Ketika Anak Menjalani Isolasi Mandiri, Apa yang Harus Diberikan?

Ketika Anak Menjalani Isolasi Mandiri, Apa yang Harus Diberikan?

Share This:

Virus corona bisa menyerang siapa saja, termasuk anak-anak. Saat anak-anak terkena, jika tidak parah sekali, cukup lewat isolasi mandiri saja.

Ketika anak menjalani isolasi mandiri, apa yang harus dilakukan orang tua? Bagaimana pula jika orang tua dan anak sama-sama menjalani isolasi mandiri?

Kata Dokter

Karena saya bukan dokter anak, bukan dokter umum, juga bukan dokter cinta, halah, maka saya ambil saja referensi dari seorang dokter. Beliau adalah ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Infeksi dan Penyakit Tropis. Beliau juga anggota Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Namanya Dr. dr. Anggraini Alam, Sp.A(K).

Kata dokter yang satu ini, orang tua cukup memberikan vitamin kepada anak yang terkena covid=19 dan yang sedang isolasi mandiri (isoman) di rumah. Tentu di rumahnya sendiri, bukan di rumah orang lain.

“Untuk isoman, cukup diberikan vitamin saja,” kata dr. Anggraini dalam bincang secara online bersama IDAI, pada hari Ahad (18/07).

Terus muncul pertanyaan yang tentu saja tanpa ada hadiahnya, suplemen apa yang bagus diberikan ketika anak menjalani isolasi mandiri? Itu dalam kondisi anak bergejala ringan maupun tanpa gejala covid-19. Dr. Anggraini mengatakan, bisa diberikan vitamin C, vitamin D, dan mineral seperti zinc.

Kalau diamati, suplemen itu bisa kok didapatkan dari makanan anak itu sendiri. Misalnya, vitamin D, dari protein, semacam telur, ikan, dan keju.

Vitamin C adanya di sayur mayur dan tentu saja buah-buahan. Kalau zinc? Pasti tahu zinc ‘kan? Untuk zat ini, ada di produk hewani dan kacang-kacangan. Berjemur di bawah sinar matahari masih efektif untuk menghasilkan vitamin D. Demikian penjelasan dr. Anggraini.

Ketika Bersama

Ketika anak menjalani isolasi mandiri bersama orang tuanya yang juga covid-19, maka bisa diberikan obat pelengkap jika muncul gejala. Contohnya: obat penurun demam jika ada gejala demam. Obat anti batuk dan pilek bila batuk dan pilek juga.

Orang tua sangat perlu untuk memantau perkembangan anaknya. Makanya, perlu menyediakan termometer dan oxymeter. Kedua alat tersebut diperlukan terutama di pekan awal positif Covid-19.

“(Monitoring) harus sebaik dan sesering mungkin. Selain itu, buat komunikasi yang baik dengan dokter terkait, dan terapkan kebersihan dan 5M kepada anak. Jika tidak ada gejala sistemik, mandi yang bersih, cuci hidung dan mulut, itu bagian yang bisa memperbaiki secara keseluruhan kebersihan anak. Tak lupa, orang tua juga harus menjadi teman untuk anak,” ujar dr. Anggraini.

Berusaha Tetap Tenang

Meskipun banyak pula yang meninggal karena covid-19 ini, orang tua tetap harus menanamkan suasana yang menggembirakan dan menyenangkan ketika anak menjalani isolasi mandiri. Saat anak dicek suhu tubuh dan kadar oksigennya dalam darah, anak jangan dibuat panik.

Dr. Anggraini memberikan pendapat bahwa persentase gejala ringan dan berat covid-19 bagi anak-anak adalah 80:20. Harapannya, dengan penanganan yang tepat, anak-anak bisa cepat sembuh dari virus ini.

Konsultasi dengan kerabat dan dokter anak tetap harus dilakukan ketika anak menjalani isolasi mandiri di rumah. Orang tua perlu mengecek kesehatan anak dengan panduan dan diari isoman dari IDAI yang bisa diakses di laman web resminya.

Menurut dr. Anggraini, isoman adalah cara untuk merawat pasien covid-19 karena rumah sakit penuh. Untuk isoman, bagi mereka yang asimptomatik atau bergejala ringan. Tetap perlu kehati-hatian dan sekali lagi, konsultasi.

Punya pengalaman ketika anak menjalani isolasi mandiri? Atau sedang mengalami sekarang? Bisa kasih komentar di kolom bawah ya! Terima kasih sebelumnya. 🙂

Share This:

Silakan tinggalkan komentar

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi dengan benar.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.