Anak yang Sering Berkhayal, Terus Kenapa?

Anak yang Sering Berkhayal, Terus Kenapa?

Share This:

Apakah kamu pernah melihat anak yang sering berkhayal? Kira-kira bagaimana menurut kamu sendiri? Baik atau tidak? Positif atau tidak? Positif Corona atau tidak? Walah, kok nyambungnya ke sini?

Memang, setiap anak sebenarnya punya daya khayalnya sendiri-sendiri. Saya sendiri juga pernah seperti itu. Secara saya yang sudah dewasa ini, ternyata pernah jadi anak kecil juga lho!

Waktu itu, masih SD, saya mempunyai mainan berupa boneka-boneka yang memang diperuntukkan bagi anak laki-laki. Bentuknya super hero, tentara atau apapun yang pentingnya aslinya adalah tokoh kartun laki-laki. Dengan mainan itu, saya pun membuat cerita-cerita. Misalnya, ada yang jadi protagonisnya, ada yang jadi antagonisnya.

Umur segitu, saya jelas belum mengerti arti protagonis dan antagonis. Kalau dikaitkan dengan obat, ada procold dan antalgin. Memang tidak ada kaitannya sama sekali, tetapi paling tidak, penggalan kata di depannya kan sama.

Dunia Khayalan Anak-anak

Antara anak laki-laki dan perempuan, dunia khayalannya memang berbeda. Kalau anak laki-laki, sering mengkhayal perang-perangan, tembak-tembakan, atau mobil-mobilan, pura-pura balapan begitu. Sedangkan anak perempuan, biasanya seputar memasak, artinya masak-masakan. Apakah ada laki-laki yang masak-masakan dan anak perempuan main tembak-tembakan?

Salah satu kerabat saya di Kendari dulu begitu. Saat masih SD, anak perempuan itu malah ikutan main kelereng. Mungkin di tempatmu beda lagi. Bisa jadi lebih daripada itu. Boleh dong kamu cerita di kolom komentar di bawah. Hehe…

Baca Juga: 10 Perkataan yang Merusak dan Meruntuhkan Dunia Anak

Namanya saja khayalan, bisa jadi sesuatu yang memang tidak ada di dunia ini. Misalnya, seorang anak yang berkhayal bisa terbang sampai ke bulan maupun matahari. Meskipun dia sudah pernah ke Matahari Mall, tetapi belum tentu ada Matahari Mall di matahari kan? Beda rasanya seorang anak membayangkan bisa ke matahari betulan dan tanpa ada embel-embel diskon 50 % atau diskon 50 % + 20 % atau hari ini cuci gudang. Lho, kalau cuci gudang, memangnya gudangnya mau dikasih desinfektan ya?

Efek dari Mengkhayal

Karena keunikan khayalan anak-anak itu sendiri, bisa jadi ada orang tua yang khawatir. Contohnya, anak itu berkhayal memiliki hewan buas. Apa ya contohnya? Misalnya kelinci buas, kucing buas, ikan buas atau burung buas. Pokoknya yang buas-buas dilekatkan pada hewan.
Apakah anak-anak yang sering berkhayal dalam permainannya itu normal? Apakah keadaan yang biasa saja? Bagaimana seandainya ada orang tua yang mengkhawatirkan? Jangan-jangan karena terlalu sering berkhayal, maka dia jadi lupa belajar. Lupa dengan dunianya sendiri. Lupa daratan. Wah, kalau yang terakhir ini sepertinya lebih cocok orang dewasa, deh!
Mungkin efek yang muncul dari anak-anak mengkhayal ini adalah sulit fokus. Bagaimana contohnya? Yah, boleh jadi waktu dia sedang main-main dengan teman atau saudaranya, mainannya berantakan. Seolah-olah mainannya tumpah semua di seluruh permukaan bumi. Ibaratnya begitu, lah. Kalau bukan ibarat, ya, itimur.
Boleh jadi, ketika anak-anak itu mau membersihkan mainan super berantakan, dia malah berkhayal lagi. Atau masuk ke imajinasinya lagi. Padahal sebelumnya sudah masuk di dunia nyata, eh, masuk lagi ke dunia privat mereka. Bagaimana tuh?

Kata Buku

Sebenarnya, buku memang tidak bisa berkata-kata. Tidak seperti di dunia sihir macam Harry Potret itu, halah, Harry Potter. Namun, sebuah buku dengan judul Your Preschooler Bible yang ditulis oleh Dr. Richard Woolfson, sebenarnya normal-normal saja kok, anak usia prasekolah suka dengan daydreaming alias berkhayal.
Jika berada di dunia khayalan, maka yang ada di situ bisa dalam kendalinya. Orang lain tidak bisa ikut campur. Dia yang berkuasa di situ. Selanjutnya, yang diperlukan adalah jangan ada rasa khawatir karena anak kita masih bisa membedakan antara imajinasi dan realitas.

Baca Juga: Fenomena Anak Kecanduan Game Online

Kalau ada orang tua yang takut dan khawatir terhadap anak yang sering berkhayal, misalnya anak jadi tidak peduli dengan dunia nyata, terus juga tidak mau belajar untuk menghadapi dunia yang memang nyata, maka itu sebenarnya masih wajar saja. Ada pula orang tua yang khawatir terhadap dunia khayalan anaknya. Contohnya, berkhayal jadi pembunuh atau penjahat. Bagaimana jika terjadi betulan nanti di kemudian hari?

Ternyata, tidaklah selalu seperti itu. Menurut Seth Mullins, seorang penulis yang mempelajari ilmu psikologi, imajinasi adalah sebuah wadah atau ruang yang mana seorang individu dapat berpikir dengan sangat luas dan memikirkan segala kemungkinan yang ada. Jika tidak ada imajinasi, maka tingkah laku kita cuma mentok pada apa yang telah kita lakukan pada waktu sebelumnya. Selain itu, pada sesuatu yang kita lihat dilakukan oleh orang lain.

Biasanya sih, para orangtua ingin kalau anaknya bisa belajar bahwa di dunia ini penuh dengan risiko dan konsekuensi masing-masing. Nah, mengkhayal maupun bermain peran dapat menjadi salah satu hal yang dapat dilakukan seorang anak untuk belajar mengantisipasi segala kemungkinan, jebakan maupun kesulitan yang ada.

Imajinasi jelas memberikan banyak manfaat positif bagi anak. Menurut para ahli perkembangan anak, bahwa anak dengan imajinasi yang baik akan merasa lebih bahagia, waspada, baik dalam mengatasi masalah, dan mampu tumbuh menjadi orang dewasa yang aman dan punya kemampuan adaptasi yang baik.

Sedangkan kata trainer Eugene Schwartz, anak yang dipenuhi dengan imajinasi mampu tumbuh menjadi individu kreatif. Bukankah imajinasi itu sendiri memang mengembangkan kreativitas anak?

Imajinasi memang diperlukan untuk mempelajari manusia. Selain itu, untuk kejadian-kejadian yang tidak ditemui secara langsung, seperti sejarah atau bagian dunia lain. Paul Harris, psikolog anak, imajinasi sangat penting untuk memikirkan tentang realitas dan tidak hanya tentang fantasi saja. Anak yang punya imajinasi, akan punya cita-cita setelah dewasa nanti.

Orang Tua Harus Bagaimana?

Menghadapi anak yang sering berkhayal atau berimajinasi, apa yang mesti dilakukan oleh para orang tua? Apakah membiarkan saja atau ada tindakan khususnya? Dalam website Childtime Learning Centre, orang tua memang perlu memberikan arahan anaknya kepada imajinsi yang tepat. Lewat permainan, orang tua dapat melakukan hal tersebut.

Untuk kondisi yang lebih baik, anak jangan dibiarkan di depan komputer, TV, HP sampai dengan video games. Hal itu menyebabkan mereka kurang bisa membuat fantasi dan cerita mereka sendiri. Lebih bagus, lewat partisipasi aktif dengan orang tua atau guru agar lebih memuaskan imajinasi atau khayalan mereka.

Kalau misalnya, ada anak yang punya teman imajinasi, jangan dulu dilarang ya! Meskipun, memang anak perlu diajarkan yang mana baik, yang mana buruk? Mana nyata, mana khayalan? Ya ‘kan?

Baca Juga: Gangguan Mental Pada Anak

Share This:

Silakan tinggalkan komentar ya!

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi ya!

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!