Belajar Bersama Bintang Rabu 6 Oktober: Benny Arnas

Belajar Bersama Bintang Rabu 6 Oktober: Benny Arnas

Share This:

Ini baru pertama kalinya, saya menulis ulasan tentang Belajar Bersama Bintang yang disponsori oleh KBM. KBM di situ artinya Komunitas Bisa Menulis. Komunitas ini sangat mengangkat nama Asma Nadia dan Isa Alamsyah.

Acaranya lewat Zoom, dimulai pada jam 19.30 WITA. Berarti kalau di WIB adalah 18.30, sedangkan di WIT itu 20.30. Hem, jadi cukup malam ya? Ya, iyalah, namanya juga di kawasan timur Indonesia.

belajar-bersama-bintang-2

Mulai dari Isa Alamsyah

Sebenarnya terlihat menyenangkan juga ya, antara suami dan istri punya minat yang sama dengan dunia tulis-menulis. Isa Alamsyah adalah seorang penulis, sedangkan istrinya, Asma Nadia, juga penulis.

Saya dulu juga pernah memimpikan hal itu. Waktu itu, saya berteman dengan seorang akhwat yang cinta dengan buku. Dia juga hadir di cukup banyak acara bedah buku.

Sayangnya, waktu saya mengutarakan niat untuk melamar, eh, dia sudah menolak duluan. Hanya lewat tersirat sih, dengan SMS. Bapak saya yang mendorong saya untuk begitu. Tanyakan dulu, mau apa tidak? Nyatanya tidak. Ya, sudah, lah. Namanya juga belum jodoh. Ada saja keadaan agar tidak bisa bersatu, ya ‘kan?

Pada sesi Belajar Bersama Bintang oleh KBM, Isa Alamsyah memulai pemaparannya. Katanya, membaca buku waktu SD memang berbeda dengan sekarang. Dulu, baca ya baca saja, selesai ya sudah. Namun, sekarang, membaca untuk belajar menulis jelas berbeda.

Menurut Isa, dalam setiap karyanya, seorang penulis tidak bisa menyembunyikan ilmu kepenulisannya. Ini tambahan dari saya, ada penulis yang suka dengan kalimat-kalimat pendek. Di situlah ciri khasnya. Makanya, ketika membuat cerita, bisa jadi menarik karena pemakaian kalimat-kalimat pendek. Seperti cerpen yang pernah saya baca karangan Joni Ariadinata.

Dalam menulis, itu mirip dokter mendiagnosis pasien. Analoginya begini, kita datang sebagai pasien ke seorang dokter. Kita mengatakan segala keluhan kita, termasuk mungkin keluhan tidak punya uang dan tidak punya pasangan begitu ya? Halah, itu mah bukan ke dokter umum. Mestinya ke dokter hewan, hehe..

Mendengar keluhan penyakit yang kita derita, hanya dalam lima menit, dokter sudah memberikan jawabannya, oh, kamu ini sakit ini dan itu. Corat-coret deh di kertas resep. Jadilah resep yang bisa ditukarkan obat di apotek.

Mungkin kita jadi bertanya-tanya, “Lho, cuma lima menit, kok sudah selesai? Pakai bayar mahal lagi!”

Ada yang begitu? Kalau sampai begitu, berarti tidak pakai BPJS ya? Hehe…

Pada dasarnya begini, meskipun hanya lima menit, tetapi itu adalah buah dari perjuangan dokter tersebut dalam menimba ilmu. Dia sudah membaca banyak sekali buku. Sudah praktikum beratus-ratus jam. Pernah gagal juga dalam mengobati pasien, wah, kalau yang ini tidak usah diceritakan! Intinya, ilmu kedokteran itu memang mahal, tahu sendiri ‘kan berapa total biaya kuliahnya?

Analogi yang berbeda seperti ini. Ketika kita sakit, coba minta petunjuk saja sama teman kita. Memang gratis sih. Namun, kita masih akan menunggu teman kita itu mencari jawabannya. Bisa jadi, dia akan cari dulu di Google. Baca artikel ini dan itu. Nonton video tutorial. Ujung-ujungnya, jawaban yang keluar kok terdengar tidak terlalu meyakinkan ya? Apakah kita percaya dengan yang bukan dokter?

Jadi, menurut Isa, penulis itu sudah membaca banyak judul, sudah menulis ribuan atau jutaan kata. Pengalamannya sudah banyak. Makanya, ketika memulai tulisan, walaupun hanya beberapa kalimat, tetapi sudah dibaca dengan menarik. Kita jadi betah membaca mulai dari halaman satu, kedua, ketiga, dan seterusnya, sampai tanpa sengaja membaca sambil berjalan hingga ke halaman rumah!

Oleh karena itu, berbahagialah para penulis yang sudah makan banyak proses hingga sukses jadi penulis. Karya-karyanya bisa jadi sangat bermanfaat untuk orang Indonesia ini, bahkan untuk orang luar negeri.

Ciri Judul Sukses di KBM App

Isa Alamsyah sebagai bos dari KBM App memberikan tips dan triknya dalam membuat judul yang sukses. Ada empat hal, yaitu:

  1. Membuat penasaran, contohnya: Hormon Kesetiaan.
  2. Mengandung konflik atau masalah atau juga keluhan, contohnya: Repotnya Punya Istri Pintar, Ta’aruf Gone Mad.
  3. Mengandung kontroversi, contohnya: Indahnya Kebohongan, Calon Suami untuk Istrinya.
  4. Mengandung kontradiksi, contohnya: Wanita yang Melamar Suamiku.

Selanjutnya, kita simak ringkasan dari penulis yang telah hadir di acara tersebut.

Benny Arnas

Penulis yang satu ini sudah menghasilkan 27 karya. Uniknya, tidak hanya satu genre, tetapi berbagai macam genre. Seperti novel, cerpen, puisi, esai, catatan perjalanan, naskah lakon.

Bahkan, karya-karyanya tidak hanya dalam Bahasa Indonesia, tetapi sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing. Untuk profil lengkapnya, silakan dilihat di banner berikut ya:

belajar-bersama-bintang-1

Oke, terus apa saja yang dikatakannya?

Baiklah, ini dia:

Awalnya, Benny bukanlah seorang penulis, melainkan seorang pembaca buku biasa. Namun, bacaannya sangat banyak dan beragam. Alhasil, menurut saran dari teman-temannya, dia pun menjadi penulis. Gemparnya, cerpen pertama yang ditulis langsung tembus Kompas! Ini sih sangat luar biasa!

Baginya atau menurutnya, pekerjaan menulis itu memang seorang diri. Akan tetapi, untuk bisa menjadi seorang penulis kreatif, perlu berinteraksi dengan orang lain. Dari situ, akan banyak bahan yang membantu kita untuk menulis.

Benny menghasilkan karya tidak jauh-jauh kok, cukup dari kampung tempat tinggalnya, yaitu: di Lubuklinggau, Sumatera Selatan. Ternyata, dari situ justru ada keunikan, karena kampungnya tidak ada yang menulis selainnya.

Jika menulis dari yang paling dekat dengan diri kita dan kita sendiri yang paling tahu, maka janganlah silau dengan karya orang lain. Orang lain boleh menulis tentang universalitas, tetapi kita tetap setia dengan lokalitas. Tidak apa-apa, tetap karya kita juga termasuk unik.

Modal seorang penulis, menurut Benny, memang dari membaca buku. Semakin sering membaca, kemampuan menulis itu tidak perlu dicreate kok. Sebab nantinya akan meledak sendiri. Yang penting tetap membaca banyak buku.

Terakhir dalam catatan saya, sebelum kita menulis, gembirakanlah diri kita terlebih dahulu. Alangkah capeknya kita ketika menulis berada dalam tekanan orang lain dan kita sendiri tidak gembira dalam mengolahnya. Jangan mau menjadi budak pembaca!

Wah, boleh juga ini saran dari Benny Arnas! Menulis dikejar deadline memang ada saatnya kita alami. Akan tetapi, tetaplah kita harus gembira. Dengan demikian, kita akan enjoy saja dalam menulis sampai selesai nanti. Bagaimana? Setuju bukan?

Share This:

Silakan tinggalkan komentar

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi dengan benar.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.