Mengatasi Kecanduan Gadget Pada Remaja di Tengah Pandemi Corona

Mengatasi Kecanduan Gadget Pada Remaja di Tengah Pandemi Corona

Share This:

Mungkin banyak tenaga pengajar yang meresahkan fenomena pemakaian gadget pada remaja, apalagi di tengah wabah virus Covid-19 ini. Waktu yang lebih lama untuk main gadget, memang bisa memunculkan kecanduan gadget pada remaja. Hem, apakah ini salah virus Coronanya?

Ada sebuah keadaan, ketika sebuah sekolah pesantren akan merumahkan para santrinya. Sempat terjadi pembahasan di kalangan para guru, bagusnya para santri ini dipulangkan atau tetap tinggal di pesantren?

Seorang ustadz pernah mengusulkan untuk santri tetap tinggal di pesantren saja. Toh, mereka membaca Al-Qur’an. Bukankah Al-Qur’an adalah obat sesuai dalil dalam Al-Qur’an itu sendiri? Buat apa takut Corona jika sering membaca, apalagi menghafalkan Al’Qur’an?

Tetap Harus Pulang

Musyawarah atau rapat tersebut diambil kesimpulan, bahwa santri tetap harus pulang. Lebih aman mereka bersama dengan keluarga.

Pernah terjadi, ketika ada wabah cacar di pesantren tersebut, hampir semua santri terkena. Bahkan pembinanya juga tidak kalah ikutnya. Padahal, hanya cacar yang jauh lebih tidak berbahaya dibandingkan Corona.

Keputusan diambil memang dengan dilema. Pada satu sisi, mereka lebih aman, mungkin lho ya, tetapi di sisi lain, ada perubahan dalam pola belajar mereka nantinya. Pembelajaran lewat online adalah solusinya di tengah pandemi Covid-19 ini.

Perubahan Kepribadian

Mungkin mereka diberikan HP sendiri oleh orang tuanya, ada juga yang tidak. Namun, waktu mereka lebih banyak dengan gadget tersebut, daripada ketika masih di pesantren.

Bagaimana sih tanggapan mereka? Mungkin senang bagi yang sudah lama tidak pegang HP. Mungkin juga, di sisi sebaliknya, mereka rindu juga dengan suasana pesantren.

Salah satu yang tampak bagi santri adalah cara menggunakan medsos, terutama Facebook. Ini yang saya amati lho ya! Sebab, saya berteman dengan cukup banyak di antara mereka.

Apa sih yang cukup menarik? Berikut saya ulas satu persatu ya!

Main Game

Kecanduan gadget pada remaja tampak sekali pada permainan di HP. Game begitulah. Entah game apa saja yang berhasil mereka mainkan, tapi sebagian besar online.

Pada tahun 2002, saat saya masih SMA, memang sudah ada game online. Pada saat itu, belum banyak gadget seperti sekarang. Permainan lewat komputer, berarti harus lewat game centre.

Ketika ada remaja yang suka main game online, maka dia terdorong juga untuk promosi lewat medsosnya. Bisa dalam bentuk gambar hasil permainannya atau link. Intinya, dia ingin menandakan bahwa ini lho saya, sudah bisa main game online!

Baca Juga: Penyebab Depresi Pada Remaja Karena Media Sosial

Namun, sampai di sini, adakah game online yang syar’i? Yang tokoh pemainnya pakai baju gamis dan bercelana cingkrang, sementara yang perempuan berjilbab besar sampai bercadar? Sepertinya saya belum menemukannya.

Kalaupun ada, siapa juga yang mau mainkan ya? Jangan-jangan ketika ada, malah dipakai buat propaganda melawan teroris? Tokoh pemain berbusana syar’i malah dijadikan musuh oleh tentara yang notabene kita yang mainkan. Naudzubillah min dzalik.

Game akan lebih gayeng jika tokoh pemainnya seksi. Seperti game waktu saya kecil, Street Fighter, ada tokoh bernama Chung Lie. Dia seorang cewek yang roknya agak panjang, tetapi terbelah di pinggir. Alhasil, paha sampai menyentuh pangkalnya kelihatan, seperti dalam filmnya.

Itu ‘kan sudah tanda-tanda pornografi. Apalagi sekarang. Ah, saya tidak tahu terlalu tahu nama gamenya. Sebab, saya sendiri kalau main game mudah bosan. Beberapa kali saya download game di Playstore, belum hitungan hari, sudah saya hapus biasanya. Bahkan hitungan menit kadang, langsung game itu hilang dari HP saya.

Bukannya karena sok baik, tidak juga, tetapi memang karena bosan. Apalagi kalau menemukan ada tahap yang sulit dan tidak bisa terpecahkan, saya lebih baik uninstall saja. Ya ‘kan? Tujuan kita main game untuk mencari kesenangan. Tapi, ketika malah jengkel, sampai marah, maka lebih baik tinggalkan saja!

Memajang Foto Cantik

Kalau tadi game biasa dilakukan remaja laki-laki, sekarang yang perempuan. Ada yang berasal dari sekolah Islam, berjilbab besar sih, bahkan ada beberapa fotonya bercadar, tetapi buka wajah juga.

Entahlah, apa yang ada di pikirannya? Apakah memang karena rasa kecanduan gadget pada remaja seperti dia yang cukup tinggi, atau karena terpengaruh orang lain untuk lebih eksis?

Sayang sekali bukan jika dia yang masih sekolah setingkat SMA pajang foto di mana-mana? Hal yang dikhawatirkan itu memang foto itu akan disimpan. Terus dijadikan obyek fantasi seks.

Sudah ada yang terjadi seperti itu, bahkan untuk yang bercadar sekalipun. Aneh juga ya? Padahal hanya kelihatan mata, kok bisa terangsang? Hem, mungkin dia bayangkan isi tubuhnya di balik hijab itu. Bukankah masih bisa tampak menerawang?

Baca Juga: Kaum Rebahan Tetap Butuh Perubahan?

Lah, laki-laki saja bisa membayangkan wajah perempuan pas lihat tembok kok! Beneran! Fantasi seks laki-laki memang sangat tinggi. Makanya, novel-novel stensilan seperti Fredy S, cukup laris dahulu. Hanya dengan kata-kata yang banyak, gambar ala kadarnya di kaver, sudah bisa memuaskan dahaga perseksan para pembacanya.

Apa mereka tidak sadar, yang akhwat semacam itu, baik remaja maupun tidak, bahwa foto mereka bisa disantap oleh laki-laki yang bukan mahrom? Solusinya ya memang dihapus foto itu untuk menghilangkan dosa, tetapi kalau yang ambil foto itu tidak mau hapus, bagaimana?

Kasihan bagi remaja akhwat, sudah ke luar dari sekolah pesantren, tetapi sikapnya seakan-akan tidak pernah tinggal di pesantren. Mirip cewek biasa saja.

Terus, anehnya juga pakai cadar di foto yang lain, pada foto yang lain juga, malah dibuka. Hem, entahlah!

Misalnya nanti waktu sudah mau menikah, si laki-lakinya termasuk ikhwah tulen, keras, pemikiran sama kata-katanya juga keras mentahdzir, hehe, kaget menemukan foto istrinya ternyata pernah terpampang bebas di medsos.

Marah wajar, jengkel juga wajar, tetapi sudah terjadi seperti itu. Istrinya bercadar, tetapi pernah ada banyak laki-laki yang menikmati wajah ayu istrinya. Bagaimana tuh?

Jualan Online

Kalau ini, ada remaja putri yang mulai belajar bisnis online. Dia mulai dari produk kecantikan. Sepertinya memang dropship alias mengambil barang dari orang lain, bisa supplier maupun produsen langsung, tetapi tanpa butuh stok barang. Sebar link, sebar gambar, ada yang tertarik, pesan ke yang punya produk.

Ada yang begitu, dia pasang foto produknya di status FB. Untuk menu yang ini, kita bisa melihat siapa saja yang melihat status kita. Sama dengan pasang status di WA. Kontak kita dalam WA tersebut akan ketahuan, siapa nih yang kepo dengan status kita?

Ini sebenarnya bisa kecanduan dalam bentuk lain. Selain kecanduan pada gadget, juga bisa kecanduan nyari duit. Penyebab banyak mahasiswa gagal menyelesaikan kuliahnya karena sibuk cari uang seperti ini. Keenakan punya uang sendiri, jadi lupa deh dengan yang memberi uang utama, yaitu: orang tua.

Bagaimana Cara Menghilangkan Kecanduan Semacam Itu?

Kelebihan dalam hal apapun sebenarnya memang tidak bagus. Jangankan untuk gadget, untuk ibadah saja tidak bagus, apalagi yang memang kurang ibadahnya. Nah, kalau ini memang termasuk jenis kekurangan yang parah, termasuk saya juga. Hehe…

Gadget jika tidak dibatasi memang jadinya akan tidak sehat. Ada beberapa hal yang perlu dibatasi kaitannya dengan gadget mencakup sebagai berikut:

Waktu

Dalam sehari, menurut Achsinfina H. Sinta, M.Psi, Konsultan Psikologi, ketika menjadi pembicara di Webinar Media Academy bertajuk “Gadget di Tangan ABG” Kamis, (04/06), memberikan waktu maksimal dua jam saja.Wuih, susah atau sulit ini? Hehe…

Ketika dua jam selesai, maka orang tua perlu mengendalikan keinginan anak remajanya saat ada inbox atau DM pada media sosial mereka. Ajarkan mereka untuk tidak terlalu memperhatikan chat-chat yang masuk tersebut karena biasanya remaja jatuhnya adalah pada obrolan-obrolan yang bermutu, tetapi rendah!

Mengelola waktu yang lain pada gadget adalah mematikannya 30 menit sampai dengan satu jam sebelum mereka tidur. Hem, ini jika tidak diatur, biasanya remaja justru akan sulit tidur kalau gadgetnya masih menyala bohay.

Begadang menjadi alamat berikutnya untuk menghabiskan malam. Pindah dari satu medsos ke medsos lain. Chat dengan banyak orang. Berhaha-hihi dan tertawa sendiri di dalam kamar, tanpa sadar ada yang tertawa di pojokan. Hihi, apa lho itu?!

Jika orang tuanya tegas, maka ambil saja gadget tersebut dan amankan. Bukankah sebenarnya barang itu adalah milik orang tua? Apakah remaja itu membelinya dengan uangnya sendiri?

Saya kok yakin, 1000% yakin, bahwa itu adalah uang dari orang tua, bukan uang si remaja sendiri. Jadi, sudah hak prerogatif orang tua untuk menyimpan gadget tersebut agar lebih aman dan jauh dari jangkauan remaja sebelum mereka tidur.

Tapi orang tua juga harus konsisten lho ya! Jangan sampai mengajarkan anaknya untuk tidak main gadget sebelum tidur, eh, dia sendiri berhaha-hihi dengan orang tua lain, apalagi di grup-grup WA yang absurd itu.

Tempat

Saya kok miris ya jika ada anggota keluarga yang masing-masing sibuk dengan gadgetnya sementara secara fisik mereka bersama.

Contohnya ketika saya di Jakarta, ada urusan dinas. Ketika akan makan di restoran hotel, saya menyaksikan sebuah keluarga China yang duduk mengitari meja, tetapi pandangan mereka tertuju ke HP semua.

Tidak ada percakapan sama sekali, diam semua, cuek semua.

Haduh, saya jadi mengelus dada. Tentu ini dada saya sendiri, bukan dada mereka. Ngapain? Bukan mahrom, hehe..

Ada lagi yang tinggal di sini. Saya pernah naik motor lewat depan rumahnya. Suaminya polisi, sedangkan istrinya ibu rumah tangga.

Hampir tiap saya lewat, keadaannya hampir sama. Suami pakai celana pendek, duduk nangkring di kursi kayu, mata fokus menatap layar gadget. Sedangkan istrinya terlihat ingin ngobrol, tapi mau diapakan juga? Dia pun ikut main HP.

Semestinya untuk mengurangi kecanduan gadget pada remaja perlu diatur tempat-tempat mana saja yang boleh pakai HP? Misalnya di ruang makan saat makan malam bersama. Maka, gadget perlu dibuang jauh-jauh. Waduh, kok bahasanya ekstrim ya?

Gadget masing-masing disimpan di tempat khusus misalnya, terus dibuang. Walah, ini juga sama saja!

Ruang keluarga atau ruang tengah menjadi tempat yang nyaman buat berkumpul seluruh anggota keluarga. Momen yang sebenarnya juga sama saja sih, karena toh kebanyakan di rumah.

Tapi, setidaknya, dari pagi sudah pegang gadget, masa mau seterusnya sampai hari kiamat?

Padahal masih ada orang tua, kakak, adik, anak, sampai dengan keponakan, pembantu, kucing juga masuk. Anak yang tumbuh remaja harus diajarkan bahwa hidup ini tidak semata-mata urusan gadget atau cuma dunia maya. Ada dunia nyata, Men!

Oh, ya, perlu ada pemahaman ke remaja bahwa gadget itu bukanlah mainan, melainkan hanya tools atau alat.

Biaya

Kira-kira menurut kamu sendiri, lebih bagus pakai internet kabel macam Indihome atau paket data biasa ya? Dari segi biaya sih sebenarnya juga tidak jauh beda.

Kalau Indihome, maka pembayaran kita tergantung dari kecepatan akses. Biasanya ada 10 MB, 20 MB sampai dengan 40 MB. Begitu kan? Makin besar, maka makin cepat pula aksesnya.

Sedangkan paket data biasanya, pastilah tergantung isi kuota yang ada. Ada yang harganya 112 ribu, isinya 14 Giga. Ketika 14 Giga habis, ya, tidak bisa internet lagi.

Ketika ada remaja diberikan gadget oleh orang tuanya, maka sang orang tua perlu mempertimbangkan biaya buat anaknya tersebut. Setiap bulan perlu dianggarkan berapa?

Namun, kalau Indihome, maka juga dipikirkan biayanya. Apakah akan lanjut terus atau tidak? Sebab, 24 jam bisa pakai internet terus dengan Indihome semacam itu.

Kalau anak remajanya tetap ngotot main internet terus, pertimbangkan saja untuk mengurangi biaya paketnya. Bukankah sebagai orang tua, hal itu bisa dilakukan?

Kesimpulan

Mengatasi kecanduan gadget pada remaja memang secara umum gampang di teori. Prakteknya, lumayan susah. Namun, itulah tantangan bagi orang tua jaman now. Bukankah setiap zaman itu memang berbeda-beda tantangannya?

Begitu juga ketika anak remaja kita tersebut tumbuh jadi orang tua di masa depan, pastilah ada tantangannya juga. Semoga kita bisa menyaksikan mereka juga tumbuh jadi orang tua. Supaya kita bisa mengamati bagaimana penanganannya mereka terhadap anak remajanya sendiri?

Baca Juga: [Temukan di Sini] 5 Hal Positif Saat Kamu Diblokir Mantan di Whatsapp

Share This:

Silakan tinggalkan komentar ya!

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi ya!

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!