Mengucapkan Selamat Hari Natal, Demi Apa Sih?

Mengucapkan Selamat Hari Natal, Demi Apa Sih?

Share This:

Kaitannya muamalah dengan orang Kristen atau nonmuslim, sudah terjadi sejak saya masih SD. Waktu itu, ada teman sekelas saya yang mengajak belajar bersama di rumah untuk persiapan ujian kelulusan. Pas waktu pulang Maghrib hujan deras. Akhirnya, sholat Maghrib sendiri di rumahnya.

Kabarnya, teman saya itu sudah tinggal atau menetap di Australia. Ada juga teman lain dengan agama Katholik. Perempuan. Dengan mereka berdua, saya merasa akrab saja kok. Anak kecil mana tahu teori toleransi yang sering dikemukakan itu? Yang penting baik saja sama mereka dan mereka juga baik dengan kita, itu sudah namanya toleransi.

Ketika SMA, saya bersebelahan kelas dengan sebagian besar anak-anak penganut agama Katholik. Kebanyakan anak-anak perempuan yang akrab dengan saya. Bahkan, sempat pula dijodoh-jodohkan dengan salah satunya. Meskipun tidak sampai pacaran, tapi tetap muncul rasa suka. Yah, masa-masa gelap dan suram dulu, lah.

Bicara Orang Lain

Nah sekarang, bicara dalam lingkup yang lebih luas. Tentang orang lain. Saya menulis ini tanggal 24 Desember, jadi masih dalam libur cuti bersama Natal 2019. Berarti besok Natalnya.

Selalu dan selalu ada polemik tentang mengucapkan Selamat Hari Hatal. Ada yang menyatakan pendapat bahwa mengucapkan Selamat Hari Natal itu bagian dari toleransi kepada mereka. Hari Natal yang selalu jatuh pada tanggal 25 Desember memang diperingati oleh kaum Nasrani di gereja-gereja. Demi mewujudkan kebersamaan, akhirnya mengucapkan Selamat Hari Natal pun dilakukan.

Baca Juga: Apakah Hidup Anda Seperti Kecoa Terbalik?

Untuk perkara mengucapkan Selamat Hari Natal memang ada dua pendapat. Membolehkan dan melarang. Kan cuma dua toh? Ragu-ragu itu masuk pendapat yang mana, Mas? Kalau ragu-ragu itu berarti juga terbagi menjadi dua pendapat. Membolehkan dan melarang. Nah lho!

Pendapat yang Membolehkan

Salah satu ulama terkenal yang membolehkan mengucapkan Selamat Hari Natal adalah Syekh Yusuf Al-Qardhawi. Menurut beliau, bolehnya mengucapkan Selamat Hari Natal bagi kaum Nasrani yang cinta damai. Apalagi ditambah dengan hubungan khusus, seperti: tetangga, kerabat, teman kuliah, rekan kerja dan posisi lainnya.

Tambah beliau lagi, hal tersebut tidak dilarang oleh Allah, tetapi dicintai Allah sebagaimana Allah menyukai orang-orang yang berbuat adil. Beliau mengacu pada dalil sebagai berikut:

Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

وَإِذَا حُيِّيْتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّواْ بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا ﴿٨٦﴾

Artinya : “Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, Maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.” (QS. An Nisaa : 86).

Terus, pengucapannya bagaimana? Menurut beliau, ucapan atau kalimat yang dipakai tidak ada unsur pengakuan atas agama mereka. Jadi, sekadar kalimat pertemanan saja. Hem, seperti apa itu ya? Berarti cuma di ucapan lisan, bukan di dalam hati.

Bagaimana dengan Hadiah?

Kan mereka sedang berhari raya, biasanya tuh ada hadiah-hadiah. Bagaimana jika mereka memberikan hadiah tersebut kepada kita yang muslim?

Bila barang itu halal, maka boleh diterima. Yang tidak boleh itu bila barang haram, seperti: khamar dan daging babi. Kalau itu meskipun dikasih gratis, tetap akan menolak untuk dimakan. Ya ‘kan?

Pendapat yang Melarang

Kalau di Indonesia, patokan bagi umat Islam adalah MUI atau Majelis Ulama Indonesia. Sudah sejak tahun 1981, MUI sudah menyatakan dasar-dasar ajaran Islam plus dalil-dalil Al Qur’an maupun Hadits Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Penjabarannya adalah:

1. Untuk masalah duniawi, kaum muslimin boleh bergaul dan kerja sama dengan umat beragama lainnya. 

2. Namun, kaum muslimin tidak boleh dan tidak bisa mencampur-campur agama Islam dengan agama lain.

3. Isa Al-Masih bin Maryam adalah Nabi dan Rasul sebagaimana Nabi dan Rasul yang lain.

4. Orang dikatakan kafir dan musyrik apabila punya keyakinan bahwa Tuhan itu lebih dari satu, Tuhan beranak dan Isa Al-Masih sebagai anak Tuhan.

5. Nanti pada hari kiamat, Allah akan bertanya kepada Isa, apakah ketika di dunia menyuruh kaumnya agar mereka mengakui Isa dan Maryam atau ibu Isa sebagai Tuhan? Isa akan menjawab dengan tegas: “Tidak!”

6. Ajaran Islam berkeyakinan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala itu cuma satu.

7. Islam punya kaidah bagi ummatnya untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang meragukan atau syubhat. Lalu dari larangan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Juga mendahulukan menolak kerusakan daripada mendapatkan kemaslahatan.

Baca Juga: Bagaikan Naik Pesawat Sampai Ke Akhirat

Oleh karena itu, fatwa MUI berisi :

1. Perayaan Natal di Indonesia meskipun tujuannya merayakan dan menghormati Nabi Isa Alaihis Salam, namun Natal itu tidak dapat lepas dari berbagai perkara yang telah disebutkan sebelumnya.

2. Tidak boleh mengikuti atau haram upacara Natal bersama bagi kaum muslimin.

3. Demi menghindari masuk ke dalam syubhat dan larangan Allah Subhanahu Wata’ala, maka tidak diperkenankan mengikuti kegiatan perayaan Natal.

Pendapat yang Nyeleneh

Tadi sudah ditulis tentang pendapat yang membolehkan maupun melarang mengucapkan Selamat Hari Natal, tapi ada pula lho yang nyeleneh. Pendapat ini mungkin bermula dari keresahan dan kepenatan jiwa karena selalu ada polemik antara yang setuju maupun tidak. Lalu, bagaimana pendapat yang nyeleneh ini?

Mengucapkan Selamat Hari Natal Kepada Kaum Muslimin!

Nah, ini sudah jelas nyeleneh. Sudah jelas Natal itu adalah perayaan bagi kaum Nasrani, malah diucapkan buat orang Islam. Apa tidak dijitak kepalanya orang yang mengucapkan ini? Hehe…

Diucapkan Selain Bulan Desember

Natal itu tiap tanggal 25 Desember. Kalau ada yang mengucapkan di bulan April, kira-kira bagaimana? Adakah yang mau menerima ucapan itu? Mungkin orang yang mengucapkannya itu kalender di rumahnya belum diganti-ganti karena masih terlihat bagus!

Waktu Idul Fitri dan Idul Adha

Terakhir, pendapat ketiga adalah mengucapkan Selamat Hari Natal di tengah orang Islam yang sedang merayakan Idul Fitri dan Idul Adha. Yang lain mengucapkan Taqaballallahu minna wa minkum atau mohon maaf lahir batin, eh, malah Selamat Hari Natal ya…

Atau lebih lucu lagi waktu habis penyembelihan hewan qurban. Makan bersama setelah menjadi soto, lalu mengangkat mangkuk dan berteriak ke orang-orang di situ yang notabene tadi sudah membantu penyembelihan hewan qurban, “Selamat Hari Natal ya gaess…!”

Kesimpulan

Setiap agama pastilah punya hari raya masing-masing. Sudah barang tentu saling menghormati alias toleransi. Tidak saling mengganggu. Pokoknya, silakan ibadah dan merayakan hari raya masing-masing.

Dalam Islam cukup dua hari raya, yaitu: Idul Fitri dan Idul Adha. Lho, Mas, kan masih ada peringatan Isra Mir’aj, maulid Nabi, 1 Muharram, apa itu bukan hari raya? Kan libur juga lho!

Sebenarnya hal itu kembali ke kaidah yang sudah diamini banyak orang sih, yaitu: apakah peringatan-peringatan tersebut pernah dilakukan oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dan para sahabatnya? Kalau mereka belum pernah melakukan, padahal bisa melakukan sebenarnya, lalu kenapa malah kita yang melakukan? Kita mau contoh siapa ya?

Terus, tentang mengucapkan Selamat Hari Natal, sudah banyak yang mengucapkan, yaitu: dari kalangan mereka sendiri. Benar ‘kan? Bukankah jumlah mereka sudah sangat banyak sekarang? Lha, kok, masih perlu ditambah lagi dengan ucapan selamat dari orang Islam?

Ada sebuah kalimat yang muncul di Twitter, yaitu: tidak boleh mengucapkan selamat kepada kaum yang tidak selamat. Ini berdasarkan persepsi Islam. Cuma orang Islam yang akan selamat sampai ke surga Allah, umat agama lain jelas tidak.

Hal itu juga berlaku bagi kaum agama lain. Umat Islam dianggap mereka tidak selamat. Ini juga wajar, karena itu persepsi ajaran agama mereka. Untuk apa dipermasalahkan? Bener nggak?

Seperti kata Cak Nun, kalau semua agama sama benarnya, maka tiap hari akan berpindah-pindah agama. Hari ini Islam, besok Kristen, lusa Katholik, besok lagi Hindu, Budha dan seterusnya. Balik lagi ke Islam. Pokoknya dalam satu pekan itu, enam agama resmi negara dipeluk semua.

Lha, terus, menjawab pertanyaan dari judul di atas, mengucapkan Selamat Hari Natal itu demi apa sih? Apa jawabannya kira-kira hayo? Jawabannya jelas karena ini di bagian akhir, mengucapkan Selamat Hari Natal itu adalah hem … Demikian tulisan ini diakhiri. Terima kasih ya… Hehe…

Baca Juga: Sepertinya Masuk Surga Lebih Mudah Daripada Masuk PNS

Share This:
error: Content is protected !!