Mencuekin Rasa Cuek

Mencuekin Rasa Cuek

Share This:

Kamu pernah dicuekin? Oh, bisa jadi banyak di antara kamu yang mengalaminya. Terus apa yang kamu lakukan?

Saya memang pakai saja kata “dicuekin”. Mengambil dari bahasa yang populer di Jakarta sana. Pakai “in”. Lha terus kalau pakai “in”, outnya mana? Kan ada in, ada juga out? Halah…

Akan Menjadi Narasumber

Awalnya, memang tidak diduga. Bu Rahma, pegawai pemda Bombana, menghubungi saya lewat telepon di WA. Model telepon begitu tidak pakai pulsa, tetapi pakai paket data saja.

Dia mengatakan bahwa saya diminta untuk jadi narasumber acara peresmian perpustakaan daerah Bombana. Ohh, yang gedung baru itu ya? Gedung itu pertama kali saya lihat waktu saya dari kecamatan Poleang Timur untuk jadi MC di walimah teman, lulusan STIBA Makasssar. Dia jadi lulusan terbaik, sedangkan istrinya juga lulusan terbaik. Waow! Mantap!

Proses untuk menjadi narasumber melewati beberapa langkah. Saya mesti membuat biografi dan materi. Judul atau tema materi yang diberikannya ke saya adalah: Best Practice Menumbuhkan Budaya Baca dan Literasi Masyarakat.

Okelah, berarti intinya usaha untuk meningkatkan minat baca. Ah, saya punya materi yang cocok itu. Saya ambil saja dari materi video Mas Iqbal Aji Daryono, seorang esais online terkenal. Alasan mengapa harus menulis? Itu dulu yang saya ambil.

Desain Gratisan

Masa biografi atau riwayat hidup tidak didesain dengan bagus? Malu ah. Saya pakai saja Canva. Aplikasi online yang sudah sangat terkenal untuk membuat beraneka macam desain. Sudah banyak dipakai para mastah bisnis online.

Baca Juga: Wartawan: Antara Menjadi Pahlawan Atau Mirip Penjual Bakwan

Oh, ya, untuk acara peresmian perpustakaan itu, akan dihadiri juga Kepala Perpustakaan Nasional RI, Drs. Muhammad Syarif Bando,MM. Ada juga Bupati Bombana, H. Tafdil, SE, MM. Akan datang juga Nur Saleh,S. Pd, MM, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Tenggara. Meskipun pas acaranya, yang datang adalah sekretarisnya.

Desain jadinya seperti ini:

Masya Allah. Melihat foto dan nama lengkapku di situ, saya langsung merasa senang. Baru kali ini disebutkan profesi saya sebagai penulis. Ini jelas sangat mantap.

Namun, yang Terjadi

Sebagai bentuk promosi sekaligus ajakan, maka saya menyebarkan banner itu ke beberapa grup tempat kerja saya. Ada yang di level kabupaten ini, ada juga yang di provinsi.

Apa yang saya dapatkan? Rupanya dicuekin! Sama sekali tidak ada respon dari para penghuni grup tersebut. Bahkan, saya share di grup guru-guru juga sama. Grup antara guru dan orang tua murid, juga sama. Wadeh, pertanda apa ini?

Apa jangan-jangan karena temanya adalah seputar literasi? Tahunya mereka kan terasi. Literasi? Apakah itu terasa jenis baru?

Like tidak ada, memberikan emoticon juga tidak, pokoknya begitu saja. Atasan-atasan saya juga sama, tidak bereaksi.

Dari situ saya belajar bahwa tidak usah pusing karena dicuekin. Toh, saya tidak berbuat kejahatan kok. Jadi, mereka yang cuek, saya cuekin juga.

Tapi heran juga sih. Mereka kan kaum berpendidikan ya? Lalu, kenapa mendengar kata literasi, mereka jadi alergi? Padahal di situ ada Pak Bupati Bombana mau jadi pembicara juga.

Atau, mereka iri kepada saya, karena saya mau ditampilkan jadi narasumber? Ah, ini juga tidak tahu jawabannya.

Hem, ya, sudahlah. Saya lihat saja nanti seperti apa?

Bisa Bangun Pagi

Nah, lanjut nulisnya pas sudah hari berikutnya. Kemarin, Alhamdulilah, bisa bangun pagi, lebih pagi daripada biasanya. Mungkin karena suasana hati sedang dag-dig-dug gimana gitu?

Undangan acara jam 08.50. Saya pikir mau berangkat saja jam 07.30 lebih, mungkin itu masih terlalu cepat kali ya? Jadi, saya berangkat saja jam 08.10. Sedikit ngebut di jalan. Takut sudah mulai lebih awal.

Baca Juga: Mempercantik Bahasa dan Membahasakan Kecantikan

Ternyata, di tempat acara, sudah sangat ramai. Tenda yang dibangun cukup besar, megah dan cantik. Yah, namanya juga acara yang dihadiri bupati, masa tenda sederhana?

Acara diawali dengan pembukaan. Sambutan dari Akhmad Toha, S.I.P, kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bombana. Lalu, bupati Bombana. Dan, terakhir adalah kepala Perpusnas. Kalau tidak salah ingat, begitu urutannya. Waduh, baru sehari, sudah lupa?

Saatnya Talkshow

Ketika acara pembukaan, rasanya sudah kebelet kencing. Sebelum berangkat dari rumah, disuguhi susu kental manis yang memang sangat manis dari istriku yang manis. Hehe…

Alhasil, rasa ingin buang air kecil luar biasa kencang. Apa saya tahan saja ya? Wah, janganlah! Nanti malah bisa terganggu pas sesi talkshow. Ya, sudah, deh, saya buang saja. Ini bukan termasuk perkara mubazir ya, buang-buang air.

Sebelum memulai talkshow, disiapkan dua kursi lagi. Ternyata untuk moderator dan saya sendiri sebagai narasumber, penggiat literasi. Tiga sofa yang ada, sudah diisi oleh deputi perpusnas, sekda Bombana, kepala perpusnas, bupati Bombana dan sekretaris Dinas Perpusda Sultra yang cantik sendiri, karena yang lain laki-laki.

Saya giliran terakhir. Pak sekda memang tidak menyampaikan apa-apa, hanya menemani bupati di panggung. Waktu yang diberikan oleh moderator adalah 15 menit. Ya, saya cepat saja menyampaikan materi setelah pembuka dengan menyapa semua orang yang bisa saya sapa.

Apa sih yang saya sampaikan? Saya langsung tembak, tentang manfaat menulis. Kalau yang lain dari tadi bahas budaya baca. Saya kemukakan alasan mengapa kita harus menulis?

Berpikir sistematis dan melipatgandakan kecerdasan

Jelas, buku adalah jendela dunia. Menjadi pintar adalah dengan membaca buku. Membaca bisa membuat cerdas. Namun, dengan menulis, kecerdasan itu bisa meningkat berkali-kali lipat. Sebab, menyusun kata, paragraf, judul dan lain sebagainya itu membutuhkan pemikiran yang dalam. Kalau orang sudah terbiasa menulis, maka hakikatnya dia sudah melipatgandakan kecerdasannya sendiri.

Pelepasan beban hidup dan emosi yang bertumpuk

Saya langsung mengambil contoh dalam kehidupan suami istri. Suami yang marah dengan istrinya, jangan langsung diluapkan terlebih dulu. Coba tuliskan saja segala kemarahan itu. Sampai seburuk-buruknya pun dikatakan saja. Lalu, simpan, endapkan.

Kira-kira satu jam, coba baca lagi. Maka suami akan terkejut bahwa beban hidupnya akan lebih berkurang. Ternyata, kemarahannya kepada istri hanya karena persoalan sepele dan sederhana. Coba tadi langsung disampaikan ke istri dalam bentuk lisan, maka pasti akan sangat menyakiti hati istri.

Kontribusi suara di zaman yang makin menggila ini

Ambil contoh, kasus hoax telur rebus yang sempat heboh beberapa bulan lalu. Tengah malam, orang berebut mencari telur rebus yang katanya obat corona. Nah, itu jelas berita hoax. Tapi, kenapa banyak orang percaya?

Baca Juga: Kisah Nyata: Ucapan Berbalik Kepada Diri Sendiri

Menulis memberikan alternatif pemikiran. Bahwa hal itu seperti hoax adalah sangat tidak tepat. Bagaimana menyajikan tulisan yang membantah hal itu dan memberikan sudut pandang yang lebih benar? Itulah tantangan bagi para penulis.

Dokumentasi dan monumen diri, digabung dengan amal sholeh dan pahala jariyah

Kakek nenek kita tidak diketahui sejarah hidupnya lebih dalam, karena mereka tidak menulis. Yang kita tahu hanya nama ini, tanggal lahirnya sekian, bahkan tanggal meninggalnya juga, tetapi pemikirannya dan pandangannya terhadap suatu masalah tidak kita ketahui. Coba mereka bisa menulis dan sempat menulis, maka kita akan lebih mengenal kakek dan nenek kita.

Untuk amal sholeh, saya contohkan Imam Syafi’i rahimahullah. Pasti tahu dong orang Islam yang ada di acara itu. Bagaimana kita mengenal Imam Syafi’i? Apakah melalui foto, gambar maupun video? Kan jelas tidak mungkin. Cara mengenalnya adalah dengan melalui tulisan-tulisan beliau yang sangat banyak itu.

Saya lupa katakan di acara itu, bahwa para ustadz, maupun ustadzah juga harusnya terdorong untuk menulis. Jangan hanya bicara lisan saja. Sebab, tulisan yang dibuat oleh mereka Insya Allah akan menjangkau lebih luas lagi. Namun, tidak saya sampaikan. Ededeh, waktunya sempit banget, Pak.

Berpeluang untuk merintis karir masa depan

Hal ini saya tekankan dari semua poin di atas. Bahwa di zaman seperti pandemi ini, justru peluang untuk menjadi penulis sangatlah banyak dan luas. Saya contohkan dengan membangun blog maupun website sendiri, bisa mendatangkan penghasilan.

Selain itu, bisa menjadi penulis konten media sosial. Atau mereview sesuatu. Ah, silakan saja kamu cari di Google. Sangat banyak peluang menjadi penulis online tanpa harus meninggalkan pekerjaan utama.

Tentang cara menumbuhkan minat menulis, ya, dengan membaca dong! Mana ada jadi penulis tanpa membaca? Selain itu, saya juga angkat kelebihan dari daerah ini, bahwa Bombana itu termasuk aman. Saya pernah lupa mengambil kunci sepeda motor semalaman. Alhamdulillah, besoknya masih ada. Ini ‘kan termasuk luar biasa. Mungkin kalau di Jawa sudah hilang motor tersebut.

Potensi kelebihan Bombana seperti aman dan indahnya tempat wisata yang belum banyak dijelajahi itu bisa menjadi aset berharga untuk ditulis. Tidak usah terlalu banyak gambar atau video karena hal itu malah tidak mendatangkan penasaran bagi pembaca. Tulis saja, sehingga terbayang deskripsi di benak mereka tentang Bombana.

Sesi Tanya Jawab

Inilah yang saya takutkan ketika sesi diskusi. Jangan sampai ada pertanyaan yang sulit atau tidak bisa saya jawab. Alhamdulillah, pertanyaan mudah kok. Seperti bagaimana mewadahi para penulis yang ada di Bombana? Lalu tentang kearifan lokal di Bombana bagaimana?

Untuk pertanyaan yang pertama, saya jawab bahwa nanti dari perpusda Bombana akan dihimpun para penulis tersebut. Mungkin dengan pertemuan rutin, maupun melalui komunitas online. Begitulah.

Baca Juga: Mau Punya Anak Banyak? Begini Rahasia Paling Rahasianya!

Sedangkan untuk kearifan lokal, kurang tepat ini pertanyaan ditujukan ke saya. Sebab saya adalah pendatang. Tapi, Alhamdulillah, bisa saya jawab juga. Caranya adalah dengan membaca referensi dan bahan-bahan bacaan tentang Bombana itu sendiri. Sejarahnya, termasuk arti nama Bombana. Baru hal itu bisa lebih mengenalkan daerah tempat makan dan tidur saya dan mereka yang hadir di acara itu.

Acara Selesai, Makan-makan!

Santap siang sudah disediakan. Inilah yang menjadi akibat kepala saya pusing, bahkan sampai dengan saat saya menulis ini.

Saya mengambil daging, konro, ditambah dengan sate. Enak sih enak, tapi efeknya itu lho! Oh, ya, setelah makan, saya bertukar data nomor HP dengan dua penanya tadi. Satunya gondrong namanya Heri, satunya Pak Tamar, orang Kabaena.

Ketika makan, saya didatangi seorang perempuan, katanya jangan dulu pulang, karena mau dikasih honor. Wuih, inilah saya tunggu-tunggu! Hehe…

Dan, Inilah Puncak dari Segala Puncak!

Rasanya memang sebal dan jengkel juga ya, ketika kita share info ke orang lain, tidak ditanggapi sama sekali. Like tidak ada, pokoknya dianggap tidak ada postingan kita di grup WA, misalnya.

Apalagi yang saya share kemarin itu adalah tentang literasi. Tidak ada minat orang di grup yang saya kasih info tentang dunia tersebut. Dunia baca tidak berminat, terlebih lagi dunia menulis. Sangat disayangkan sebenarnya.

Tapi, ah, mau bagaimana lagi? Orientasi mereka kan biasanya seputar perut saja. Untuk pengembangan kemampuan berpikir dengan membaca, apalagi menulis, belum jadi orientasi utama. Yah, tidak apa-apa, lah. Jalani hidup masing-masing.

Alhamdulillah, saya menerima honor dalam jumlah yang sangat lumayan. Saya menerima honor dalam jumlah yang terhitung sangat besar. Saya pikir akan terima sekitar 800 ribuan saja. Eh, ternyata sampai Rp 2.380.000,00! Betulan! Dua juta rupiah lebih! Wuih, ternyata honor tersebut melebihi standar kantorku! Hem, begitu ya?

Amplop yang bertuliskan jumlah honor itu, saya share ke grup WA keluarga besar. Tidak ada tanggapan juga. Ya, sudah, yang penting uangnya sudah saya pegang. Yang mendapatkan tanggapan cukup bagus adalah di grup Blogwalking Asyik. Ini grup yang isinya para blogger profesional. Tanggapan mereka mengapresiasi. Karena minat mereka memang di dunia tulis-menulis. Oke, itu cukup menghibur hatiku.

Foto amplop tersebut juga saya pajang di status WA. Biarlah orang lain melihat. Termasuk teman-teman kantor, bahwa saya memang menerima honor tersebut dalam jumlah yang tidak main-main.

Namun, privasi status saya atur. Untuk dua teman baru hasil kenalan di acara literasi itu, saya tutupi. Termasuk Bu Rahma yang mengundang saya pertama kali. Dan satu lagi, ipar saya yang sedang membutuhkan uang. Untuk alasan ditutupi tersebut agar menjaga suasana hati mereka. Halah, apa sih maksudnya?

Kesimpulan

Menjadi pengalaman baru saat berbicara di depan umum, satu panggung dengan bupati Bombana, sekda, kepala perpusnas, deputinya dan sekretaris Dinas Perpusda Sultra. Saya bicara dengan penuh semangat sebab itu adalah dunia yang memang saya minati sejak dulu. Hobi membaca dan menulis saya sudah menghasilkan. Tercatat 10 prestasi menulis yang sudah saya hasilkan di CV yang dibacakan oleh moderator. Alhamdulillah. Itu tentu karena karunia Allah juga.

Rencana ke depan, saya yakin literasi di Bombana ini akan sangat maju pesat. Sebab, gedungnya sudah luar biasa besar, cantik dan rupawan, seperti kata pak bupati. Komunitas baca atau komunitas penulis juga akan dibentuk. Wah, ini langkah yang luar biasa! Dahulu di Jogja, saya juga terpikir untuk membuat dan ikut komunitas semacam itu. Namun, di sana kan sudah sangat lama ada. Bombana baru akan memulai dengan langkah yang pasti. Insya Allah.

Baca Juga: [Dahsyat] 13 Kiat Mantap Cara Menang Lomba Blog, Langsung dari Ahlinya!

Share This:

Silakan tinggalkan komentar

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi dengan benar.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.