Bahaya Sifat Tergesa-gesa dan Perbandingan yang Pas

Bahaya Sifat Tergesa-gesa dan Perbandingan yang Pas

Share This:

Apa sih bedanya sifat tergesa-gesa sama terburu-buru? Kamu tahu jawabannya? Jelas lebih tepatnya adalah tulisannya berbeda. Tapi, kalau bahaya sifat tergesa-gesa? Apakah tahu?

Sebelum membahas lebih jauh tentang bahaya sifat tergesa-gesa, maka mesti terlebih dahulu diungkapkan tentang pengertian dari tergesa-gesa itu sendiri. Saya ambil dari perkataan seorang ulama terkenal.

Kata Ibnul Qayyim rahimahullah, di dalam kitab Ar-Ruh, tergesa-gesa itu adalah keinginan untuk mendapatkan sesuatu sebelum tiba waktunya yang disebabkan oleh keinginan yang besar kepada sesuatu itu laksana orang yang panen buah sebelum waktunya.

Jika dalam bahasa Arab, tergesa-gesa disebut dengan isti’jal, ‘ajalah, dan tasarru’. Maknanya sama semua. Sementara lawan dari isti’jal tersebut adalah anaah dan tatsabbut. Ini artinya adalah pelan-pelan.

Mungkin kita tahu bahwa Islam mencela sifat ini. Padahal mungkin juga, sifat ini menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Contohnya saja: mandi terlambat, scroll-scroll dulu lihat medsos, akhirnya jadi mandi jam 8 pagi. Padahal waktu masuk kantor jam 8 juga. Apakah solusinya datang dulu di kantor, terus mandi di sana?

Baca Juga: 7 Manfaat Apel Pagi

Bahaya sifat tergesa-gesa ini juga bisa mencelakakan. Salah satunya membuat kita jadi ngebut di jalan. Mungkin maunya seperti The Doctor yang bisa melaju sampai 200 kilometer perjam lebih. Tapi ‘kan di kondisi sirkuit itu, cuma ada pembalap di sana. Tidak ada penyeberang jalan, mobil angkot, truk, apalagi pengendara sepeda yang di tengah jalan itu. Jadi, lebih aman, apalagi pakaian pembalap juga didesain untuk aman. Anti terbakar juga katanya ya?

Betapa banyak orang yang terburu-buru, akhirnya jadi ngebut di jalan. Seperti para pegawai misalnya yang mengejar waktu apel pagi. Ini sudah banyak saya amati di daerah saya. Bagaimana dengan di tempat kamu sendiri? Eh, kamu masih sendiri atau belum sih? Hehe…

Dalil yang Mencela Sifat Tergesa-gesa

Islam memang tidak menganjurkan kita untuk punya sifat tergesa-gesa, meskipun memang ada sifat tergesa-gesa yang baik. Secara umum, sifat tergesa-gesa itu sebisa mungkin jangan dilakukan, walaupun ini memang sulit, apalagi jika kita sudah terbiasa melakukannya.

Untuk lebih jelasnya, silakan kamu berkunjung ke link berikut ini.  Sementara sebabnya biasa ada dua, yaitu: motivasi yang sangat kuat untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan dan tidak ada pemikiran yang universal terhadap sesuatu.

Penyebab yang ketiga, datang dari syetan. Dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Ketenangan itu datangnya dari Allah, sedangkan ketergesa-gesaan itu datangnya dari setan.” (Syekh Al-Albani dalam kitabnya Shahihul Jaami’ menilai hadits ini hasan).

Akibat Punya Sifat Tergesa-gesa

Sifat tergesa-gesa dalam bahasa gaul Makassar adalah kajili-jili. Lalu, apa saja yang akan terjadi jika ada orang dengan sifat tergesa-gesa?

Pekerja Kantoran

Contoh pegawai atau pekerja kantoran di sini bisa PNS maupun DGN, lho, PNS sama DGN? Kalau itu artinya panas dan dingin. Beda memang!

PNS berarti Pegawai Negeri Sipil, sedangkan yang bukan PNS ada beberapa macamnya. Bisa PHTT atau Pegawai Harian Tidak Tetap. Asal jangan seperti yang dibilang teman saya, Pegawai Harian Terus-terusan. Wah, kapan terangkatnya kalau begitu?

Ada pula pegawai kontrak, outsourching, atau PPPK alias Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja. Dari segi penghasilan memang berbeda. Tentu lebih besar PNS dan terlihat lebih sejahtera. Padahal bisa jadi yang bukan PNS lebih sejahtera untuk tiap bulannya karena tidak terpotong kredit. Sementara PNS, hem, silakan cek sendiri. Sepertinya bukan disebut PNS, kalau tidak ada kreditnya. Haha…

Baca Juga: 12 Langkah Menjadi Pegawai Teladan di Tempat Kerja

Jika pegawai atau pekerja punya sifat tergesa-gesa, maka jelas hasil pekerjaan tidak akan maksimal, bahkan asal jadi. Asal bos senang alias ABS. Dan, ini sudah banyak terjadi. Yang penting dari kantor itu ada laporannya, maka dianggap sudah beres. Memang salah juga di kantor pusat sih, karena tidak memeriksa secara detail pekerjaan dari instansi di bawahnya.

Deterjen, Eh, Netizen

Bahaya sifat tergesa-gesa selanjutnya adalah bisa dialami oleh netizen. Itu bukan istilah Bahasa Indonesianya. Lalu, apa bahasa Indonesianya dong? Bahasa Indonesia untuk deterjen adalah sabun cuci. Walah, apa hubungannya dengan netizen? Apakah untuk main internet, harus nyuci dulu?

Warganet. Itu istilah bahasa kita untuk pengguna internet. Dulu sebelum ada medsos, saya juga pernah menjadi warganet, aliasnya warga warung internet. Lebih khusus lagi warga warnet. Datang ke warnet di pagi hari, sebelum jam 8, agar mendapatkan diskon 50 %. Sekarang, gampang akses internet langsung dari HP saja. Tidak perlu orang main HP Android di warnet ‘kan?

Kalau bagi warganet, bahaya sifat tergesa-gesa yang melekat padanya adalah terlalu gampang percaya dengan hoax. Yang penting kelihatan bombastis begitu, langsung saja dishare tanpa butuh pikir panjang. Apalagi jika si penyebar hoax itu cuma mengandalkan WiFi gratisan dari temannya. Walah, sebar hoax kok nggak modal banget sih?! Malu banget gitu.

Pemimpin

Seorang pemimpin bisa terkena bahaya sifat tergesa-gesa juga. Misalnya, makannya terburu-buru karena harus menghadiri rapat. Akhirnya, mulutnya belum bisa rapat ketika rapat sudah berlangsung karena masih mengunyah. Wah, terlalunya kalau begitu!

Jika pemimpin terburu-buru, maka bisa mengakibatkan kesalahan dalam mengambil kebijakan dan strategi. Yang seharusnya kebijakan, malah justru jadi ketidakbijakan. Yang tadinya harus bijak, sekarang harus bajak. Maksudnya membajak hak orang, yang pada akhirnya malah mendzolimi orang. Ya ‘kan?

Makanya itu, seorang pemimpin harus tenang. Berpikir 1.000 kali. Tapi, tidak perlu juga dihitung, tadi sudah berpikir berapa kali ya? Hal yang jelas bagi seorang pemimpin adalah menghindari sebisa mungkin sifat terburu-buru. Tapi, kalau si pemimpin itu dipilih sebelumnya dengan tergesa-gesa juga bagaimana?

Hakim

Katanya, hakim itu kepanjangan dari hubungi aku kalau ingin menang. Bila dipikir-pikir, benar juga ya? Kecuali memang hakim garis. Meskipun namanya begitu, dia bertugas tidak bawa penggaris lho! Mungkin pula garis tangannya menandakan bahwa dia adalah seorang hakim garis.

Hakim yang terburu-buru dalam memutuskan sebuah perkara, maka bisa salah menjatuhkan vonis kepada terdakwa. Apalagi jika dia merasa di bawah tekanan. Terlebih jika HP-nya ditekan-tekan tidak bisa, berarti itu berada dalam kondisi di bawah tekanan. Benar nggak sih? HP jadul mah dipakai.

Baca Juga: 6 Sifat yang Perlu Anda Perbaiki Saat Jadi Pegawai Baru

Ilmu maupun pengalaman sidang dari seorang hakim semestinya menjadi dasar yang kuat dalam mengambil keputusan. Apa gunanya dia sekolah hukum kalau memutuskan perkara dengan terburu-buru?

Tentunya, setiap keputusan yang dihasilkannya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ngeri memang kalau menjadi hakim. Ada yang mengatakan sebelah kaki di surga, sebelahnya lagi di neraka.

Da’i

Profesi da’i atau ustadz atau ustadzah adalah profesi yang keren dan mentereng di antara penduduk. Namun, bukan penduduk bumi, melainkan penduduk langit. Mungkin kalau di bumi, profesi ini dianggap sebelah mata dan sebelah telinga. Makanya, masih banyak orang tidak mau melihat nasihat da’i, begitu pula mendengarnya.

Bahaya sifat tergesa-gesa pada seorang da’i adalah dia ingin melihat binaan atau mad’unya berubah seketika. Langsung jadi sholeh begitu. Langsung jadi sholihah begitu. Tiba-tiba CLING langsung berubah jadi ahli surga yang masih hidup di permukaan bumi. Atau dijamin masuk surga. Okelah, dijamin masuk surga, tetapi surga yang mana dulu nih?

Bisa jadi, ada orang yang begitu, tetapi lebih banyak yang tidak. Sebab, hati memang kecenderungannya ke arah hawa nafsu. Tampaknya memang hawa nafsu itu sangat menyenangkan. Bentuk dari hawa nafsu itu adalah nafsu kepada kaum hawa. Tinggal dibolak-balik saja.

Baca Juga: Apakah Hidup Anda Seperti Kecoa Terbalik?

Betapa banyak sarana dan prasarana yang mendukung pemuasan hawa nafsu tersebut. Paling banyak ditemukan lewat internet. Misalnya, jasa melihat aurat orang lain. Si perempuan memperlihatkan auratnya, tetapi si penontonnya harus bayar. Yang tidak disadari bahwa penonton tersebut merekam layar HPnya, akhirnya tersebar deh aibnya. Naudzubillah min dzalik.

Orang yang kecanduan pornografi seperti itu memang tidak mudah untuk berubah jadi baik. Semua butuh proses. Makanya seorang da’i jangan protes kalau seandainya masih berlangsung proses. Yes! Antara protes dan proses, cuma bisa dibilang permainan kata saja. Ah, dunia ini memang cuma permainan. Dan, permainan yang menyenangkan adalah permainan antara suami dan istri. Ups, maaf yang masih jomblo.

Bandingkan dengan Ini!

Untuk mencermati bahaya sifat tergesa-gesa di atas, maka perbandingannya cukup mudah kok. Bahkan, perbandingan ini ada dalam kehidupan kita sehari-hari. Contoh nyatanya adalah perubahan siang dan malam. Ada yang pernah mengalaminya? Wah, apa ada yang belum pernah? Belum lahir itu berarti.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak langsung menjadikan malam jadi siang, atau siang jadi malam dengan tergesa-gesa. Namun, dengan proses sedikit demi sedikit. Malam ke siang, melewati subuh dulu. Mulai terbit fajar, mulai naik matahari, makin lama, makin panas. Akhirnya, benar-benar jadi siang yang terik, deh!

Begitu pula, dari siang ke malam. Melewati sore dulu, mulai terbenam matahari. masuk waktu maghrib, cahaya matahari mulai hilang dan berganti malam yang pekat. Sampai dengan larut malam, waktu sekarang saat saya menulis ini, dan berlanjut keesokan harinya di waktu pagi.

Kesimpulan

Mungkin, entah saya atau kamu, tetap akan ada masa untuk terburu-buru. Sebab, kita sudah merencanakan, tetapi ada saja faktor-faktor penghalang di luar kekuasaan kita. Waktu yang longgar akhirnya jadi sempit. Nah, daripada rugi atau ketinggalan, lebih baik kita bergerak cepat dan akhirnya tergesa-gesa deh.

Sekali dua kali jelas tidak masalah. Atau semoga tidak ada masalah. Namun, jika sering bagaimana? Bagaimana jika sering? Kalimat sebelumnya ini untuk menambah isi paragraf saja.

Jika selalu punya sifat terburu-buru, maka itulah yang perlu diperbaiki. Sebab, tergesa-gesa itu memang tidak enak. Dalam kondisi apapun. Tergesa saja tidak enak, apalagi tergesa-gesa. Ya ‘kan? Dobel tergesanya. Hehe…

Terakhir, sebelum ditutup tanpa acara penutupan, kok saya pilih gambar sate tumpah. Ah, itu juga makna dari sifat tergesa-gesa. Bisa jadi orang yang bawa terburu-buru membawa baki berisi sate. Atau tergesa-gesa menaruhnya di baki. Atau ada alasan yang lainnya. Yang jelas, sate yang enak di sini, letaknya di dekat masjid raya. Kamu sudah pernah pergi ke sana?

Baca Juga: Bagaikan Naik Pesawat Sampai Ke Akhirat

NB: Bahan tulisan diolah dari status teman saya di Facebook, dia cantumkan juga nama Ustadz Hasmar Hasan hafidzahullah.

Sumber Tambahan: Artikel Muslim

Share This:

Silakan tinggalkan komentar ya!

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi ya!

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!