Antara Menulis dan Berbicara (Resume ke-8 Pelatihan Menulis Bersama Om Jay dan PB PGRI)

Antara Menulis dan Berbicara (Resume ke-8 Pelatihan Menulis Bersama Om Jay dan PB PGRI)

Share This:

Ada orang yang membandingkan antara menulis dan berbicara. Siapakah itu? Jelas saya dong. Karena saya yang membuat judul dalam tulisan ini. Tapi, apa makna di balik itu semua?

Dua hal, menulis dan berbicara, manakah yang lebih dulu? Kira-kira, apakah pertanyaan ini sama dengan telur dengan ayam? Menurut kamu sendiri, apa jawaban yang benar?

Kalau telur dengan ayam, menentukan yang lebih dulu adalah kita disuruh membeli yang mana? Kalau ayam yang disuruh oleh ibu, maka ayam itu lebih dulu. Kalau telur, berarti ya, telur. Simpel ‘kan? Sebuah kenangan masa kecil juga ‘kan?

Namun, berbeda halnya antara menulis dan berbicara. Jawabannya adalah berbicara dulu. Lho, kok bisa, Mas?

Kita bisa melihat bayi yang baru lahir ke dunia ini. Mak, ceprot! Istilah Jawanya. Bayi tersebut langsung menangis. Hal itu adalah tanda bahwa dia sedang berbicara dengan orang yang ada di situ. Ya, bidan, ya, perawat, ya, ibunya, ya, bapaknya, ya, ya, ya.

Cuma dengan tangisan, bayi itu berbicara. Berikutnya, dengan tangisan pula. Mau minum, kencing, BAB, minta digendong dan lain sebagainya.

Jadi, sudah jelas ‘kan bahwa berbicara itu lebih dulu daripada menulis? Pernahkah ada bayi lahir langsung menulis? Apalagi menulis status: Hai, Gaes, aku sudah lahir nih! Tidak mungkin ‘kan?

Hah, masih dibilang mungkin?! Aduh, tepuk jidat dulu!

Cantik, Menarik, Karya Ciamik

antara-menulis-dan-berbicara-profil-narasumber

Seperti biasa, dalam kondisi yang luar biasa, karena saya memang biasa di luar, pada Rabu (21/10) jam 19.00 WIB, berarti jam 20.00 WITA di tempat saya, kembali dilangsungkan pemberian materi pelatihan menulis.

Tidak seperti yang kemarin, kali ini narasumbernya masih muda, energik dan full aktivitas. Namanya adalah Noralia Purwa Yunita, M. Pd. Seorang ibu yang lahir di Kudus pada tanggal 12 Juni 1989. Waow, lebih tua saya ini!

Baca Juga: Cara Buat CV Jaman Now [5 Website Ini Membantu Agar CV Kamu Jadi Makin Menarik, Ciamik, Asyik dan Langsung Dilirik]

Beliau adalah tenaga pengajar di SMP Negeri 8 Semarang. Pendidikan ibu yang satu ini juga bagus. Sarjana di Universitas Negeri Semarang. Lanjut S2 dengan jurusan atau program magister pendidikan di kampus yang sama pula.

Ibu Noralia juga aktif sebagai blogger. Ikut komunitas sejuta guru ngeblog, penulis baru di Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan (yayasan yang saya ulas dalam resume kemarin). Masih kurang. Menjadi salah satu tim admin di website guru penggerak. Menjadi anggota komunitas koordinator virtual Indonesia (KKVI).

Masih kurang lagi. Menjadi anggota Musyawarah Guru Mata Pelajaran Prakarya dan IPA. Tidak luput pula menjadi pembimbing ekstrakurikuler KIR SMP.

Namanya guru hebat, pastilah memiliki prestasi. Pernah menjadi juara harapan I lomba karya tulis di almamaternya. Aneka program pendanaan LPPM, DIKTI, Student Grand Hibah I’m Here dan timnya menjadi juara I lomba karya tulis ilmiah SMA tingkat Jawa tengah. Masya Allah. Super sekali! Begitu ‘kan Pak Mario Teduh? Kali ini Bapak Mario Teduh ditunjuk jadi moderator.

Ada beberapa karya ibu narasumber yang sudah bisa kita nikmati. Di antaranya adalah:

antara-menulis-dan-berbicara-1
Buku antologi penulis bersama Om Jay dan guru hebat lainnya

antara-menulis-dan-berbicara-2Buku kolaborasi dua orang

Selain berupa buku, ada pula artikel di majalah yang dimuat.

antara-menulis-dan-berbicara-3

Beliau juga masih dalam proses untuk menghasilkan karya-karya terbaiknya untuk kemajuan pendidikan Indonesia. Salut memang untuk ibu narasumber ini.

Nah, kalau memajukan pendidikan, apakah itu berarti memajukan sekolah juga? Pertanyaan ini tidak mudah untuk dijawab. Seperti di sekolah saya dulu, SMA 6 Yogyakarta.

Jika ingin memajukan sekolah, tentunya susah. Lho, kok bisa, Mas? Sebab, kalau memajukan sekolah, sedangkan di depannya sudah jalan aspal lumayan sempit. Nantinya, jalan itu jadi tambah sempit dong, karena sekolahnya maju. Iya ‘kan? Bagaimana tanggapanmu sendiri, hayo?

Masalah Pada Penulis Produktif

Menjadi seorang penulis produktif seperti Noralia memang bukannya tanpa masalah, meskipun tulisannya pernah dimuat di majalah. Masalah dan majalah? Hem, beda huruf s dan j saja?

Pertama, begitu banyak aktivitas. Nah, ini yang dinamakan sibuk produktif. Sibuk dengan waktu yang ada, tetapi hasilnya ada dan terlihat jelas. Lho, Mas, apakah ada sibuk yang tidak produktif? Oh, jelang dos! Eh, jelas dong!

Sibuk memikirkan masa lalu. Duh, kenapa saya terlahir seperti ini? Aduh, kenapa dulu aku ditinggalkan dia saat sedang sayang-sayangnya? Kenapa saya dulu tidak mulai jadi penulis sejak masih kecil ya? Dan, begitu banyak andai lainnya.

Baca Juga: Tong Kosong Nyaring Bunyinya [Ternyata Ada Hubungannya dengan Ayam dan Kura-kura]

Itu jelas sibuk yang tidak akan menyelesaikan masalah. Sebab, masa lalu sudah berlalu. Janganlah dipikirkan masa lalu, pikirkan saja masa lintas. Karena lalu dan lintas menjadi satu. Itu buktinya, lalu lintas. Sebentar lagi akan ada razia lalu lintas. Lebih baik itu yang dipikirkan, siapkan surat-surat kendaraan bermotor kamu.

Atau sibuk membayangkan tentang masa depan. Istilahnya adalah terlalu panjang angan-angan. Terlalu banyak yang diinginkan. Aku ingin begini, aku ingin begitu. Aku ingin ini itu banyak sekali. Sebentar, jadi mirip lagunya Doraemon ya? Hem…

Kalau serba banyak yang diinginkan, akhirnya jadi tidak fokus. Dia mau ke mana, tidak tahu pasti. Kapan mau ke sana, juga tidak direncanakan. Biasanya, penyakit begini menghinggapi orang-orang yang suka tiduran. Alias kaum rebahan.

Memang sih, kaum rebahan itu termasuk pemutus rantai penyebaran covid-19. Kerjanya di rumah terus, tidak banyak berinteraksi dengan orang luar. Otomatis dia akan selalu jaga jarak dengan orang asing.

Namun, kalau rebahan terus, maka itulah yang justru menjadi penyakit selanjutnya. Tidak menghasilkan sebuah karya yang bermanfaat. Yang ada justru sebuah karya monumental berbentuk pulau di bantalnya. Ngeces, bahasa Jawanya. Bahasa Indonesianya, ngiler waktu tidur. Hiii… Katanya itu najis tralala.

Masalah banyak kegiatan dihadapi oleh Noralia, sang guru muda kita kali ini. Namun, solusinya adalah dengan membuat skala prioritas. Kegiatan apa saja yang akan dilakukan, didata semua, lalu dipilah dan dipilih. Dengan begitu, bisa ditentukan, mana yang mesti didahulukan, mana yang bisa nanti saja?

Kedua, adalah malas dan jenuh. Ini juga dihadapi oleh Noralia. Ah, termasuk juga saya kadang-kadang. Tapi, apa yang membuat ibu narasumber ini merasa malas dan jenuh?

Oh, rupanya beliau jika menghadapi kegiatan yang sama berulang-ulang, maka akan jenuh. Jika mulai muncul, maka beralih dulu ke kegiatan lain sebagai refreshing atau penyegaran kembali.

Wah, ada juga teman saya yang merasa jenuh! Ketika saya tanya, sudah mandi apa belum? Dia jawab malas mandi, karena jenuh atau bosan dengan gerakannya. Dalam hati, memang gerakan mandinya selama ini seperti apa? Apakah sampai naik ke plafon kamar mandi, lalu byar, byur, begitu? Atau merayap di tembok layaknya Spiderman? Herman saya, eh, heran saya!

Refreshing memang perlu bagi siapa saja. Sebab, otak kita ini memang tidak bisa dipaksakan terus-menerus. Otak bukanlah mesin. Jika kita sedang belajar atau bekerja, mungkin bisa dengan menonton film atau membaca buku.

Meski menonton film adalah bagian dari refreshing, tetapi film apa dulu ini? Ada orang yang merasa segar setelah menonton film horor. Hem, apakah dia melihat hantu di film seperti melihat wajah dirinya? Ups!

Atau menonton film komedi. Ini jenis film lucu yang bisa memancing tawa penontonnya. Mau juga pakai komedi, tetapi bukan film? Ada itu komedi putar. Tapi, itu sih mainan anak-anak ya? Aslinya sih namanya komidi putar.

Membaca buku juga bisa bikin pikiran jadi segar. Bagi seorang penulis, maka membaca buku memang termasuk hiburan yang bermanfaat. Novel misalnya. Meskipun ceritanya fiksi, tetapi ada kalanya muncul makna-makna tersembunyi sehingga kita jadi lebih mengerti hakikat kehidupan ini.

Membaca novel seputar cinta, maka mungkin kita akan terbayang kisah cinta yang dahulu. Melamar tiga kali, ditolaknya lima kali. Hem, sungguh tragis! Tapi, itulah bagian dari pembelajaran. Tinggal kita tunjukkan saja, yang menolak kita dahulu akan menyesal! Nah, begitu ‘kan jadi motivasi menjadi orang yang produktif.

Namun, yang perlu diingat adalah refreshing cuma sekadarnya. Ibaratnya berhenti di sebuah pohon untuk melanjutkan perjalanan. Mungkin kita akan terkena kotoran dari pohon yang hinggap di situ jika kita tidak segera berjalan.

Setelah pikiran merasa segar dan on fire kembali, maka sudah saatnya kita bekerja. Meskipun, dari hasil refreshing tersebut, bisa menjadi bahan untuk menulis lagi, seperti yang dilakukan oleh Noralia.

Sesulitkah Itu Menulis?

Jika ditanyakan kepada orang biasa, lebih sulit mana berbicara atau menulis? Mungkin akan banyak yang menjawab, lebih gampang berbicara. Menulis itu dianggap susah karena harus menyusun, kata, kalimat, merangkai paragraf hingga menjadi suatu karya yang enak dibaca.

Sebenarnya, jika ada yang menjawab lebih gampang berbicara, maka memang perlu dilihat dari berbagai sisi. Ini menurut penerawangan yang saya lakukan. Tapi, namanya penerawangan, tidak perlu, lah, sampai tatap mata saya, tatap mata saya, sampai dengan pejamkan mata Anda. Nanti saya malah ditinggal tidur lagi!

Etika Berbicara

Pertama, berbicara itu lebih mudah karena dalam berbicara orang sebagian besar tidak pakai berpikir. Pokoknya asal nyerocos saja, begitu istilahnya. Ada orang berbicara, kita tanggapi dengan tanpa banyak pertimbangan. Ada orang serius, kita berbicara dengan bercanda.

Mungkin banyak percakapan atau pembicaraan kita yang salah tempat. Salah kamar. Pada akhirnya, membuat orang lain jadi tersinggung.

Contoh nyatanya adalah orang yang suka memotong pembicaraan orang lain. Ketika lawan bicara belum selesai bicara, eh, orang itu langsung masuk saja. Padahal, masih ada part 2, 3 dan seterusnya, tetapi si orang itu sudah tidak sabar untuk berbicara juga.

Kita bisa melihat secara nyata dalam debat-debat politik di televisi. Ada seorang pakar atau tokoh berbicara untuk menerangkan sesuatu, eh, dipotong oleh pembicara lain yang kontra pendapatnya. Etika macam apa itu? Bukankah mereka sebenarnya terpelajar? Bukankah mereka semestinya tahu untuk menghormati pendapat orang lain?

Ah, saya rasa mereka sudah pernah sekolah, tetapi seakan-akan mulut mereka tidak pernah sekolah. Pada akhirnya, kita melihat suatu pemandangan yang tidak elok. Debat atau diskusi tersebut menjadi ajang gontok-gontokan. Bahkan olok-olokan. Yang tadinya bicara, merasa marah karena dipotong. Yang memotong juga merasa punya hak, karena merasa punya jabatan publik lebih tinggi.

Baca Juga: Posisi Siap Sebenarnya Untuk Siapa?

Sementara si moderator atau presenter juga tidak pandai mengelola diskusi. Dia sudah berusaha mengatur, tetapi tidak terlalu ada efeknya. Pada akhirnya, ambyar! Ini adalah istilah yang dipopulerkan oleh Didi Kempot sebagai tanda orang yang patah hati. Bubar, jalan!

Kita sebagai penonton tidak mendapatkan ilmu, justru adegan yang sangat tidak patut dicontoh. Orang berebut berbicara. Hal itu menjadi pertanda bahwa berbicara itu mudah, sangat mudah, tetapi ujungnya dimudah-mudahkan hingga melanggar hak orang lain untuk bicara juga.

CCTV Manusia

Ini juga bentuk praktek bicara atau masih ada kaitannya antara menulis dan berbicara. Ada yang namanya CCTV, tetapi bentuknya manusia.

Lho, Mas, tunggu dulu! Maksudnya bagaimana ini?

Begini, CCTV bentuk manusia itu adalah sebuah penilaian yang dibuat dengan melihat pada kondisi orang lain. Biasanya pelakunya adalah kalangan emak-emak.

Ada orang kaya baru, emak-emak itu bekerja dengan menceritakan satu sama lain. Ada orang yang menikah lagi, juga diceritakan. Mereka awalnya kumpul-kumpul biasa. Satu orang memulai, maka yang lain ikut mendengarkan, ikut menimpali. Pada akhirnya, menjadi suatu ghibah berjamaah. Gosip ramai-ramai.

Itu jelas efek dari berbicara yang tanpa pakai mikir. Pokoknya, yang dilihat secara kasat mata, muncul menjadi suatu berita. Entah itu hoax, entah itu kabar burung, intinya ceritakan dulu, urusan benar tidaknya belakangan.

Mengapa biasanya kaum perempuan yang lebih banyak berbicara? Sebuah video di TikTok mengatakan bahwa berdasarkan penelitian, perempuan berbicara sebanyak 8.000 kata perhari, sedangkan laki-laki cuma sekitar 2.000 kata saja.

Dari penelitian tersebut diambil kesimpulan bahwa jika ada istri marah-marah dan berbicara layaknya senapan mesin, maka suami diam saja. Dengarkan saja. Karena sejatinya istri tersebut sedang berusaha mencapai target. Maksudnya 8000 kata itu tadi.

Luar biasa penelitian itu ya? Sampai bisa menghitung 8000 pada istri dan 2000 pada suami. Bila dilihat isi dompetnya, isinya bisa mirip. Di dompet istri tinggal 8.000 rupiah, di suami hanya tersisa 2.000 rupiah.

Kalau Menulis?

Nah, antara menulis dan berbicara, tadi sudah dibahas sedikit tentang berbicara, lalu bagaimana dengan menulis? Mengapa orang secara umum kurang tertarik menulis?

Anggapan bahwa menulis itu butuh berpikir memang masih melekat sampai kini. Menulis adalah tradisi intelektual. Menulis itu butuh mencari sumber yang banyak. Ketika menulis butuh kesabaran dan ketekunan. Selesai, masih harus diedit lagi. Bahkan beberapa kali.

Itulah yang membuat penulis menjadi jarang dilirik untuk dijadikan profesi di negeri ini. Pernah seorang penulis yang karyanya sudah banyak tersebar di media online, bahkan novelnya menjadi pemenang sayembara tingkat nasional, dia ditanya pekerjaan. Jawabannya: Penulis. Ya ‘kan memang penulis, jujur menjawab.

Orang yang bertanya itu malah bingung. Hah, penulis? Maksudnya sekretaris begitu ya? Si penanya malah bertanya balik. Si penulis tersebut ‘kan jadi geleng-geleng. Jadi penulis kok disamakan dengan sekretaris?

Sangat jarang terjadi, ada profesi di KTP: penulis. Mentok-mentoknya sih wiraswasta, sebab penulis itu pada dasarnya juga pekerja yang dibayar sesuai profesi mandirinya.

Baca Juga: Hari Senin? Kok Banyak yang Tidak Ingin?

Nah, kegiatan menulis yang serba rumit tersebut menjadi hal yang susah dijangkau oleh masyarakat umum. Meskipun sekarang ada media sosial, dan di situ bisa menulis dengan bebas, tetapi lihatlah tulisan mereka. Rata-rata sih bukan tulisan yang bermanfaat. Isinya galau saja atau justru menceritakan aib rumah tangganya.

Selain itu, tanpa tata bahasa yang benar. Bahasanya campur aduk, lebih tercampur daripada gado-gado atau ketoprak di dekat warung sate di daerah saya. Berbicara yang ngawur tercermin pula pada tulisan yang ngelantur.

Cara Untuk Bisa Menulis

Saya pernah dengar, ada sebuah pelatihan menulis secara offline. Cukup banyak yang datang. Mereka siap untuk menerima materi dari sang pembicara.

Pas waktunya tiba, pembicara tersebut datang dengan penuh semangat. Tapi, tidak seperti pembicara MLM lho, yang pakai setelan jas rapi, berlari dari belakang, memegang tangan cukup banyak peserta, lalu naik ke panggung. Tiba di atas teriak, “Halo, Jakarta…..!!!! Apa kabar Anda semua malam hari ini?!!! Luar biasa!!!”

Tidak harus juga seperti itu ‘kan? Kalau si pembicara berteriak dan menanyakan, “Halo, Jakarta! Apa kabar Anda semua?” Masa seluruh orang Jakarta mesti menjawab pertanyaan itu? Kalau menunggu satu per satu menjawab, lah terus kapan acaranya mau dimulai? Jutaan orang tinggal di Jakarta, he!

Noralia membagikan tips singkat agar orang bisa menulis. Niat, Paksa dan Mau. Ini tidak ada kaitannya dengan menikah lho ya! Nanti malah main paksa untuk menikah, seperti zaman Siti Nurhaliza, eh, Siti Nurbaya.

Sebelum menulis, niatnya untuk apa dulu ini? Apakah sekadar menulis saja, lalu mencantumkan nama kita agar dilihat orang lain? Apakah hanya untuk eksis dan narsis? Ataukah ingin berbagi manfaat?

Kalau menurut saya sendiri, niat ini memang harus kuat di awal. Itulah why factor alias faktor mengapanya. Sering orang berpikir urusan teknis. Ini tidak ada kaitannya dengan olahraga teknis meja lho ya!

Misalnya, cara untuk menyusun kalimat yang benar. Cara agar tulisan tidak membosankan. Bagaimana caranya menembus media? Bagaimana mengawali dan mengakhiri tulisan? Itu semua urusan teknis. Gampang dipelajari.

Akan tetapi, yang susah itu adalah alasan atau faktor mengapa itu tadi. Sering orang hanya ikut-ikutan. Si itu sudah menulis, wah, saya menulis juga deh! Nah, faktor ikut-ikutan ini yang akhirnya melahirkan tulisan yang cuma ikut-ikutan. Pada akhirnya tulisannya juga mirip-mirip.

Untuk bisa menjadi penulis hebat, temukan alasan mengapa kita mau jadi penulis? Jadi penulis itu berat lho! Terus terang saja. Meskipun hanya mengetik di laptop, mengangkat buku yang beratnya tidak sampai satu karung beras, tidak perlu angkat semen layaknya tukang bangunan, tetapi menulis tetaplah berat.

Penulis butuh yang namanya jalan kesunyian. Meski tidak harus selalu dipahami menulis di kuburan. Nanti malah jadinya novel misteri lagi.

Jalan kesunyian itu perlu ditempuh penulis jika ingin menghasilkan karya yang aduhai. Dia tidak boleh diganggu orang lain. Bahkan keluarga sendiri. Dia perlu memiliki waktu dan ruangan khusus agar tulisan bisa fokus.

Walaupun pada kenyataannya, penulis itu tidak harus butuh tempat terlalu sepi, karena menulis bisa di mana saja, tetapi memang masa atau waktu menyendiri itu sangatlah perlu.

Mungkin kita melihat ada orang yang agak cuek dengan kanan kirinya, ketika duduk di kereta. Dia sambil mengetik sesuatu di gawainya. Bisa jadi dia seorang penulis. Bisa jadi dia sedang membuat artikel, cerpen atau bahkan novel.

Jika dia diajak bicara oleh orang di sebelahnya, maka dia tidak akan fokus. Dia tidak akan bisa menyelesaikan tulisannya. Oleh karena itu, sekali lagi butuh fokus. Kalau sudah mau nulis artikel, maka acuhkan dulu yang lain. Begitu yang diajarkan oleh ibu guru Noralia juga.

Kemudian, paksa! Tidak cukup dengan niat di hati dan sanubari, mesti ada aksi hakiki.

Memaksakan diri untuk menulis ini juga tidak mudah. Bagaimana kita bisa tahan berjam-jam duduk di belakang komputer untuk menulis? Butuh ketekunan yang luar biasa, karena godaannya juga tidak biasa.

Saat menulis, tiba-tiba istri panggil, “Sayang, ke sini yuk!” Wah, maksudnya apa ini? Hehe…

Atau anak kita tanpa diduga mengajak main, “Ayah, ayo kita main petak umpet. Ayah jadi petak, aku jadi umpet.” Bingung ‘kan menghadapi anak semacam ini?

Godaan itu selalu ada. Namun, harus dihadapi dengan semangat 45. Maksudnya semangat 4 sehat 5 sempurna ya?

Baca Juga: Betulkah Blokir Kontak Membuat Nyaman di Otak?

Paksa diri untuk menulis, jika sudah berkomitmen mau jadi penulis. Mungkin cari waktu yang tepat. Kalau merasa terganggu dengan keluarga, bisa waktunya malam. Saat itu anak-anak sudah tertidur. Tapi, jangan ikut tidur! Lha terus nulisnya kapan?

Memang, kadang harus dengan begadang untuk bisa menyelesaikan satu tulisan. Saya sendiri juga begitu. Lumayan sering begadang agar tulisan saya cepat selesai. Apalagi ikut dalam pelatihan guru menulis bersama Om Jay dan PB PGRI ini. Tiap Senin, Rabu dan Jum’at selalu ada materi baru dan mesti membuat resume.

Bagaimana kalau tidak kuat begadang malam? Apa diganti begadang siang saja? Tunggu, kok istilahnya janggal ya? Begadang siang? Haha, mana ada?

Bila tidak kuat begadang, maka kamu bisa tidur dulu. Beberapa jam, nanti bangun di tengah malam. Bisa dengan sholat malam agar pikiran lebih fresh. Boleh juga dengan mandi agar kantuk-kantuk itu hilang. Jelas itu namanya mandi pagi. Kurang elok kalau dikatakan mandi sore di waktu pagi. Ya ‘kan?

Tadi niat sudah, paksa sudah, sekarang tinggal mau. Pertanyaan, mau apa tidak ini dilaksanakan? Percuma juga dong mulut berbusa-busa, tetapi tidak ada action. Sentar, sentar, mulut berbusa-busa? Tidak sedang kumur-kumur pakai sabun deterjen ‘kan?

Tiga tips tersebut, niat, paksa dan mau sudah diterapkan oleh Noralia Purwa. Tinggal giliran kita ini untuk bisa mengungguli beliau. Jangan persis seperti beliau, karena setiap kita adalah unik. Jadilah be yourself! Jangan iri, anan saja! Kemarin ada yang pakai slogan blog ini, justru malah saya yang belum pernah pakai di tulisan. Hehe…

Kesimpulan

Tanpa terasa, sampai dengan kata ini sudah 2.743 kata. Jelas kurang banyak, karena kalau mau diceritakan tentang menulis, pastilah dari berbagai sudut pandang, jelas luas sekali. Seperti cintamu pada pasanganmu yang seluas mata memandang.

Asal memandangnya di pinggir laut lho ya! Nanti bilang seluas mata memandang, di belakang tembok. Ya, mentok di tembok dong!

Ada satu lagi yang saya tangkap, meski saya bukan nelayan tukang tangkap ikan, bahwa pelatihan menulis kemarin bersama Noralia adalah keberadaan buku fisik.

Mungkin kita merasa, sejak era teknologi komunikasi yang sangat pesat jaman now ini, buku fisik jadi tidak penting lagi. Ah, buat apa sih beli buku lagi? Bikin penuh ruangan tahu tidak? Akhirnya jadi sarang debu saja. Repot, berat dan dipandang kurang estetis lagi.

Hal itu dibantah oleh sang narasumber cantik ini. Menurut beliau, buku fisik masih diperlukan sekarang ini lho! Buku adalah warisan yang berharga buat orang lain. Ketika sudah meninggal, maka yang akan dikenang adalah buku tersebut. Apalagi jika nilainya luar biasa bermanfaat untuk orang lain.

Selain itu, buku fisik bisa dibaca anggota keluarga lain. Kita simpan di lemari, yang lain bisa ikut mengambil dan menikmatinya. Beda dengan buku elektronik alias e-book yang ada di HP. Mungkin kita akan terganggu jika HP ini dipinjam karena masih ada urusan kerja kita dengan benda tersebut.

Buku yang sudah selesai kita baca, misalnya sudah dibaca sebanyak 20 kali, waduh, tinggal kita taruh saja. Tawarkan kepada yang lain untuk ikut baca juga.

Kalau lebih dari satu kali, selain Al-Qur’an, ada sebuah buku yang pernah saya baca. Judulnya “Ayat-ayat Cinta” karangan Habiburrahman El-Shirazy. Jika tidak salah, saya sudah membaca buku tersebut sebanyak 6 kali.

Anehnya, setiap membaca, terasa selalu ada yang baru. Padahal, ceritanya ya begitu-begitu saja, Fahri, Aisha dan Maria. Namun, bagi saya, seperti membaca pertama kali saja.

Ingin menulis yang seperti itu? Ingin punya buku yang dibaca berkali-kali oleh pembaca? Sebenarnya, setiap orang bisa, asal tahu caranya. Tidak lain dan tidak bukan adalah terus berlatih, belajar, tidak bosan, tidak lelah, fokus, konsisten dan tidak mudah mengeluh.

Baca Juga: Bayar Sekarang Atau Nanti?

Share This:

29 Comments

  1. Seperti biasa resumenya ciamiik banget, semakin menunjukkan ciri khasnya Mas Rizky, sukses yah…
    Ditunggu kunjung balik yah..

  2. Mantap, nih. Panjang tanpa mengaburkan esensi materi yang disampaikan narasumber. Seru saat membacanya, tapi sedikit terganggu sama beberapa salah tik. Nulis enggak usah buru-buru kayak dikejar masa lalu, Pak. 😂

  3. Tulisan mas Rizki memang selalu renyah utk dibaca. Juga ada yg bisa membuatku tersenyum karena gaya penulisannya.. Asyik deh pokoknya.

  4. Iya,, saya mau lanjut ternyata muncul tanda stop, soalnya setelah stop kok kecil hurufnya,, tapi luaaar biasa dan biasa di luar karena mau memajukan sekolahan,, pa bisa sekolah maju mundur aja report,, mirip humor gus dur,,, salam sukses

  5. Tak terasa setiap kali baca tulisan pak Rizky terhanyut karena gaya bahasa yg mengalir Punch line nya juga pas banget sehingga membuat saya mesem sendiri.
    Menurut saya ada 3 kata tidak baku yang ditampilkan.
    Praktek seharusnya praktik
    Hoax seharusnya hoaks
    Jaman seharusnya zaman
    Maaf ya pak kalau saya salah lihat.

  6. Alhamdulillah sungguh luar biasa tulisan nya , terus menerus lah menulis hingga jadi buku ok mohon maaf ada sedikit saran biar lebih menarik sebaiknya di tambah dengan gambar, mohon maaf, terimakasih

    1. Iya, bu, memang tadi terpikir mau kasih gambar. Sebab terlalu panjang dengan 3.000 lebih kata tanpa gambar. Tapi tadi belum sempat. 😊

      Lain kali dilengkapi gambarnya.

    1. Boleh juga bu. Untuk sampai tahap ini, memang mesti banyak membaca karya orang lain. Nanti lama-kelamaan, seiring waktu dan latihan, kita akan menemukan gaya sendiri kok.

  7. Wah, lengkap tanpa meninggalkan objek penting, kalau boleh saran baiknya kurangi penggunaan kata definisi (adalah) bisa diganti kata lain misalkan: Ibu Noralia adalah ….. menjadi Ibu Noralia merupakan ….

    1. Oke, Pak, terima kasih sarannya. Sebenarnya saya malah tidak mengatakan Ibu Noralia karena itu tidak baku dalam kaidah jurnalistik, tetapi cukup dengan namanya saja.

      Ditunggu kunjungannya lagi Pak.

  8. Tulisan yang mantap. Saya amat tertarik dengan blog ini. Enak dibaca. Ada tautan juga untuk baca tulisan lain

    Baca juga punyaku ya Pak. Terima kasih. Salam guru blogger

  9. Tulisannya lumayan panjang. Tapi saya paksakan untuk baca secara keseluruhan. Terima kasih banyak ilmu saya bertambah. Terus berbagi👋👍🙏

Silakan tinggalkan komentar ya!

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi ya!

sixteen − fourteen =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!