Ketika Si Keriting Menjadi Tokoh Penting (Resensi Novel SELENA Karya Tere Liye)

Ketika Si Keriting Menjadi Tokoh Penting (Resensi Novel SELENA Karya Tere Liye)

Share This:

Sudah cukup lama, saya tidak membeli buku fisik. Tiba-tiba, sekitar tanggal 4 Juni, saya terpikir untuk beli buku novel dari Tere Liye. Melanjutkan serial kisah fantasi “Bumi”.

Ada dua judul yang saya incar, yaitu: Selena dan Nebula. Itu buku ke-8 dan ke-9. Nah, langsung deh saya beli keduanya lewat Shopee. Yuk, kita simak identitas buku yang akan diresensi kali ini!

Data Buku:

Judul: Selena

Penulis: Tere Liye

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Cetakan: Kedelapan, April 2021

Jumlah Halaman: 365 

Tokoh Guru

Untuk novel Selena, tokoh utamanya adalah Selena. Ya, memang, sesuai dengan judulnya. Selena ini adalah guru dari Raib, Seli, dan Ali. Rambutnya keriting, dan belum menikah. Mungkin kamu tertarik? Halah..

Novel ini menceritakan kisah masa kecil Selena. Dia lahir di Distrik Sabit Enam, 200 kilometer utara Kota Tishri. Kota itu berada di Klan Bulan. Daerah kelahiran Selena merupakan kawasan yang padat, kumuh, dan tertinggal.

Pada bagian awal, menceritakan tentang penderitaan yang menimbulkan penderitaan lain. Memang, ketika berada dalam keadaan miskin, susah untuk berkembang. Selena yang miskin itu sudah menjadi yatim piatu sejak remaja. Bapaknya meninggal dunia ketika usia Selena masih 14 tahun, akibat sakit keras. Memang pantas kalau sakit keras bisa membunuh, beda dengan sakit lembut. Wah, ini maksudnya apa ya sakit lembut?

Mungkin karena memang berjodoh, maka ibunya meninggal ketika usia Selena 15 tahun. Kejadian ini mirip dengan teman saya. Sang suami, seorang PNS, naik motor setelah ada acara kantor. Pulang malam hari, dalam keadaan remang-remang, menabrak mobil. Terluka cukup parah. Dibawa ke Makassar, dari Bombana sini. Akhirnya meninggal dunia.

Baca Juga: Bicara Jumantara, Bicara Tentang Cinta

Istrinya sebenarnya sakit, makanya kehilangan sekali waktu sang suami meninggal. Oleh karena kurang perawatan, sekaligus kasih sayang, maka sang istri pergi menyusul suaminya. Namun, Masya Allah, anak sulungnya menjadi seorang penghafal Al-Qur’an. Belum 30 juz sih, tapi semangatnya luar biasa hingga bisa hafal 10 juz. Masya Allah. Bisa menjadi amal jariyah bagi kedua orang tuanya.

Dirawat Pamannya

Oleh karena Selena sudah jadi yatim piatu, lalu siapa yang akan merawatnya lagi? Sebuah surat wasiat menjadi kunci jawabannya. Surat tersebut dari ibunya. Diserahkan oleh Togra, tetua Distrik Sabit Enam. Selena disuruh menemui pamannya. Namanya Paman Raf. Si paman itu tinggal di kota Tishri. Untuk menempuh perjalanan ke sana, Togra sudah mengumpulkan donasi dari para warga di situ.

Babak baru kehidupan Selena dimulai di rumah Paman Raf ini. Istrinya si paman alias bibinya Selena bernama Bibi Leh itu termasuk pribadi yang ramah dan menyenangkan. Beda sekali dengan karakter Paman Raf yang sudah mengeluarkan kata-kata menyebalkan. Hayo, siapa nih yang pasangan suami istrinya macam begini? Hehe…

Ternyata, babak baru tersebut, memang baru, karena Selena diharuskan untuk bekerja. Bukan kerja yang adem ayem macam di ruangan ber-AC, tetapi langsung di lokasi yang sebagian besar laki-laki. Dia ikut dalam proyek konstruksi lorong kereta api bawah tanah. Wuih, proyek ini pakai dana APBN atau APBD ya?

Paman Raf punya lima anak. Lucunya, anak-anaknya dinamai mirip-mirip. Mulai dari Am, Im, Em, Om, dan Um. Dalam novel, Am yang paling tua, padahal, seharusnya Om ya? Kalau dipasang jadi Om Raf, sepertinya jadi cocok juga. Kalau Um, itu dalam dunia dakwah. Panggilan singkatan untuk Ummu, alias ibu-ibu.

Kemampuan Selena dalam dunia fantasi ini mulai terlihat ketika ada masalah di pengeboran. Ada mata bor yang tidak muncul. Pas ditarik, eh, meloncat mata bor itu bersama batu besar. Meluncurnya ke teman Selena, sesama pekerja konstruksi bernama Bow. Untungnya Selena bisa melindungi Bow dengan tameng transparan.

Gara-gara kejadian itu, membuat pertengkaran antara Paman Raf dan Bibi Leh. Seharusnya tempat konstruksi itu tidak aman buat Selena. Ternyata, kedua sejoli itu memang suka sekali bertengkar, sering sekali berkelahi. Menurut anak-anaknya, itu tanda cinta di antara keduanya. Hem, cukup aneh ya, suami istri kerap bertengkar, tetapi menjadi bukti cinta. Hayo, siapa juga yang pasangan suami istrinya macam begini?

Jalan-jalan Mencari Ilmu

Ketika libur kerja, Selena diajak jalan-jalan oleh Bibi Leh ke Kota Tishri. Suka sekali Selena menikmati hiruk-pikuknya kota. Dan, tibalah di tempat favoritnya, yaitu: Perpustakaan Sentral Kota Tishri. Dia sempat bertemu dengan Av, kepala perpustakaannya.

Dari situ, Selena tertarik untuk belajar lebih dalam lagi. Pilihannya adalah Akademi Bayangan Tingkat Tinggi (ABTT). Yah, itu semacam universitas negeri terkenal, lah. Untuk memasukinya, Selena perlu melalui tiga tahap tes. Pertama adalah tes tertulis. Selanjutnya tes fisik, dan terakhir adalah tes kekuatan.

Gadis ini berhasil di dua tes awal, namun gagal di tes terakhir. Tentu saja, dia merasa sangat sedih. Kalau di bahasa TikTok itu mengsedih. Benar-benar menghancurkan suatu kata baku dalam Bahasa Indonesia.

Ketika kecewa semacam itu, muncullah sesosok makhluk dari balik cermin kamar tidurnya. Dia memperkenalkan diri sebagai Tamus. Nah, si Tamus ini muncul untunglah ketika Selena tidak pas ganti baju atau habis mandi begitu. Kalau ketahuan, kan bisa dijerat UU ITE ya? Eh, kok UU ITE sih?

Baca Juga: Tentang Uang Panai Sulawesi dan Mental Gratisan

Tamus, jelas bukan Tamus Bahasa Inggris, meminta Selena datang ke stadion di malam hari. Selena, katanya, kekuatannya terkunci. Itulah yang membuatnya tidak lolos uji kekuatan untuk masuk ABTT. Pukulan berdentumnya seperti kentut gajah. Pokoknya, hancur betul deh.

Oleh Tamus, Selena dipasangi semacam jarum-jarum aneh yang masuk ke tubuhnya. Proses aneh itu membuat Selena jadi punya kekuatan yang luar biasa. Dia jadi bisa punya tameng transparan keren dan pukulan berdentum yang oke.

Saatnya Mengacau!

Merasa punya keyakinan yang mumpuni untuk bisa diterima menjadi mahasiswa ABTT, Selena datang ketika acara inagurasi. Padahal, semua mahasiswa baru sudah kumpul di situ, jumlahnya ada 100 orang. Selena tetap ngeyel, dia adalah mahasiswa juga.

Eyel-eyelen dengan kakak angkatan, yang di situ disebutkan angkatan ke-75, Selena tetap maju. Dia merasa mahasiswa kok. Akhirnya, tanpa dapat dicegah lagi, Selena bertarung dengan kakak angkatan tersebut. Beberapa orang melawan Selena seorang diri.

Perkelahian makin seru, tetapi ujungnya menjadi kurang seimbang. Meskipun Selena mampu menghadapi senior yang lebih tua itu, namanya juga senior, akhirnya dia menuju kelelahan juga. Muncullah dua mahasiswa baru yang membantu Selena. Namanya Mata dan Tazk. Mereka berdua merasa tidak adil, seorang Selena melawan begitu banyak kakak tingkat.

Kejadian yang super kacau waktu inagurasi itu membuat Master Ox turun tangan. Dia adalah kepala ABTT. Berarti dapat dikatakan rektor begitulah. Gelarnya tidak tahu, apakah profesor atau apa? Apakah profesor yang membuat karya ilmiah dengan meneliti dirinya sendiri? Ini jelas tidak, lah. Itu tidak akan terjadi di Klan Bulan.

Master Ox menghukum Selena, Mata, dan Tazk membersihkan kantin dan ruangan inagurasi itu malam hari dengan cara manual. Datanglah kakak-kakak kelas yang mengacaukan pembersihan mereka. Balam dendas. Halah, balas dendam.

Tindakan balas dendam juga terjadi waktu tengah malam. Saat mahasiswa baru sedang tidur atau bersiap tidur, muncul kakak angkatan, lagi-lagi angkatan ke-75. Selena, Mata, dan Tazk harus melawan mereka lagi. Endingnya, Mata berhasil melumpuhkan kakak tingkatnya dengan membekukan kaki-kaki mereka.

Kekuatan Mata yang tidak terduga itu membuat kagum Master Ox. Dari situ, mereka bertiga sekaligus digabung untuk mengikuti mata kuliah Teknik Bertarung beda sendiri, melawan robot. Sementara mahasiswa lain dilatih oleh Pasukan Bayangan, tentara Klan Bulan.

Cukup keras pertarungan mereka bertiga melawan robot. Bahkan, sampai terluka yang lumayan parah sih. Pada akhirnya, tetaplah mereka bertiga yang menang dengan kekuatan yang tidak terduga, lagi-lagi dari Mata.

Tidak Ada Makan Siang Gratis

No free lunch. Itu pepatah dari barat sana. Tidak ada sesuatu yang gratis di dunia ini. Bahkan, buang air kecil pun bayar. Dihitungnya bukan pertetes, melainkan permasuk ke kamar mandi.

Tamus membantu Selena mendapatkan kekuatannya. Dia mengharapkan Selena untuk melaksanakan sebuah misi. Ketika membacanya, jelas itu adalah misi kejahatan. Tamus ingin Selena membuka perkamen tua di bagian terlarang Perpustakaan Sentral Kota Tishri.

Bagaimana cara masuknya? Selama libur semester dua minggu, dia habiskan waktu untuk menembus bagian terlarang tersebut. Nyatanya, di pintu depannya saja dijaga oleh Pasukan Bayangan. Ketat sekali. Namun, belajar menjadi seorang pengintai, dia bersembunyi di kamar mandi sampai malam. Barulah, dia memasuki lorong terlarang tersebut.

Ternyata, dia mendapatkan serangan yang cukup mengerikan. Sampai terluka parah, eh, bangun sudah di bagian terlarang perpustakaan tersebut. Sebuah ruangan kecil dengan sesuatu yang tidak menarik. Master Ox memberikan kesempatan Selena untuk melihat perkamen tua di ruangan itu. Hanya dalam waktu sangat singkat, Selena sudah berhasil menghafalkan isinya.

Berhasil membuat salinannya, berikutnya adalah masuk ke ruangan-ruangan pengajarnya. Stor, pengajar sejarah, diincar ruangannya untuk mencari mesin penerjemah. Perkamen tua dari Perpustakaan Sentral tidak bisa diketahui bahasanya. Rumit.

Selena berhasil mendapatkan alat tersebut, lalu ke pengajar lainnya dengan mencari pohon bahasa. Waktu ke ruangannya, tidak ada. Eh, justru teman sekamarnya, Mata, yang meminjamkan alat tersebut. Dengan cekatan, Selena menyalin file pohon bahasa milik pengajarnya tersebut.

Dan, terakhir, dari Miss Gill, pengajar Malam dan Misterinya. Pengajar yang ini juga seorang pengintai. Potongan terakhir dari teka-teki tugas Tamus adalah melengkapi gambar. Miss Gill punya solusinya atau alatnya juga. Alat pembaca gambar kuno. Lengkap sudah tugas dari Tamus diselesaikan dengan baik oleh Selena. Tamus sangat senang. Impian jahatnya akan makin terwujud.

Bagaimana cerita selanjutnya? Impian apa sih yang ingin diwujudkan Tamus melalui Selena? Wah, saya harus baca lanjutannya nih, novel Nebula. Nanti coba saya bikin resensinya juga ya!

Baca Juga: Sebuah Kisah Tentang Pengendalian Diri (Jangan Mau Terpengaruh Orang Lain)

Share This:

2 Comments

Silakan tinggalkan komentar

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi dengan benar.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.