Akhiri dengan Alhamdulillah

Akhiri dengan Alhamdulillah

Share This:

Tulisan ini merupakan tulisan yang terakhir untuk tantangan menulis dari grup Cakrawala Blogger Guru Nasional (Lagerunal). Mengakhirinya justru dengan huruf awal, yaitu: A.

Pada hari ini, Jum’at, tanggal 18 Ramadhan 1422 Hijriyah. Cuaca di tempat saya masih panas cukup terik. Rata-rata orang memang menghindari dengan masuk ke dalam rumah.

Namun, ada kejadian yang cukup unik tadi saya lihat waktu masih masuk kantor. Dari kejauhan, ada warung yang buka, dekat pintu gerbang menuju pelabuhan. Seorang ibu tampak ke luar dari warungnya sambil membawa segelas kopi. Kantor saya memang dekat dengan jalan menuju pelabuhan. Jadi, pemandangan langsung menuju laut.

Saya dan teman-teman tertawa melihat fenomena itu. Bukankah sekarang masih bulan Ramadhan? Nyatanya, kok masih ada yang nyata-nyata tidak berpuasa?

Ada yang mengatakan, mungkin yang disodori itu adalah seorang musafir, yang boleh tidak berpuasa. Tapi, ternyata dari jauh itu, laki-laki lho yang tidak berpuasa. Yah, secara fisik sih, seharusnya kuat berpuasa meski dalam kondisi perjalanan.

Puasa dan Tidak Merokok

Dalam percakapan pagi ini juga, di depan kantor, di bawah pohon-pohon rindang, ada yang memulai percakapan dengan mengatakan, “Kenapa ya, orang berpuasa itu bisa tahan nggak merokok?”

Teman lain ada yang menimpali, “Sejatinya itu begini, karena panggilan berpuasa ini untuk orang-orang yang beriman, bukan sekadar Islam saja. Bukan hai orang-orang Islam, tapi hai orang-orang yang beriman. Jadi, kalau orang sudah beriman, maka dia akan kuat-kuat saja berpuasa tuh.”

Dikaitkan dengan warung buka tadi, dia menambahkan, “Kalau ada yang buka, jual makan sama minum, ya, nggak akan terpengaruh. Dia tetap saja puasa.”

Hem, saya pikir betul juga. Hanyalah panggilan iman yang menggerakkan hati seseorang untuk berpuasa. Menahan tidak makan, minum, merokok, serta berhubungan suami istri, dari Subuh sampai Maghrib. Apalagi ditambah cuaca yang panasnya agak ekstrim ini.

Iman ini memang suatu motivasi gaib. Tidak kelihatan wujudnya. Orang yang beriman diwajibkan berpuasa, sejatinya buat apa sih? Bukankah tujuannya menjadi orang yang bertakwa? Lha, terus, takwa itu apa? Nyatanya takwa itu juga sesuatu yang gaib.

Iman yang masuk ke dalam dada, ke dalam hati, membuat teman-teman saya itu, yang notabene banyak perokoknya, menjadi tidak merokok. Padahal, bagi seorang perokok, lebih-lebih perokok berat, tidak makan, masih bisa, tidak minum, juga bisa, tapi tidak merokok, ini sulit luar biasa. Mulut terasa asem. Ditambah dengan berjam-jam, wuih, makin asem deh!

Kesimpulan

Salut memang bagi para perokok yang betul-betul berpuasa. Menahan manisnya rokok, meskipun sementara, yang biasa nangkring di sudut mulut. Ada juga sih, yang saking perokok beratnya, tidak bisa meninggalkan tuhan sembilan sentimeter tersebut.

Lho, kok dikatakan tuhan? Jelas dong, karena rokok lebih dicintai dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Lebih memilih merokok daripada harus berpuasa dari Subuh sampai Maghrib.

Selain itu, sedekahnya juga untuk beli rokok. Padahal, jauh lebih baik sedekah untuk masjid, pondok pesantren, sekolah Islam, panti asuhan, maupun lembaga konservasi alam dan hewan. Jadi, akhirat yang berbuah surga menjadi tidak menarik lagi bagi seorang perokok, karena sedekahnya sekali lagi hanya untuk rokok, rokok, dan rokok.

Mau bilang baik, atau jelek, semuanya pasti ada hikmahnya. Kalau ada orang yang sengaja tidak berpuasa karena ingin merokok terus, maka doakan saja. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberi hidayah kepada orang tersebut.

Ucapkan “Alhamdulillah” sebagai tanda bahwa kita masih diberikan iman dan Islam. Alhamdulillah juga pas jika kita memang bukan seorang perokok.

Iman dan Islam adalah dua perkara yang tidak sembarangan diberikan ke orang. Meskipun puasa ini adalah ibadah batin, langsung terkoneksi antara kita dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, pantasnya memang dilestarikan selepas Ramadhan nanti. Semakin kita berpuasa, semakin kita harus sering mengucapkan “Alhamdulillah.” Kok bisa? Nanti jawabannya kalau kita sudah rutin menjalaninya.

Share This:

Silakan tinggalkan komentar

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi dengan benar.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!