi ya!

8 − 1 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!