Cerita Nyata Tentang Dampak Hukuman Fisik Terhadap Anak

Cerita Nyata Tentang Dampak Hukuman Fisik Terhadap Anak

Share This:

Niatnya mungkin ingin mendisiplinkan anak, ingin membuat anak menurut. Makanya, kalau sampai memukul anak? Lalu, apa dampak hukuman fisik terhadap anak seperti itu? Beserta contoh kisah nyatanya.

Kisah atau cerita nyata tentang dampak hukuman fisik pada anak ini bisa saja terjadi dalam keluarga kita. Orang tua yang memang dari namanya saja orang tua adalah yang paling tua dalam rumah tersebut. Anak-anak jelas masih muda usianya. Apa ada anak-anak yang lebih tua daripada orang tuanya? Tidak ada ‘kan?

Apabila orang tua sampai memukul atau bahkan menendang anak, bisa jadi itu menjadi puncak dari kemarahan. Mungkin sebelumnya, anak itu sudah dinasihati dengan kata-kata yang baik, lembut dan penuh hikmah, cieh. Namun, anak masih belum nurut. Masih semaunya sendiri. Orang tua pun mulai mengambil tindakan lebih tegas.

Tahap Emosional Orang Tua

Menurut teori, bukankah orang tua yang lebih dahulu lahir daripada anak? Dari usia yang sudah lebih lama itu, orang tua mestinya lebih punya asam garam kehidupan, jangan cuma di dapur! Orang tua telah kenyang dengan pengalaman hidup, baik pahit maupun tidak manis. Aduh, kok sama-sama ya?!

Orang tua pernah SD, SMP, SMA, perguruan tinggi, bahkan yang tinggi sekali gedungnya. Mungkin pula hingga jenjang S2 atau S3. Ini beneran S3 lho, bukan SD, SMP atau SMA. Atau malah S3 yang kepanjangannya Sampai Sekolahdasar Saja. Memang maksa banget sih kepanjangannya, yang penting masuk S3, hehe…

Baca Juga: Gangguan Mental Pada Anak

Dari ilmu yang sudah didapatkan, praktek dalam kehidupan, evaluasi dan perenungan yang dalam, emosi adalah hal yang semestinya mudah untuk dikendalikan. Mobil saja bisa dikendalikan orang tua kok, terlebih bagi orang tua yang memang punya mobil. Sementara emosi pastilah melekat dalam diri setiap orang. Apa ada yang terlahir ke dunia ini tidak punya emosi?

Memang, emosi bisa positif maupun negatif. Motivasi dan hasrat ingin berprestasi termasuk emosi yang positif. Dan, itu bagus. Ya, bagus, asal jangan sampai positif covid-19. Itu saja.

Terus, lha kok, ada orang tua yang tidak bisa mengendalikan emosinya hingga memukul anak. Apakah orang tua itu tidak berpikir tentang dampak hukuman fisik pada anak? Atau karena sudah saking emosinya hingga pikiran waras tertutupi? Itulah efek negatif dari emosi, bisa menutupi akal sehat.

Apa cerita yang cocok dengan efek hukuman fisik pada anak ini?

Klasik, Tetapi Perlu Untuk Diulik

Seorang ayah berhasil memiliki mobil roda empat. Ya, iyalah. Mobil itu konon berwarna merah, tetapi bukan mobil pemadam kebakaran lho! Termasuk mobil mewah, otomatis harganya waow, dong!

Ayah tersebut pulang dari kantor. Otomatis, dia dalam keadaan lelah. Tidak perlu ditambahkan jadi letih, lesu dan letoy! Kalau yang begitu, butuh suplemen khusus. Hehe…

Rupanya, si anak, tentu dari ayah tersebut, tidak cukup dengan menggambar di kertas. Dia kebetulan menemukan paku. Tanpa sepengetahuan pembantu yang seharusnya menjaganya, anak tersebut menggores permukaan dari mobil sang ayah.

Wuidih, dibayangkan seperti kertas gambar saja! Mobil itu penuh dengan goresan dari anak. Bayangkan saja, kira-kira berapa biaya untuk memperbaiki mobil tersebut? Apakah biaya tersebut sama dengan biaya nikah di Sulawesi yang disebut dengan uang panaik itu?

Keterkejutan Si, Eh, Sang Ayah

Betapa menggelegar bagaikan guntur di tengah hujan deras. Sudah suaranya keras, derasnya ucapan dari sang ayah tersebut. Dia murka luar biasa, meskipun bagian tubuhnya tidak ada yang pakai mur. Marah dengan sebenar-benarnya marah, ya, iyalah masa bercanda marahnya. Mobil kesayangannya, mobil yang disayanginya, menjadi hancur cat luarnya karena kelakukan anaknya sendiri.

Dia memarahi anaknya, juga pembantunya. Kenapa jaga anaknya saja tidak bisa? Lalu, bagian tubuh mana yang paling disalahkan dari si anak? Tentu saja tangannya. Sang ayah memukul berkali-kali telapak tangan anaknya. Sekencang-kencangnya. Sekeras-kerasnya. Tragis. Anak tersebut menangis tersedu-sedu setelah dipukul seperti itu.

Ketika saya menulis ini, hampir saja air mata ini tumpah. Apakah kisah ini banyak terjadi di kalangan kita sendiri? Anak yang tidak terlalu tahu apa-apa mendapatkan limpahan amarah dari orang tuanya sendiri.

Anak tersebut tambah dihukum dengan tidak boleh tidur di kamar orang tuanya. Hem, bukan juga orang tuanya mau bebas berhubungan lho! Namun, agar anak menjadi semakin sadar dengan kesalahannya. Mau sadar bagaimana? Yang ada menangis dan terus menangis.

Pembantu rumah tersebut juga ikut menangis. Kasihan anak sekecil itu harus menerima perlakuan kasar dan kaku dari orang tuanya sendiri. Anak tersebut seakan-akan tidak berhenti menangis. Sampai akhirnya dia tertidur karena kecapekan menangis.

Diawali dari Demam

Dampak hukuman fisik terhadap anak tersebut masih terus berlanjut layaknya sinetron Indosiar. Eh, bukankah cerita-cerita macam begini juga cocok dijadikan sinetron? Halah, apa juga yang bisa diambil dari cerita sinetron macam begitu selain membuang-buang waktu saja? Kumenangis, membayangkan… Halah dan halah.

Anak itu menjadi demam. Panas tinggi. Tidak mempan dikompres oleh pembantu. Terpaksa dibawa ke rumah sakit. Rupanya, sakitnya malah makin parah. Dokter memeriksa, eh, ternyata itu karena sakit di tangannya. Ya, kedua tangan anak itu membusuk karena luka yang tidak tertangani dengan baik.

Waduh, apa solusi untuk masalah tersebut? Dokter pun menawarkan jalan untuk diamputasi saja. Itu lebih baik daripada penyakitnya menyebar.

Orang tua mana yang tega mengikhlaskan kedua lengan anaknya diamputasi. Pada akhirnya, sang ayah merasa menyesal. Sangat menyesal. Duh, bodohnya dia sampai memperlakukan anaknya seperti itu. Hanya demi menjaga mobilnya tetap mulus dan kinclong, dia pukul anaknya seperti binatang saja.

Momen yang sangat menyedihkan dari kisah ini adalah ketika anaknya bangun, kedua lengannya sudah tidak ada, diperban, tetapi dia bingung. Jelas bingung karena anak itu masih sangat polos. Ketika bertemu dengan orang tua yang menangis, dia bertanya, “Ayah, kembalikan tanganku! Aku janji tidak akan nakal lagi, Ayah.”

Ya, Allah, kira-kira apa yang akan dijawab oleh orang tua, oleh sang ayah? Bagaimana memahamkan si anak bahwa tangannya tidak bisa muncul lagi? Tidak bisa ke luar lagi layaknya rambut yang dipotong. Seandainya nanti pakai tangan palsu, aduh, itu juga tidak kalah menyakitkan. Dan, yang jelas, penyesalan selalu saja munculnya di akhir.

Sebenarnya, yang Dewasa Mana, yang Anak-anak Mana?

Jika orang tua mau berpikir tentang dampak hukuman fisik terhadap anak, kira-kira nanti terbawa sampai dewasa atau bukan? Bisa iya, bisa tidak, tetapi sebagian besar iya. Anak yang dibesarkan dengan amarah, bahkan kekerasan akan cenderung untuk mengulanginya ketika sudah jadi orang tua juga.

Nah, ini yang kita dikhawatirkan. Kalau seperti ini terus, sampai kapan siklusnya akan berhenti? Sampai kapan kita bisa menghentikan dampak hukuman fisik terhadap anak tersebut?

Ingatlah wahai orang tua, bahwa siapa sih yang usianya lebih banyak? Anak ataukah orang tua? Jelas orang tua bukan? Lalu, mengapa masih tidak memikirkan dampak hukuman fisik terhadap anak atau masih terpengaruh dengan orang lain yang juga melakukan hal yang sama?

Sadarilah wahai orang tua, bahwa anak kita lahir dari darah daging sendiri, bukan dari orang lain, kecuali memang anak tiri maupun anak angkat. Tapi, kalau anak kandung? Masa mau diperlakukan dengan amarah dan penuh dengan kekerasan?

Baca Juga: Mendidik Versi Kurikulum Para Binatang

Share This:

Silakan tinggalkan komentar ya!

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi ya!

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!