Saran Psikolog, Belajar dari Kasus Orang Tua Bunuh Anak Sendiri di Lebak, Banten

Saran Psikolog, Belajar dari Kasus Orang Tua Bunuh Anak Sendiri di Lebak, Banten

Share This:

Subhanallah. Muncul lagi kasus orang tua bunuh anak sendiri yang terjadi di Lebak, Banten. Anak tersebut meninggal dunia karena dianggap susah diajari untuk belajar online.

Waduh, ini benar-benar mencoreng wajah orang, eh, maksudnya dunia pendidikan kita di Indonesia ini! Masih di tengah pandemi corona yang belum selesai layaknya sinetron Indosiar itu, kasus orang tua bunuh anak yang satu ini memang disesalkan oleh banyak orang. Apakah pelakunya sendiri menyesal?

Sampai Tewas

Namanya saja berita orang tua bunuh anak sendiri, ya, jelas sampai tewas, lah. Tapi, tahukah kamu? Bagaimana kronologisnya?

Tersebutlah seorang ibu berinisial LH yang masih berumur 26 tahun. Anak yang menjadi korban kejahatan mereka baru kelas 1 SD. Subhanallah. Masih sangat kecil.

Awalnya, anak tersebut diajari belajar online. Otomatis tidak bertemu dengan guru secara langsung. LH merasa kesal karena si anak tidak mau paham juga. Dia mencubit, memukul tangan kosong sampai memakai gagang sapu. Ini jelas sapu rumah mereka, bukan sapu sihir layaknya film Harry Potter itu.

Namanya anak kecil, menerima serangan maut seperti itu, siapa yang bisa tahan? Benar-benar kasihan, korban sampai tersungkur. Badannya lemas.

Baca Juga: Lebih Jelas yang Mana, Cermin Kamar Tidurmu atau Anak Cerminan Orang Tua?

Kalau dalam pertandingan UFC, lawan sudah KO, sudah terbaring di lantai, maka tidak boleh lagi diserang. Tinggal wasit menentukan, apakah masih lanjut atau tidak? Kalau tidak, berarti yang masih tegak, maka itulah pemenangnya.

Nah, kalau ini justru tidak. Saya yakin, si ibu hampir tidak pernah nonton UFC, tetapi perlakuannya lebih kejam daripada atlet olahraga super keras itu.

Anaknya sudah jatuh, malah dipukuli lagi. Sampai tiga kali. Tepat di kepala bagian belakang. Melihat kejadian itu, bagaimana respons suaminya? Awalnya sih, sempat marah kepada LH. Ternyata, ada inisiatif dari suami untuk membawa korban ke luar, mencari udara segar. Anak tersebut sesak napas, semoga udara di luar bisa membantu.

Dalam Perjalanan

Saat di perjalanan, anak tersebut sudah meninggal dunia. Waduh, jelas orang tua tersebut kaget dong! Pasti ada ketakutan di antara mereka. Terutama si ibu. Meskipun dia sudah berbuat jahat, masa tidak ada sih rasa menyesalnya biar cuma setitik?

Untuk menghilangkan jejak, tidak ada kaitannya dengan acara televisi “Jejak Petualang”, anak malang tersebut dikuburkan di kuburan. Ya, iyalah. Maksudnya di TPU atau Tempat Pemakaman Umum Gunung Kendeng yang berlokasi di Kecamatan Cijaku, Lebak.

Seharusnya, kalau dikubur, mesti dengan kain kafan, ya ‘kan? Kalau seperti itu, sih, diurus oleh beberapa atau banyak orang. Tapi, kalau kasus pembunuhan, maka tidak sampai demikian, seperti dalam berita ini.

Anak tersebut dikubur dengan pakaian lengkap. Wah, ini tambah tidak benar! Namun, apa daya, mungkin saking paniknya dan segera ingin cuci tangan dari kejahatan, maka sudahlah, dikuburkan begitu saja.

Mulai Terungkap

Tidak langsung hari itu juga, kejahatan mereka mulai terbongkar. Kasus orang tua bunuh anak sendiri ini terungkap dua pekan kemudian. Berarti pada Sabtu (12/9/), belum lama ketika tulisan ini dibuat.

Awalnya, ada warga yang membongkar makam yang mencurigakan. Ini digali karena curiga, perasaan tidak ada yang meninggal beberapa pekan terakhir, tetapi kok ada kuburannya?

Mulai dilakukan penggalian. Baru setengah lubang, muncul anggota tubuh manusia, tetapi dengan pakaian yang masih utuh. Nah, itu dia anaknya! Heboh dong masyarakat di sekitar situ.

Aparat kepolisian langsung bergerak cepat. Tanpa perlu lama-lama, kedua pelaku ditangkap di Jakarta.

Makam digali setelah muncul kecurigaan, lantaran tidak ada warga meninggal yang dimakamkan di TPU Gunung Keneng dalam beberapa pekan terakhir. Saat penggalian mencapai setengah lubang, muncul anggota tubuh manusia dengan pakaian masih utuh. Hal ini membuat heboh masyarakat setempat. Polisi kemudian bergerak cepat dan menangkap kedua pelaku di Jakarta.

Ya Allah, Kok Bisa Begitu?

Berita orang tua bunuh anaknya sendiri yang satu ini memang membuat kita mengelus dada lebih dalam. Apa yang sebenarnya terbayang di pikiran ibu pelaku tersebut ya? Apakah dia memang tidak ingat dahulu ketika anak tersebut masih ada dalam rahimnya?

Seorang ibu pastilah merasakan kepayahan ketika hamil. Ngidam dan harus segera dipenuhi ngidam tersebut. Mau tidur, tidak nyenyak. Perut sakit. Muntah. Tidak nafsu makan. Mau kerja sehari-hari saja, berat, sementara masih ada yang harus diurus, bisa suami, bisa anak lain yang lebih besar.

Makin besar kehamilan, penderitaan makin terasa. Kaki bengkak. Perut mulai nyeri, snut-snut kencang. Sampai akhirnya tibalah saat untuk melahirkan.

Untuk melahirkan saja, belum tentu langsung mudah. Harus melewati berbagai macam pembukaan. Ibaratnya pembukaan acara, menunggu pejabat yang membuka acara pastilah lama, apalagi acara keagamaan. Hehe, pengalaman pribadi sih jadi bagian dari acara tersebut.

Ada sepuluh pembukaan bayi. Dari satu ke dua, belum tentu sebentar. Mentoknya bisa sampai pembukaan empat, terus lama lagi. Kalau sudah begitu, butuh tindakan. Biasanya berupa rangsangan obat agar mempercepat kontraksi.

Masih lebih baik kalau dokter kandungannya perempuan. Lah, kalau laki-laki? Pokoknya jadi serba salah, karena aurat pastilah terbuka. Namun, karena darurat, apa boleh baut? Eh, apa boleh buat?

Masa Pertumbuhan Anak

Masa kehamilan diakhiri dengan kelahiran anak. Bayi yang merah, mungil dan lucu ke luar ke dunia ini dengan tangisan yang kencang. Dirawat sedemikian rupa, lalu diberikan kepada ibunya untuk disusui.

Seiring waktu, bayi tersebut mulai tumbuh. Mulai bisa tersenyum. Menampakkan giginya yang masih sangat sedikit. Merespons orang tuanya. Ah, pokoknya lucu sekali.

Pakaiannya yang lucu, warna-warni, dengan gambar-gambar kartun sesuai jenis kelaminnya, membuat bayi itu tampak lebih menggemaskan. Pipinya yang gembul, membuat orang ingin selalu menciumnya. Baunya yang wangi habis mandi, membuat ingin digendong dan ditimang-timang.

Tangisannya yang mengagetkan di malam hari membuat ibunya bangun. Meskipun masih terasa mengantuk karena capek luar biasa seharian, tetaplah menyediakan waktu untuk menyusui bayinya. Sampai bayi tersebut kenyang dan tidur kembali, barulah ibu bisa istirahat dengan tenang. Eh, istirahat dengan sempurna maksudnya.

Namun, belum tentu akan sampai pagi. Bisa jadi, bayi tersebut terbangun lagi. Kalau tadi haus, sekarang buang air. Mengompol. Ibunya bangun lagi, mengganti celananya karena bayi itu memang belum bisa mengganti sendiri. Ya, iyalah!

Tidur lagi. Menjelang Subuh, eh, bangun lagi. Sekarang BAB alias pup, bukan pup G lho ya! Ibu harus bangkit dari kasurnya yang empuk demi melayani buah hatinya. Membersihkan kotorannya, mengganti dengan celana yang baru.

Pada akhirnya, ibu tersebut mau tidur lagi, sudah mau masuk waktu Subuh. Tanggung mau tidur lagi, nanti bisa jadi malah bangun kesiangan.

Mulai Bisa Berjalan dan Berlari

Bayi yang baru bisa merangkak, memang belum bisa ke mana-mana dalam jarak yang jauh. Di situ-situ saja. Alhasil, ibunya bisa mengawasi dengan baik.

Ketika anak tersebut ingin belajar berjalan, ibunya mengajari. Dibantu dengan pegangan pada dua tangan sang ibu, anak tersebut mulai menapak kakinya, satu demi satu, perlahan-lahan. Anak tersebut makin terlatih berjalan. Dia pun mulai melepas tangan ibunya. Sampai akhirnya, jalannya sempurna. Tidak hanya berjalan, tetapi juga berlari. Pada akhirnya, menjelajahnya makin jauh. Ibu bisa khawatir, ke mana perginya anak ini?

Masa-masa indah saat anak masuk sekolah, juga tidak kalah indah. Pertama kali mengenakan seragam TK, aduhai, anaknya sudah sekolah. Cium tangan ayah dan ibunya, ikut belajar di dalam kelas, meskipun pertama kali sih, ibunya yang menemani.

Hingga pada masanya, anak itu kelas 1 SD. Sampai di sini, apakah si ibu pelaku tersebut tidak ingat sama sekali momen indah bersama anaknya? Dari sejak hamil, berada di kandungan, melahirkan, disusui, diberi makanan tambahan ASI, diberikan baju yang baru dan lucu, diajari berjalan hingga masuk sekolah di kelas 1 SD. Apakah ibu tersebut benar-benar lupa?

Kalau sampai lupa, Subhanallah, betapa momen bersama anak tersebut tidak bisa diulangi kembali. Momen yang sangat berharga. Anak-anak cuma sebentar jadi anak kecil. Tanpa terasa dia akan tumbuh dan meninggalkan kita nantinya.

Saran Psikolog

Seorang psikolog yang bernama Mario Manuhutu, M. Si, punya keyakinan bahwa kejadian tersebut tidak hanya karena anak yang susah diajari lewat belajar online. Pasti ada faktor lain yang menjadi latar belakangnya. Kalau bicara latar belakang, jangan cuma dikaitkan dengan foto ya? Jika lahir tahun ganjil, latar belakang merah, kalau genap, biru. Hehe…

Orang tua tidak semuanya mampu untuk mengatasi stres yang diderita. Menurut Mario, “Orang punya toleransi terhadap situasi yang menekan itu beda-beda,” kata Mario kepada Kompas.com ketika dihubungi, Selasa (15/9/).

Oleh karena itu, Mario menyarankan untuk orang tua yang stres, diatasi dulu stresnya, baru mengajar atau berkomunikasi dengan anak.

Apalagi jika dihadapkan dengan materi yang sulit dan anak masih belum mengerti juga, maka itu akan menambah stres orang tua. Beberapa warganet, kalangan ibu, merasa kesulitan mengajari anak sekarang. Materi kelas 1 SD saja sudah mirip dengan SMP. Dan, itu benar adanya. Saya punya anak yang kelas 2 SD, materinya memang lumayan rumit.

Baca Juga: 7 Cara Mengatasi Anak Menangis Minta Sesuatu Menurut Para Psikolog

“Anak kan lihat kita, anak juga belajar dari apa yang dia lihat,” ujar Mario. Kalau kita menyuruh anak untuk tenang belajar dan tidak cengeng, tetapi apalah gunanya mengatakannya sambil marah-marah?

Kata Mario, jika emosi tidak dikelola dengan baik, bisa membuat orangtua jadi lepas kendali. Bila hal itu terjadi, maka selanjutnya adalah hal-hal negatif. Contohnya: kata-kata kasar yang jelas berpengaruh pada psikologis anak. Kekerasan fisik pun jadi tidak terhindarkan. Kasihan anak begini diperlakukan.

Tips Melepaskan Stres dengan Cara Sederhana

Dalam tulisan ini, orang tua bisa menerapkan tips mengatasi stres dengan cara yang mudah, murah dan tentunya sederhana. Bisa dengan tarik napas dulu, cuci muka, minum teh, kopi, jalan-jalan dulu, semacam itu. Bagus juga, ambil air wudlu, sholat dua rakaat, mengaji Al-Qur’an. Insya Allah, hal itu sudah lumayan cukup meredakan stres dan emosi yang sebelumnya muncul.

Bisa jadi, sebelumnya kamu di kantor ada masalah dengan rekan kerja. Baru pulang meeting dengan waktu yang panjang, apalagi selama meeting tersebut, kamu pakai masker terus. Kan jelas mengurangi hirup udara segar. Sementara pikiran yang diisi udara segar, jelas akan lebih segar. Lho, ya memang!

Efek Terhadap Anak

Anak yang dibentak orang tuanya, apalagi ditambah dengan hardikan dan nada tinggi, pastilah bikin anak kaget. Lalu, bagaimana dengan respons anak? Mungkin saja anak tersebut akan menangis, lalu pergi begitu saja dari situ, kabur. Reaksi lainnya adalah dia akan ikut-ikutan marah. Mungkin tidak langsung saat itu, tetapi dicari momen yang pas. Adiknya bisa jadi korban kemarahan selanjutnya.

Apakah kasus orang tua terhadap anak sendiri ini akan terjadi lagi? Intinya, orang tua perlu sadar bahwa di rumah, dia lah yang paling dewasa. Anak-anak belum pernah menjadi dewasa, tetapi orang tua pernah menjadi anak-anak.

Kalau kaidah itu sudah dipahami, maka orang tua yang lebih bisa ambil peranan dong untuk mengatasi stres sendiri dan keluarganya. Bila tidak mampu, orang tua bisa berkunjung atau berkonsultasi di klinik kesehatan jiwa terdekat. Sebab, kesehatan jiwa ini juga penting lho! Tidak kalah pentingnya dibandingkan kesehatan fisik.

Pada momen pandemi ini, pendidikan yang tadinya penting, boleh jadi masih kalah dengan kesehatan. Belajar daring itu yang penting ada belajarnya, kalau mau sempurna, memang susah. Lebih sulit belajar online daripada tatap muka. Jadi, semaksimal saja belajar onlinenya. Jika memang anak susah mengerti, butuh pendekatan yang lain dari orang tua.

Memang sih teorinya gampang. Mudah. Namun, orang tua tidak boleh merasa lemah. Mereka harus tetap waras dan berakal sehat. Corona ini virus yang menyerang paru-paru sebagai target utama, tetapi janganlah kesehatan jiwa ikut terganggu gara-gara corona. Oke?

Baca Juga: 10 Perkataan yang Merusak dan Meruntuhkan Dunia Anak

Sumber: Kompas 

Share This:

Silakan tinggalkan komentar ya!

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Ini mesti diisi ya!

eight + seven =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!