#AprilChallengeLagerunal-Huruf G: Gigi Juga Perlu Diperhatikan, Jangan Dilupakan!

#AprilChallengeLagerunal-Huruf G: Gigi Juga Perlu Diperhatikan, Jangan Dilupakan!

Share This:

Teman saya satu kampung dulu di Jogja pernah periksa ke dokter gigi. Katanya sih giginya sedang sakit. Ya, jelaslah, masa sakit gigi periksa ke dokter mata?

Saat berada di dokter gigi tersebut, dia ditanya, “Sudah berapa kali rutin periksa gigi?”

Teman saya itu berpikir sejenak, lalu menjawab, “Lha, ini, baru pertama ini ke dokter gigi.”

Mendengar cerita itu, saya ikut tertawa. Kok ketawa? Soalnya teman saya yang cerita juga sambil tertawa. Sebagai bentuk kesetiakawanan, kalau perlu ditambah menjadi kesetiakawanan nasional, saya ikut tertawa.

Yang aneh justru ketika teman ketawa, saya malah menangis. Eh, menangis bisa juga ya? Apalagi kalau ada cerita teman yang maksudnya untuk melucu, tetapi tidak lucu sama sekali. Tragis.

Tapi, cerita teman saya itu bagi saya cukup lucu kok. Dan, hal itu menginspirasi saya sampai sekarang untuk tidak melupakan perawatan gigi. Bukan gigi motor lho, melainkan gigi saya sendiri. Iya, yang di dalam mulut itu. Hehe…

Awalnya Karena Pecah

Tahun 2019, kalau tidak salah, tiba-tiba merasa gigi saya pecah. Hal itu saya sadari saat meraba-raba, kok terasa aneh? Bentuknya pun jadi tajam. Menusuk ke lidah saat disentuh dan tidak nyaman sama sekali. Waduh, jelas sangat mengganggu ini!

Solusinya, saya harus ke dokter gigi. Tapi, menemukan dokter gigi di Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, ini saya pikir sulit. Ternyata, ada yang memang praktik khusus. Namanya dokter Rismanto. Beliau juga kepala RSUD Bombana.

Kalau ke dokter gigi, biasanya sih ada ketakutan-ketakutan khusus. Misalnya, disuntik, lah, dicabut, lah, apalah, yang menyeramkan-menyeramkan begitu, lah.

Baca Juga: Bahaya Sifat Tergesa-gesa dan Perbandingan yang Pas

Dokter memeriksa saya, lalu menyodorkan pilihan, “Gigi Bapak bisa dicabut. Tapi, kalau saran saya, tidak usah dicabut, perawatan gigi saja.”

“Ohh, gitu ya, Dok?” Dalam batin saya, jika dicabut, nantinya akan pakai gigi palsu. Tapi saya teringat, sejelek-jeleknya gigi asli masih lebih bagus daripada bagusnya gigi palsu. Gigi asli adalah anugerah dari Allah, sedangkan gigi palsu ‘kan buatan manusia. Masa lebih mendahulukan ciptaan manusia daripada ciptaan Allah? Ya ‘kan?

Akhirnya, saya mengambil pilihan perawatan gigi.

“Tentang biayanya, di sini satu juga tiga ratus,” kata dokter yang terlihat masih muda itu.

“Ohh, gitu ya, Dok?” Saya bertanya lagi, sambil mikir-mikir, uang segitu, banyak juga ya? Saya kembali berpikir, kehilangan uang segitu tidak apa-apa juga, lah, yang penting gigi saya bisa normal lagi.

Mulailah perawatan pertama. Saya duduk di kursi periksa. Empuk. Senter atau lampu empat bola di atas kepala saya. Lampu sorot itu bisa menyala sendiri cuma dengan refleks gerakan tangan. Cukup canggih.

Gigi saya yang pecah itu mau dimatikan sarafnya. Caranya, dengan ditusuk sampai menembus gusi. Alatnya mirip dengan mur baut, tetapi tajam dan lancip di ujungnya. Itu yang ditusuk-tusuk. Tidak sakit sih, tetapi lumayan, lah. Hem, lumayan apa nih?

Oh, ya, tadi sebelum mulai diperiksa, gigi saya dibersihkan dengan alat capit. Ditemukanlah sejumput kotoran putih, kayaknya sih bekas nasi yang menyelip di gigi pecah tersebut. Hii, pasti baunya amburadul tidak karuan.

Perawatan Kedua dan Ketiga

Masih dengan gigi yang sama. Pada akhir perawatan pertama, gigi saya ditambal. Lumayan enak, terasa tidak lagi menusuk. Untuk yang kedua, tambalan itu dibuka dan dibersihkan lagi. Dokter kembali bertanya, sakit apa tidak? Saya menjawab tidak, Alhamdulillah.

Alat-alat yang ada memang tidak saya tahu fungsinya. Pokoknya dipakai begitu saja. Dan, seharusnya begitu, mungkin tidak perlu kita tahu banyak, karena bikin pusing. Cukup saat ada masalah, tanyakan langsung ke ahlinya. Jangan mau diutak-atik sendiri. Seperti di film Mister Bean itu waktu dia ke dokter gigi. Dia semprot sisi-sisi giginya. Akhirnya, giginya jadi linu sendiri. Hehehe… Yah, namanya juga film komedi.

Sekrup tajam kembali dimasukkan. Waktu itu, agak terasa sakit, terasa menembus sekali ke dalam. Diputar-putar oleh dokter.

Mulut saya juga disuruh buka untuk jangka cukup lama. Ini yang lumayan berat karena ‘kan kita mesti menelan air ludah. Terkumpul cukup banyak air liur, tetapi tidak bisa ditelan, karena sedang disuruh buka. Saya juga khawatir menelan cairan yang disemprotkan berkali-kali ke gigi. Racun apa tidak itu jika tertelan ya?

Selesai tahap kecil, saya disuruh kumur. Kalau dirasa mulutnya risih karena basah, ada tisu di situ. Saya tidak tahu berapa menit untuk perawatan kedua ini? Yang jelas, sebelum pulang, gigi saya kembali ditambal. Nah, tambalan ini ada warnanya. Biru kalau tidak salah. Jadi, terlihat bila saya membuka mulut. Ah, peduli amat, yang penting hasil akhirnya nanti bagus.

Dari perawatan satu ke dua kalinya, kira-kira empat hari, lah. Untuk ketiga, prosedurnya hampir sama. Kali ini, dipasang tambalan yang permanen. Halus dan rata. Gigi saya sudah normal sekarang. Sehat kembali. Tidak tajam lagi.

Biaya sebesar 1,3 juta saya cicil. Perawatan pertama, saya bayar 300 dulu, berikutnya saya lupa, begitu pula berikutnya, saya lupa. Totalnya memang 1,3 juta. Tidak kurang dan tidak lebih. Dari yang awalnya saya kira mahal, hasilnya oke kok. Sampai sekarang tambalan itu masih menempel dengan kokoh.

Efek Pandemi

Pandemi corona yang muncul sejak akhir tahun 2019, efeknya sangat terasa di tahun 2020. Dokter gigi Rismanto menutup tempat praktiknya selama berbulan-bulan. Padahal saya ingin perawatan lagi. Tepatnya membersihkan karang gigi.

Eh, jangan salah lho! Karang gigi itu muncul bukan karena kita malas sikat gigi, melainkan memang akan muncul dengan sendirinya. Saya pernah dibersihkan karang gigi oleh seorang laki-laki yang bukan dokter, hanya mengaku sebagai tukang gigi. Dia anggota Jamaah Tabligh.

Dia datang ke rumah mertua – waktu itu saya memang masih tinggal di situ. Dia membersihkan karang gigi saya dengan alat-alat seperti dokter betulan. Saya tidak terlalu berpikir tentang kebersihan alatnya. Niatnya memang mau mencoba saja. Toh, waktu itu juga jauh sebelum adanya covid-19 kok.

Baca Juga: Mau Masuk Bulan Suci Ramadhan, Apa Harus Menikah Dulu?

Kata teman saya di Makassar, membersihkan karang gigi itu memang harus rutin. Itulah mungkin disarankan pergi ke dokter gigi minimal enam bulan sekali. Untuk mengecek kesehatan gigi kita sendiri, sekaligus kebersihannya.

Mulai Dibuka

Ketika lewat depan kliniknya, saya beberapa kali bertanya, “Sudah buka belum?”

Jawaban si petugas lebih sering, “Belum.”

Saya lupa pada bulan berapa itu, klinik mulai dibuka perlahan-lahan. Maksudnya, bukan dibuka pintunya pelan-pelan, melainkan jenis perawatannya. Yang dibuka pertama adalah perawatan behel gigi. Yah, bagi orang-orang yang giginya dikawat, mau ganti kawat gigi, bisa di situ. Untuk perawatan lain, belum bisa. Apalagi membersihkan karang gigi itu, hem, nanti dulu, lah yauw!

Bombana termasuk ke dalam zona hijau. Daerah ini bukanlah kota besar, bukan juga ibukota. Jadi, frekuensi orang datang dan pergi cukup kecil. Selain itu, dari persebaran covid-19 juga tidak terlalu mengerikan. Ada sih yang positif, tetapi berhasil diatasi dan ditangani oleh tim satgas. Dari hari ke hari, jumlah penderita terus menurun.

Pecah Lagi

Senin (05/04) atau beberapa hari yang lalu, gigi saya pecah lagi. Terasa tajam dan aneh lagi bentuknya. Saya raba-raba pakai tangan lagi. Saya curiga, ini gigi yang pernah perawatan dulu. Makanya, saya mesti ke dokter gigi Rismanto lagi.

Ketika diperiksa, dokter tersebut membantahnya. “Oh, ini bukan yang dulu, Pak. Ini gigi yang baru pecah.”

“Ohh, gitu ya, Dok?” Sepertinya kalau kamu baca, selalu tanggapan ini yang muncul setelah dokter bicara.

Ya, sudah, apa tindakan selanjutnya? Ternyata, cukup ditambal saja. Tidak perlu pakai perawatan khusus, apalagi sampai tiga kali seperti dulu.

Tapi, tunggu dulu! Saya tanyakan tentang gigi taring saya yang tergores ke dalam. Goresannya terjadi sejak lama. Saya khawatir akan makin masuk ke dalam dan membuat gigi taring tersebut lepas dari kandangnya. Wuih, kayak macan saja!

“Memang, Pak, gigi Bapak ini sudah masuk tergerus kira-kira 3-4 mili, lah. Kan gigi itu rata-rata hanya 5 mili ketebalannya. Kalau tidak dirawat, ya, nanti lama-lama akan lepas juga.”

Itulah yang saya khawatirkan. Gigi taring yang copot akan kelihatan sekali ompongnya. Okelah, saya ikuti anjuran dokter untuk perawatan gigi lagi. Dokter gigi Rismanto mengatakan bahwa sekarang perawatan giginya berharga 1,5 juta. Wuih, naik 200 ribu dibandingkan yang dulu!

Tidak apa-apa, lah. Alhamdulillah, masih ada kok penghasilan saya untuk membayar itu.

Pakai Disuntik

Tepatnya, hari Selasa (06/04) sore sekitar jam 16.30 WITA, saya kembali datang. Setelah ditambal di hari Senin itu, saya memutuskan untuk pulang saja. Sudah sore, habis dari kantor. Saya khawatir kalau langsung perawatan pertama untuk gigi yang pecah ini dan berbeda dari gigi di hari Senin itu, akan menyita waktu hingga menembus Maghrib. Makanya besok saja, berarti Selasa ini. Berarti kemarin juga waktu saya menulis ini.

Dokter mengatakan bahwa perawatan kali ini pakai suntikan. Nah, saya teringat suntikan yang sempat menancap di lengan kiri waktu divaksin covid-19. Sebenarnya bekas suntikan itu masih cukup sakit lho jika dipegang. Itu saja sih. Namun, reaksi setelah disuntik, pusing, demam, mual, atau yang lainnya, Alhamdulillah tidak ada. Atau jangan-jangan belum ada? Semoga saja tidak apa-apa, lah yauw!

Perawatan gigi ini membutuhkan lubang baru. Gunanya untuk memasuki daerah saraf yang berada di gusi. Dokter kembali menggunakan sekrup-sekrup tajamnya. Saya tunggu suntikannya mana? Jangan-jangan tidak jadi. Lho, apa saya ini takut disuntik? Ah, tidak, lah. Laki-laki kok takut disuntik? Malu ah sama perempuan.

Dan, akhirnya yang ditunggu-tunggu pun tiba. Suntikan itu muncul juga. Kira-kira sakit apa tidak ya? Eh, tidak sakit sama sekali ternyata. Bahkan, tidak cuma satu kali penyuntikan, seingat saya dua kali. Halah, ketakutan disuntik pun jadi luntur.

Menunggu yang Kedua

Sebelum diproses gigi saya yang pecah itu, ditambal dulu. Ini memang untuk mencegah gigi benar-benar lepas. Ketika dokter mengatakan selesai, maka cukup lega perasaan saya. Ada rasa sakit sedikit, hem, sedikit sekali sih. Seandainya setelah perawatan itu gigi jadi sakit, harap kembali besoknya, berarti hari Rabu ini. Namun, jika tidak, datang lagi hari Sabtu untuk menerima perawatan kedua.

Insya Allah, saya akan kembali datang hari Sabtu ini, mumpung belum puasa. Sedangkan untuk yang ketiga, jelas akan memasuki bulan suci Ramadhan. Bagaimana perawatan ketika bulan puasa?

“Nanti datang saja habis Tarawih, Pak.”

“Kira-kira jam berapa itu, Dok?”

“Ya, habis tarawih, jam 9 gitu, lah.”

“Ohh, gitu ya, Dok?” Nah, muncul lagi tanggapan macam begini ‘kan?

Sampai tulisan ini dibuat, Alhamdulilah gigi saya yang habis perawatan pertama tidak sakit. Padahal, seorang dokter gigi pernah bilang, ada lho yang sakit gigi luar biasa, sampai rambutnya dipegang saja juga sakit. Apa memang benar ada yang begitu ya?

Dari perawatan itu, saya diberikan nasihat untuk tidak terlalu keras saat membersihkan gigi dengan sikat. Wah, selama ini saya memang begitu! Menekan dengan cukup keras sikat yang sudah diolesi odol atau pasta gigi. Alhasil, gigi kanan saya lebih tergerus daripada gigi kiri. Sebab, saya merasa gigi yang sebelah kanan lebih kotor daripada yang kiri.

Berarti saya jadi tahu ilmu baru tentang menggosok gigi nih. “Ohh, gitu ya, Dok?” Tanggapan saya lagi.

Kalimat itu lagi, kalimat itu lagi, hadeh…

Oh, ya, cerita dong pengalamanmu berkaitan dengan perawatan gigi. Ditunggu di kolom komentar ya!

perawatan-gigi-april-challenge-lagerunal

Baca Juga: Mengutamakan Bahasa Indonesia Untuk Menjadi Penulis Hebat (Resume 1 Pelatihan Guru Menulis)

Share This:

26 Comments

  1. Awww…jadi ngilu…betul sekali terkadang kita suka lupa merawat gigi, kalau sudah sakit baru deh ke dokter gigi. Kalau gigi saya malah pada potong sendiri, rapuh gitu. Tinggal sepotong, tahu-tahu hilang aja atau pas mau makan hampir kemanan.
    Makasih telah mengingatkan betapa pentingnya merawat gigi

    1. Waduh, rapuh begitu ya, Bu? Kok jadi kayak hati dan perasaan? Hehe…
      Iya, Bu, sama-sama, saling mengingatkan juga.

  2. Selalu seru membaca tulisan Pak Rizki
    Selalu diselipkan humor yang menggelitik
    Untuk masalah Gigi yang pecah juga terjadi kepada diri saya ini…
    Jadi bisa dibilang kita satu kelas, jika bicara masalah gigi ini… heheheheh

  3. Artikel yang panjang mengenai Gigi, semoga giginya selalu . sehat,kebiasaan ke dokter gigi dilakukan Bila hanya pada waktu sakit gigi saja.Padahal perlunya pemeriksaan berkala supaya gigi lebih sehat.

  4. Rajin sikat gigi dan perawatan gigi kali yah. Semoga dijauhkan dari dokter gigi. Takuttt. Hhaahaaa

  5. Wah, kalau cerita gigi sayanyerah, krnnitulah milik saya tinggal beberapa lagi. Jangankan menceritakan meringis lagi gak berani

    1. Mending sakit gigi, Pak. Kalau sakit hati, masih bisa cari yang lain. Tapi kalau sakit gigi, susah cari yang lain. Hehe..

  6. Betul sekali perawatan gigi penting jangan dianggap sepele tetangga saya hanya karena gigi berlubang setusuk gigi akhirnya terjadi infeksi dan meninggal dunia

    1. Innalilahi wa inna ilaihi rojiun.
      Tuh, kan, penting sekali masalah gigi, jangan diremehkan dan tidak dipedulikan. Ngeri pokoknya.

  7. Kalau saya Februari lalu, habis odontektomi. Lumayan ya horor juga. Udah di anastesi tetep aja kerasa waktu gigi dibor, di tarik dan pas dijahit. Duuuh…

    Mana masih ada sisa 3 gigi yang harus di operasi lagi. Ampuuuun

Silakan tinggalkan komentar ya!

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi ya!

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!