Bagian dari Pendidikan: Menghadapi Anak-anak Peminta Uang Lebaran dari Rumah ke Rumah

Bagian dari Pendidikan: Menghadapi Anak-anak Peminta Uang Lebaran dari Rumah ke Rumah

Share This:

Hari ini, adalah puasa ke-25. Sebentar lagi, kira-kira empat atau lima hari lagi adalah momen Idul Fitri. Selalu ada fenomena anak-anak peminta uang lebaran. Datangnya dari rumah ke rumah.

Kira-kira dua atau tiga tahun yang lalu, saya merayakan Idul Fitri di rumah mertua. Tidak terlalu jauh kok dari rumah. Tidak sampai di luar kota, provinsi, apalagi luar negeri.

Waktu itu, ada juga ipar-ipar saya datang. Ada yang kenal ipar saya? Pokoknya, suasana rumah jadi ramai dan tidak sepi. Ya, iyalah.

Momen lebaran adalah momen kumpul-kumpul, momen makan-makan. Eits, makan-makan tanpa minum-minum pastilah seret. Jadi, kalau banyak makan, jangan lupa minum ya!

Biasanya, yang sering ada adalah kue-kue lebaran. Kue yang terbuat dari tepung, pakai mentega, hasil jadinya pun cantik, warna-warni. Dimasukkan ke dalam toples plastik atau kaca, membuat makin menggiurkan. Tentunya menggiurkan mau makan kuenya, bukan mau makan toplesnya. Memangnya debus?

Berada di rumah mertua memang menyenangkan, dan momen itu belumlah muncul lagi. Mertua perempuan saya rencana berlebaran di Gorontalo, tempat ipar, adik laki-laki istri saya. Sedangkan ipar-ipar yang lain, sebagian di Kendari, ada juga di Jakarta. Semuanya masih di Indonesia kok.

Selalu Ada

Dalam momen lebaran, seperti yang saya tulis di atas, sering muncul anak-anak peminta uang lebaran. Namanya anak-anak, mereka berombongan, pakai baju dan celana yang masih kecil, sering ketawa, dan belum pada menikah.

Biasanya, mereka keliling dari rumah ke rumah. Memasuki rumah-rumah tetangga, maupun yang bukan tetangga. Kadang ada juga yang pakai sepeda motor. Berboncengan tiga. Nah, kalau berboncengan tiga, nanti ketemu polisi akan ditanya, “Kenapa ini kok boncengan tiga?”

Jawab saja, “Ya, karena berboncengan tujuh orang nggak cukup, Pak. Makanya tiga saja!”

Baca Juga: Oleh-oleh dari Ceramah Tarawih: Tips dari Orang Tua dengan Anak-anak Penghafal Al-Quran

Nah, jika memasuki rumah ke rumah, satu rumah memberikan lima ribu atau sepuluh ribu, wah, lumayan juga tuh! Apa mungkin jumlahnya melebihi THR PNS tahun ini ya? Hem, apakah THR-nya yang kekecilan atau hasil anak-anak itu yang kebesaran? Entahlah.

Teman-teman saya di kantor juga menyiapkan uang-uang kecil. Rata-rata sih lima ribu. Lebih bagus lagi jika uangnya masih baru, masih gres, belum kusut, robek, apalagi terbakar. Anak-anak peminta uang lebaran pasti akan lebih senang mendapatkan uang yang masih mulus begitu. Jangankan anak-anak, kita yang dewasa saja juga senang kok!

Prosedurnya

Anak-anak peminta uang lebaran itu sebelum masuk, mengucapkan salam. “Assalamu’alaikum, mau masiara.”

Masiara adalah istilah di sini untuk anak-anak yang berkunjung itu. Perubahan katanya bisa menjadi ziarah juga. Tidak hanya ziarah kubur, tetapi ziarah juga dari rumah ke rumah.

Sang pemilik rumah, mempersilakan mereka masuk. Begitu mereka masuk dan duduk, pasti anak-anak akan kebingungan mau ngomong apa. Masa mau langsung bicara tentang ekonomi bangsa atau kondisi politik terkini, pastilah mereka akan pusing.

Atau tentang kenaikan harga saham, saham mana yang prospektif sekarang, analisis fiskal, pasti akan membuat mereka semakin pusing, dan pesing juga. Eh, itu kalau pipis tidak disiram.

Agar suasana makin hangat, pemilik rumah akan bertanya, “Ini namanya siapa? Dari mana? Sekolah di mana? Kelas berapa?”

Pertanyaan-pertanyaan standar, lah, khas basa-basi. Tahu artinya basa-basi nggak? Ternyata, artinya basa-basi itu bahas sana, bahas sini. Begitulah kira-kira. Kira-kira begitulah. Begitulah-begitulah kira.

Beberapa detik atau menit kemudian, si pemilik rumah memberikan uang kecil kepada mereka. Betapa senangnya hati mereka. Pemilik rumah pun senang.

Sudah mendapatkan hasil buruannya, anak-anak pamit pulang. Mungkin dengan cium tangan, tanpa cium kaki. Bilang salam lagi, lalu melesat ke rumah berikutnya. Dan, prosedurnya pun berulang-ulang. SOP-nya memang begitu.

Bagaimana dengan Saya Sendiri?

Ketika saya di rumah mertua, ada beberapa anak yang datang. Wah, pas itu, saya tidak siapkan uang kecil! Uang yang ada rata-rata sepuluh, dua puluh, hingga lima puluh ribu. Kalau dikasih ke mereka begitu saja, kok enak banget? Harus ada perjuangannya. Harus ada usahanya.

Saat mereka masuk, duduk di kursi ruang tamu, saya tanya basa-basi juga. Lalu, saya bilang begini, “Ini saya mau kasih uang, tapi ada syaratnya.”

Mereka melongo. Hah, ada syaratnya? Apakah syaratnya harus lulusan S1 dengan IPK minimal 3? Waduh, ini mah syarat nyari kerja.

“Syaratnya, coba sebutkan surat Al-Fatihah. Siapa yang bisa, nanti dapat uangnya!”

Subhanallah, surah Al-Fatihah saja mereka malu-malu. Tidak bisa menyebutkan dengan jelas dan benar. Mesam-mesem, senyam-senyum saja.

“Wah, gimana ini? Masa Al-Fatihah saja tidak bisa?”

Ternyata, ada satu yang mencoba uji nyali. Menyebutkan Al-Fatihah. Benar juga. Oke, saya kasih uang. Saya lupa berapa waktu itu, tetapi tidak sampai satu milyar kok.

Tantangan berikutnya, saya tunjuk salah satu anak, menyebutkan surah An-Naas. Eh, dia juga belepotan! Tidak bisa. Aduh, ini anak-anak bagaimana sih? Apa tidak diajari sama orang tuanya? Atau tidak pernah dibawa ke masjid? Atau di masjid hanya main-main?

Ada satu anak yang bisa. Ya, anak yang tadi lagi. Dia bisa menyebutkan. Beberapa surah berikutnya, dia embat juga. Saya kagum, lalu saya kasih lima puluh ribu rupiah. Luar biasa memang ilmunya atau usahanya untuk mendapatkan ilmu. Pantaslah dapat imbalan yang mungkin setimpal.

Hal yang mengherankan di situ, ada yang kelas 1 MTs, tetapi surah-surah tidak hafal. Padahal sekolah Islam lho! Tapi, sangat kesulitan dalam melafalkan ayat-ayat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ini menjadi problem pendidikan lho. Sekali lagi, apakah orang tuanya kurang berperan? Guru di sekolahnya? Atau justru anak-anak lebih dididik dengan HP saja?

Getok Tular

Ada anak yang sama sekali tidak mendapatkan uang, karena memang tidak bisa apa-apa. Begitu mereka ke luar, mungkin saja mereka akan cerita satu sama lain, bahwa ada satu rumah “angker”. Rumah yang untuk mendapatkan uang lebaran, mesti dengan perjuangan dan kesabaran. Tidak langsung gratis begitu.

Sebenarnya, tidak cuma begitu sih. Bagi yang rumahnya sering didatangi anak-anak peminta uang lebaran, bisa menerapkan seperti kuis. Misalnya, pilih yang di kantong celana kanan atau kiri? Kalau dia pilih kanan, mungkin akan mendapatkan seribu rupiah saja. Sementara yang kiri, seratus ribu misalnya.

Atau pilih yang di gorden jendela kiri atau kanan? Yang kiri itu zonk, yang kanan tidak ada uangnya. Pilih mana?

Jika kita langsung memberikan uang ke mereka, hanya dengan melihat tampang mereka yang polos, atau dipolos-poloskan, maka sejatinya kita ikut menyuburkan budaya mengemis.

Bukankah anak-anak peminta uang lebaran itu sedang melaksanakan praktik mengemis? Seharusnya, orang tuanya yang bijak, tidak membiarkan anak-anak melakukan hal itu. Kalau mau datang berkunjung ke rumah tetangga, dengan orang tuanya saja. Jadi, lebih mengakrabkan satu keluarga.

Anak-anak peminta uang lebaran juga tidak tahu, bagaimana kondisi rumah yang mereka datangi? Jangan-jangan si pemilik rumah habis terkena PHK akibat pandemi? Jangan-jangan, dia baru saja ditolak lamaran kerjanya, sedangkan uang tabungannya makin menipis? Bisa saja ‘kan? Apalagi di tengah pandemi begini, uang termasuk hal yang sangat sensitif.

 

Namun, ya, kembali ke masing-masing orang. Selama kita punya kemampuan lebih dan senang-senang saja memberi ke mereka, semoga itu jadi pahala sedekah.

Kesimpulan

Sebenarnya, momen silaturahim itu jauh lebih indah daripada sekadar mengumpulkan uang bagi anak-anak. Sungguh suatu kebiasaan yang kurang bagus juga, jika kebiasaan anak-anak peminta uang lebaran itu terus ada.

Makanya, saya tangkal dengan persyaratan itu tadi. Tidak sembarang memberikan uang. Paling tidak, mereka akan menyadari bahwa di dunia ini sebenarnya tidak ada yang gratis. Semuanya butuh perjuangan.

Dan, pendidikan yang terpenting juga kepada anak-anak peminta uang lebaran itu adalah tangan yang di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Tapi, ini jangan dipahami, pas menerima uang, langsung dijatuhkan ke lantai. Lalu, mengambil lagi uang itu. Pas ditanya, “Kenapa begitu?”

“Ini maksud dari tangan di atas daripada tangan di bawah. Kalau tanganku di bawah uang terjatuh ini, tidak akan bisa ngambil duit. Makanya, tanganku harus di atas duit ini.”

Temannya langsung tepuk jidat. Semoga hanya jidatnya sendiri yang ditepuk.

kamis-menulis

Baca Juga: Zuhur Antara yang Panas dan yang Lebih Panas

Share This:

26 Comments

  1. Wah kudu siapkan beberapa pertanyaan untuk anak-anak yang akan datang nih. Pertanyaan basa-basi bisa pembawa rezeki. Hehe

  2. Setuju bahwa untuk memperoleh apapun agar dihargai harus ada perjuangan, kalau mendapatkannya mudah cendrung tidak dihargai, yg menjadi maaalah sekarang gimana repotnya tuan rumah yg sejak jelang lebaran sdh sibuk, ditambah lagi sibuk memikirkan kuis buat anak anak yang berziarah tambah lagi pasti akan antri dan terjadi penumpukan di satu titik, prokes dilanggar dan seterusnya he he…keren pak Rizky

    1. Nah, ini juga Bu, prokes kesehatan. Anak-anak mesti juga dipahamkan. Soalnya kalau mereka masuk ke rumah sembarangan, bisa rawan juga tuh.

  3. Waaw mantab trik nya pak.. Sayang di tempatku mereka ga meminta tapi justru kami jk berkunjung Ke tempat saudara atau tetangga ada anak kecil kami sudah siapkan amplop kecil yang isinya lmbaran uang yang baru. Waah bahagia melihat senyum mereka krn menerima uang itu. Hal itu juga Saya alami sewaktu saya masih kecil dulu. Setekah uang bnyak terkumpul mrk jg iseng2 pingin traktir kaka nya yg jumlh uangnya lbh sedikit dari punya adek. Hehe.. Lucu jk mngenang masa itu.

    1. Masya Allah, nah, ini yang lebih positif dan bagus sekali, Bu. Kita yang mendatangi anak-anak yang lebih membutuhkan uang tersebut. Berbagi kebahagiaan dengan mereka. Mantap sekali Bu!

  4. Ide bagus Bapak. Berusaha dulu untuk jawab pertanyaan, baru mendapatkan uang. Akan saya coba nanti. Di tempat saya bukan hanya anak2, ibu2 juga ada yg berkeliling begitu. Sepertinya budaya malu semakin terkikis. Sudah mulai terpapar virus “cara mudah mendapat uang”.

    1. Waduh, ibu-ibunya juga! Ini yang parah. Mumpung kesempatan lebaran, hari raya, ingin dapat uang lebih. Hehe…

  5. Setuju sekali mas…ide kreatif untuk memberikan pendidikan dari lingkup yang paling kecil pun.

    1. Syukurlah di tempat saya tidak ada kegiatan seperti ini. Anak biasanya ikut orangtuanya silaturahmi dan tuan rumah yang memberikan dgn sukarela. Ada juga yang tidak diberi. Tidak ada aturan tertulis maupun TDK tertulis tentang pemberian ini.

      1. Intinya kalau tuan rumah sukarela tidak masalah, yang mungkin jadi masalah, kalau si pemilik rumah sedang ada masalah.

  6. Baru tahu ada tradisi begitu, Mas Rizky. Sudah turun-temurun kali yah? Walaupun hanya pas Lebaran adanya, tapi kurang mendidik ya.. Betul, sama dg ngemis begitu mah😄

  7. Betul sekali… Master Rizki, Moment lebaran suka ada yg memanfaatkan. Tapi terbalik anak emak dikasih uang sama bibi +pamannya malahan ditolak. Krn emak anak yg paling suling. Punya adik laki-laki 1 orang dan 4 adik perempuan. Trimks sdh share pengalaman. Tulisannya keren…

  8. wah budaya yang unik juga saat lebaran ya, namun sayang ya kalau dijadikan ajang seperti “meminta minta”, sehingga salut denga uji nyali Pak Rizky, memberikan tantangan, semoga keluarga yang lain juga bisa seperti itu sehingga sekaligus bisa mendidik

  9. Saya baca sampai habis kok tidak ada narasi mereka meminta uang, Pak? Pasti saya nya yang kurang teliti. kalua datang saja, ya biarkan saja disilakan makan kue saja.
    Cerita yang menarik.

    1. Memang mereka nggak bilang langsung, Pak. Tapi, dari salam dan datangnya mereka, sudah jadi kebiasaan para pemilik rumah untuk memberi uang. Si pemilik rumah sudah tahu, mereka mau apa.

  10. untuk mendapatkan sesuatu memang harus perjuangan apa lagi bagi anak-anak sekarang yang tantangannya sangat keras harus diajarkan dari sekarang
    Pak Rizky selalu jos isinya

Silakan tinggalkan komentar

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi dengan benar.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.