8 Alasan Saya Tidak Mau Ikut Buka Puasa Bersama Selain di Masjid

8 Alasan Saya Tidak Mau Ikut Buka Puasa Bersama Selain di Masjid

Share This:

Jangan salah tulis ya, yang benar itu buka puasa bersama, bukan buka bersama. Makanya, singkatannya juga bukpuber, bukan bukber.

Kalau dilihat dari artinya, buka puasa bersama ya buka puasa yang dilakukan secara bersama-sama. Masa seorang diri, terus dibilang buka puasa bersama? Jika dia dukun, maka mungkin saja, buka puasa bersama jin-jinnya. Atau dengan babi ngepet? Walah..

Acara buka puasa bersama memang marak di bulan suci Ramadhan ini. Sebab, di bulan ini, memang diwajibkan berpuasa. Bila di luar bulan suci Ramadhan, ada yang puasa wajib, ada pula yang sunnah. Tapi, tidak ada yang sampai satu bulan full menahan lapar dan dahaga seperti sekarang ini.

Enaknya berpuasa di bulan suci Ramadhan itu karena dilakukan bersama-sama. Jadi, ada rasa susah senang bersama. Susah karena menahan lapar, haus, merokok, dan berhubungan suami istri. Senang karena bisa menjalankan buka puasa dengan waktu yang sama, yaitu: adzan Maghrib.

Pokoknya, harus adzan Maghrib tanda baru boleh berbuka. Jangan karena merasa kaya, jadi juragan di kampung, pas jam 12 siang, muadzin disuruh mengumandangkan adzan Maghrib karena si muadzin digaji oleh juragan tersebut. Waduh!

Guyub Rukun

buka-puasa-bersama-1

Sifat sosial masyarakat Indonesia memang cukup luar biasa. Tidak di offline, di online pun begitu. Sifat suka kumpul-kumpul, mangan ora mangan kumpul, hati senang walaupun tak punya uang, menjadi ciri khas dari masyarakat kita ini.

Makanya, covid-19 menjadi cukup tinggi di negara ini sebab susah menghilangkan kebiasaan kumpul-kumpul, nongkrong, kongkow-kongkow, ngobrol di warung kopi. Meskipun pakai masker, tapi banyak juga yang melepasnya. Yang susah kalau sedang pakai masker bengkoang, dilepasnya mesti dengan air.

Baca Juga: Bagaikan Naik Pesawat Sampai Ke Akhirat

Kumpul-kumpul itu tadi menjelma juga di bulan Ramadhan, menjadi acara buka puasa bersama. Tempatnya pun macam-macam. Mungkin di kafe, restoran, warung kopi, warung kaki lima pinggir jalan, atau di hotel sekalipun.

Tempat-tempat tersebut selain menyajikan hidangan buka puasa bersama, juga biasa ada hiburannya. Mungkin pementasan band, atau stand up comedy. Yang terakhir ini, lucu tidak lucu, ketawa saja, lah. Kasihan si penampilnya.

Saya juga pernah mengikuti acara buka puasa bersama, waktu saya di Jogja, bersama teman-teman SMP. Tempatnya di sebuah restoran. Cukup ramai di situ.

Namun, setelah mengikuti acara tersebut, saya jadi tidak mau jika ada acara lagi semacam itu. Kalau mau bikin acara buka puasa bersama, bikinlah di masjid saja, jangan di luar masjid. Lho, kenapa Mas? Ada alasannya?

Dalam tulisan ini, saya sertakan alasan-alasannya. Ini dia:

1. Tidak Sholat Maghrib

Dengan mata kepala sendiri, tanpa harus pinjam dari orang lain, saya menyaksikan teman-teman lumayan tidak sedikit yang tidak sholat Maghrib. Mereka membuka dengan minum atau makanan kecil di situ, terus habis itu, harusnya sholat Maghrib dulu, ya ‘kan? Nyatanya pada tidak sholat tuh.

Lho, ini yang sangat aneh. Seharian puasa bisa. Menahan makan, minum, dan berhubungan suami istri juga bisa. Tapi sholat Maghrib yang cuma sekitar lima menit, tidak sanggup. Waow, apa kata dunia, Gaes? Kebalik betul. Yang berat bisa, yang ringan malah terasa berat?!

Rata-rata yang buka puasa, habis makanan kecil pembuka puasa, lalu makan besar. Tidak ada jeda-jedanya makanan dimasukkan. Jeda yang paling bagus sih sholat Maghrib itu tadi. Lebih bagus sih sholat Maghrib berjamaah di masjid. Itu memang paling bagus.

Perut yang seharian kosong, langsung dihujani dengan aneka tumpah ruah makanan dan minuman. Betapa menyakitkannya. Betapa pencernaan yang tadi istirahat dengan manis, kini langsung genjot bekerja bagaikan mesin.

2. Tidak Sholat Isya dan Tarawih

Nah, ini masih kelanjutan dari buka puasa bersama, bablas sampai Isya. Tidak sholat Isya dan tarawih. Setelah makan, minum, dilanjutkan dengan ngobrol-ngobrol tidak jelas. Cerita sana-sini, ngalor ngidul, ngetan ngulon. Tadi sholat Maghrib yang sholat wajib, tidak dikerjakan. Tidak puas cuma sholat Maghrib, ditambah dengan sholat Isya. Lengkap deh. Klop banget!

Sholat tarawih yang menjadi ciri khas di bulan Ramadhan, sholat malam yang dimajukan, dilewatkan, kalau begitu kapan mau maju? Masa mau dilewati terus?

3. Ghibah

Ini tadi bagian dari percakapan anak-anak manusia, yaitu: ghibah alias gosip. Katanya gosip itu digosok makin sip. Lebih bagus kalau gosok begitu pakai Sunlight, biar cling gitu. Maksud sebenarnya sih, mulutnya saja yang dikasih Sunlight, dibersihkan biar tidak gosip melulu.

Percakapan tanpa ghibah memang laksana kopi susu tanpa garam. Hey, perumpamaannya kurang pas! Oh, begini saja. Bagaikan kopi susu tanpa lombok. Nah, ini kayaknya lebih pas.

Apalagi jika buka puasa bersama itu sekalian reuni. Ngomongin si anu, si anu itu, si anu ini, dan akhirnya bingung sendiri, anu itu siapa? Anugerah, Anusapati, atau Anu Ah Gelap!

Kiranya memang harus dipahami, bahwa gosip itu termasuk dosa yang berat dalam Islam. Untuk menghilangkan dosa tersebut, memang harus minta maaf ke orangnya yang kita gosipi dan kita ghibahi, hihi. Namun, jika terasa tidak mungkin dan justru akan menambah masalah kalau bicara langsung ke sang korban, maka solusinya adalah mendoakan kebaikan bagi sang korban. Ditambah dengan menyebutkan kebaikan-kebaikannya di majelis ghibah yang sebelumnya kita ikuti.

4. Pamer

buka-puasa-bersama-2

Kalau ghibah itu korbannya orang yang tidak ikut di situ, alias orang luar. Bisa luar komunitas itu, luar daerah, sekalian saja luar planet, alien dighibahi!

Sedangkan pamer itu terjadi di situ, di kelompok orang buka puasa bersama itu. Pamer bisa dalam segala hal. Mungkin ada yang datang dengan mobil barunya. Merek ternama, sementara kita datang dengan mobil yang berganti-ganti sopirnya. Maksudnya mobil angkot gitu.

Pamer sudah menikah, istrinya cantik, anak-anaknya lucu-lucu, hahaha. Kan lucu toh, makanya ketawa.

Baca Juga: Pembelajaran Bagi PNS dari Sosok Bob Sadino

Saat kita datang, pas belum menikah ini ya, ditanya, “Kapan rencana nikah, Bro? Jangan lama-lama ya Bro, keburu semua cewek diambil orang!” Pelan sih suaranya, tetapi keras menghantam hati jomblo di situ.

Pamer harta, pamer jabatan, pamer pekerjaan, coba dong pamer pahala, sudah dapat berapa banyak sih? Wah, kalau pamer pahala jadinya malah riya dan ujub nanti ya! Jangan deh!

Padahal, apa sih yang mau dipamerkan dari semua itu? Kan bisa hilang setiap saat. Ya ‘kan?

Ditambah lagi pada poin ini, hakikat puasa itu ‘kan merasakan orang yang tidak beruntung di bawah kita. Mereka belum tentu bisa makan dan minum serutin kita. Belum tentu juga bisa menikmati aneka makanan yang sangat berlimpah.

Buka puasa bersama, bisa memunculkan gaya hidup mewah, dan lupa dengan hakikat puasa itu sendiri. Sekadar menahan lapar dan haus, tetapi nurani atau empati kepada orang yang kurang beruntung menjadi tidak ada.

5. Muncul Hubungan yang Anu

Konteks buka puasa bersama bisa lho menjadi ajang membangkitkan kenangan masa lalu. Ini terutama kalau disambung dengan acara reuni ya. Seperti contoh buka puasa bersama saya dengan teman-teman SMP. Rata-rata sih, kumpul dengan teman sekolah.

Coba deh kumpul dengan sesama bayi waktu di bangsal rumah sakit. Bisa juga dibikin reuni ‘kan? Dulu kita pernah jadi bayi di rumah sakit itu, ya, reuni saja dengan bayi lain yang lahir di hari yang sama. Ini seru dan sepertinya baru terjadi lho ya!

Hubungan tidak resmi antara laki-laki dan perempuan berawal dari media sosial, ini salah satunya. Berkembang di WA. Masuk di Telegram yang bisa otomatis menghapus chat itu. Chat-chat terus-menerus, dan hubungan itu makin tenggelam dalam angan-angan yang dalam.

6. Susah Berdoa Menjelang Buka Puasa

Ketika menjelang buka puasa, justru disunnahkan untuk berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ya, doa apa saja, yang penting berguna untuk dunia dan akhirat.

Saat buka puasa bersama, yang lebih banyak mengobrol, cerita sana-sini, sini-sana, eh, terlewatkan waktu untuk berdoa. Kalaupun ada waktu, mau di mana tempatnya? Sementara kita sudah di meja makan, menghadapi aneka macam makanan seabrek-abrek.

Jika kita mengangkat tangan untuk berdoa, mungkin kita akan merasa malu. Dilihati teman-teman di situ. Pada akhirnya, tidak jadi deh berdoa. Padahal, di situlah waktu mustajabnya. Seperti dalam hadits berikut ini:

 ﺛَﻼَﺛَﺔٌ ﻻَ ﺗُﺮَﺩُّ ﺩَﻋْﻮَﺗُﻬُﻢُ ﺍﻹِﻣَﺎﻡُ ﺍﻟْﻌَﺎﺩِﻝُ ﻭَﺍﻟﺼَّﺎﺋِﻢُ ﺣَﺘَّﻰ ﻳُﻔْﻄِﺮَ ﻭَﺩَﻋْﻮَﺓُ ﺍﻟْﻤَﻈْﻠُﻮﻡِ ‏

“Ada tiga do’a yang tidak tertolak: doa pemimpin yang adil, doa orang yang berpuasa sampai ia berbuka, doa orang yang terzhalimi.” (HR. Tirmidzi no. 3595, Ibnu Majah no. 1752. Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Hibban dalam shahihnya no. 2408 dan dihasankan oleh Ibnu Hajar).

Doa orang yang berpuasa sampai dia berbuka, tidak ditolak oleh Allah, berarti peluang diterima dan dikabulkannya lebih besar. Namun, justru tenggelam oleh banyak percakapan yang sia-sia.

7. Saya Juga Tidak Diundang

Alhamdulillah, pada Ramadhan ini, saya hanya mendapatkan satu kali undangan buka puasa bersama. Itupun di kantor. Dan, karena rapatnya di kantor juga tidak terlalu penting, maksudnya tidak berkaitan langsung dengan subbagian saya, maka saya tidak mengikutinya, tanpa izin ke pimpinan.

8. Fokuskan Saja ke 10 Hari Terakhir

Hari gini masih mau buka puasa bersama. Mungkin akan lebih baik kalau difokuskan saja untuk ibadah, sebab ini memasuki 10 hari terakhir. I’tikaf di masjid adalah ibadah yang agung. Ibadah yang disukai oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dilanjutkan dengan istri-istri beliau atau Ummul Mukminin.

Tanpa terasa Ramadhan sudah semakin akan meninggalkan kita. Terasa sedih? Jika kita merasa sedih, Insya Allah kita termasuk orang yang beriman. Semoga juga menjadi orang yang bertakwa.

Kesimpulan

Jadi, apa acara buka puasa bersama itu selalu terlarang? Oh, tidak selalu lho ya! Tempat yang paling bagus adalah di masjid. Silakan jor-joran menggelontorkan hidangan buka puasa di situ. Gampang kalau di masjid. Habis beberapa teguk dan suap makanan ringan, langsung sholat Maghrib berjamaah.

Lanjut dengan makan malam yang waktunya tidak sampai adzan Isya, lah. Kalau mau sekalian sholat Isya berjamaah dan tarawih plus witir nanti, oke juga. Jangan lupa bawa sikat gigi dari rumah ya!

Selain itu, peluang untuk terjadinya percampuran laki-laki dan perempuan akan jauh berkurang. Yang laki-laki akan kumpul sesama laki-laki, perempuan dengan perempuan. Mereka terpisahkan dengan hijab di masjid. Enak, saling menjaga pandangan.

Ghibahnya masih ada? Kalau mau dilakukan, ya, ada-ada saja cara untuk ghibah. Tapi, pertanyaannya adalah, ini di masjid lho! Masa mau ghibahi orang?

Baca Juga: Usaha Lokal Menangkal Pandemi Global Melalui Yuk Tukoni yang Fenomenal

Share This:

6 Comments

  1. Niatx saya akan tulis tentang bukber hari ini pak Rizky, secara semalam teman teman saya ngundang bukber, dan saya paling gak bisa buka puasa selain d rumah, alasan pertama pak Rizky paling banyak terjadi, magrib sdh pasti hilang 😭, kecuali d mesjid.

  2. Setuju bnaget Mas. Karena banyak madorotnya bukber itu m3ndingan di rumah aja kalo gak di mesjid.

  3. Sudah lama tidak membaca tulisan Pak Rizky
    Saat berkunjung lagi, eehhh dapat ilmu dan teguran makjleeeeb di hati… Heheheheh

    Terimakasih sudah berbagi pengalaman Pak rizky
    Sehat selalu yaaa

Silakan tinggalkan komentar

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi dengan benar.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!